Kupas Tuntas Alergi Makanan pada Anak



Daniel, putra Ann Wood, nyaris meninggal di usia 2 tahun gara-gara makan camilan! Mulanya, Wood tidak khawatir ketika baby sitter mengadu Daniel muntah setelah makan sandwich bersalut selai almond. Setelah 15 menit, si kecil diare. Kondisinya makin parah, sehingga terpaksa dibawa ke rumah sakit. Selain sesak napas, wajah Daniel penuh bilur-bilur merah! Paramedis menyatakan, ia terserang syok anafilaksis atau kondisi dimana tenggorokan membengkak, sehingga saluran udara tertutup dan tekanan darah merosot secara drastis. Paramedis menyuntikkan stimulan epinefrin dan steroid untuk menghentikan peradangan. Ternyata, Daniel alergi terhadap kacang.

Kini, Daniel duduk di kelas 2 SD, dan ternyata 5 anak di kelasnya selalu membawa EpiPens (tabung semprot berisi cairan yang mengandung epinefrin) ke sekolah. Ini bukan hal aneh! Di Amerika, 1 dari 12 batita mengidap alergi makanan, serta sekitar 150 batita meninggal dunia setiap tahun karenanya. Di seluruh dunia, kasus alergi makanan pada anak meningkat sampai 2 kali lipat selama 10 tahun belakangan ini.

Dr. Widodo Judarwanto, Sp.A, dari Children Allergy Center, Rumah Sakit Bunda, Jakarta, mengatakan, memang belum tersedia data spesifik yang menunjukkan angka kenaikan penderita alergi di Indonesia. Meski begitu, jumlah pasien anak yang datang karena keluhan alergi kian bertambah dari waktu ke waktu.

“Meningkatnya kasus alergi terhadap makanan adalah bagian dari melonjaknya kasus alergi secara umum di seluruh dunia,” ujar Scott Sicherer, M.D., penulis Understanding and Managing Your Child’s Food Allergies. Walau tidak jelas penyebab di balik kecenderungan ini, banyak ahli menyodorkan hipotesis yang terkait dengan kondisi kebersihan. Dalam kehidupan modern ini—sulit ditemukan kondisi air kotor karena tidak difilterisasi, debu, serta hewan berkeliaran—sehingga sistem imunitas seseorang melemah dan bereaksi secara berlebihan terhadap hal yang sebetulnya tidak berbahaya. Hasilnya: Bahkan sesuatu yang sepertinya tidak berbahaya (seperti kacang!), bisa mengakibatkan pertahanan tubuh bereaksi secara tak terkendali. Seiring sel-sel imunitas tubuh yang overeaktif melepaskan histamin dan zat-zat kimia lain yang terkait dengan peradangan, tubuh juga memperlihatkan gejala, seperti bintik-bintik merah, gatal, diare, dan, dalam kasus tertentu, anafilaksis.

Menurut dr. Widodo, teori ini hanya salah satu dari banyak sekali hipotesis seputar penyebab alergi. “Hal lain yang juga dicurigai memicu alergi adalah polusi dan jenis makanan yang kini semakin beragam. Dulu, jenis makanan tidak sebanyak sekarang, sehingga paparan anak terhadap zat penyebab alergi lebih sedikit,” jelasnya.
Juga, teori higienitas yang dijelaskan di atas masih belum bisa dipastikan sebagai penyebab alergi. “Penelitian dilakukan dengan cara meneliti jumlah penderita alergi di kota - yang relatif higienis, dibandingkan di desa - yang terbilang lebih rendah tingkat kebersihannya. Hasilnya? Jumlah penderita di kota lebih banyak dibandingkan di desa. Dan, ada jauh lebih banyak jenis makanan di kota dibandingkan di desa. Jadi, masih belum pasti juga bahwa alergi makanan semata-mata disebabkan lingkungan yang terlalu steril,” ujar dr. Widodo.

Berikut langkah untuk mengurangi risiko anak mengalami alergi makanan, plus cara mengatasinya:

Warisan keluarga
Hal pertama yang perlu Anda telusuri adalah ada atau tidaknya riwayat alergi dalam keluarga. “Semakin banyak anggota keluarga yang mengidap alergi, semakin besar pula risiko anak Anda menderita hal serupa,” ujar Dr. Sicherer.

Dr. Widodo menambahkan, ada 3 penyebab dari alergi makanan, yakni riwayat genetik, adanya ketidakmatangan saluran pencernaan, dan paparan makanan yang bersifat alergen terlalu dini. Catatan: Kedua penyebab pertama tersebut akan membaik ketika anak berusia 2-7 tahun.

Strategi lain untuk menghindari alergi adalah menunda pemberian makanan padat hingga si kecil berusia 6 bulan. Penelitian menemukan, hal ini terbukti bisa mengurangi risiko anak terserang alergi makanan. Bagi ibu menyusui, meski sejumlah penelitian menyatakan tingkat efektivitasnya tidak terlalu besar, mengurangi asupan makanan yang bersifat alergen dari menu sehari-hari bisa membantu menjauhkan anak dari paparan makanan alergen.

Kenali gejala dan respon anak
Mendeteksi si kecil mengidap alergi adalah perjuangan tersendiri. Leslie Norman-Harris dari Woolwich Township, New Jersey, ingat ketika Camryn (4 tahun) makan udang. “Begitu bilang mulutnya gatal, saya dan suami langsung menyadari apa yang terjadi,” ujarnya. Untunglah, gejala tidak bertambah parah, dan sejak itu Camryn tidak boleh makan udang.

Gejala lain (yang hampir selalu muncul beberapa menit setelah makan), adalah:
• Mual
• Muntah
• Diare
• Gatal (tenggorokan, mulut, mata, kulit, dan telinga)
• Bibir bengkak
• Ruam merah (bintik atau bentol besar seperti eksim)
• Tenggorokan tersumbat (sulit menelan atau bernapas)
• Lidah bengkak dan memenuhi mulut
• Dada sakit
• Pusing
• Wajah pucat atau membiru, denyut nadi melemah dan kehilangan kesadaran.

Pada reaksi alergi ringan, seperti sakit perut atau ruam merah, perhatikan kondisi si kecil bila keadaannya memburuk, dan hubungi dokter. Untuk meredakan rasa kurang nyaman, banyak dokter merekomendasikan antihistamin sesuai dosis dan berat badan anak. Jika anak mengalami reaksi alergi relatif berat, seperti tenggorokan tersumbat, bibir membengkak, atau kehilangan kesadaran, segera hubungi nomor darurat rumah sakit. Bicarakan pada dokter apakah Anda perlu menyimpan epinefrin.

Deteksi dan terapi    
Jika Anda curiga si kecil mengidap alergi, berkonsultasilah dengan dokter, terutama spesialis di bidang alergi. Dokter akan menanyakan gejala untuk mendeteksi adanya pola tertentu. Juga, ia akan melakukan skin prick test, yaitu mengoleskan sejumlah kecil alergen pada kulit, atau tes darah untuk mendeteksi keberadaan antibodi yang terkait dengan reaksi alergi.

Hingga kini, performa tes alergi belum sempurna, Hugh Sampson, M.D., direktur Jaffee Food Allergy Institute di Mount Sinai School of Medicine, New York, menyarankan melaksanakan tes alergi sekadar mengkonfirmasi kecurigaan terhadap alergi makanan tertentu.

Begitu tahu si kecil alergi, paling baik menghindarinya. Jika anak terlanjur makan makanan itu, ikuti instruksi dokter. Bisa jadi, Anda perlu memberinya antihistamin atau suntikan epinefrin.

Terapi pengobatan masih dipelajari, seperti memberikan kekebalan dengan cara memberi makanan penyebab alergi dalam dosis tertentu bersamaan dengan asupan zat yang mampu menekan reaksi imunitas tubuh. Pengobatan lainnya adalah memberi makanan penyebab alergi dalam porsi kecil, yang ditambah jumlahnya dari waktu ke waktu.


PAR 0308 


   Komentar

  
200 karakter tersedia

** Dengan meng-klik tombol "kirim" berarti kamu telah menyetujui Privacy Policy & Disclaimer kami.
 
   Kirim ke Teman


 
200 karakter tersedia
** Jika sudah login, email akan terkirim dengan nama anda.