Membesarkan Anak Masa Kini

Zaman dulu dan sekarang memang sudah berbeda. Dulu, perempuan dituntut untuk memenuhi aspek domestik alias hal-hal yang berhubungan dengan rumah tangga. Dan, ini berarti mengurus rumah, memastikan seluruh anggota keluarga mendapat makanan terbaik, mengasuh anak, dll.

Kodratnya memang perempuan yang berada di ‘sarang’ atau rumah. Nah, laki-lakilah yang berurusan dengan aspek publik, seperti bekerja, berkarir, bersosialisasi, mendapat pendidikan, berpolitik, dll.

Sekarang ini, keadaan sangat berbeda. “Baik perempuan maupun laki-laki punya kewajiban untuk memenuhi berbagai tuntutan di aspek domestik dan publik. Dalam porsi yang sama! Kedua ranah tersebut memang harus bisa dipenuhi oleh 2 gender tersebut. Jadi, laki-laki yang dulu asyik berkiprah di aspek publik, sekarang dituntut pula piawai di aspek domestik.

Misalnya, bisa memasak sendiri, mengurus rumah sendiri (termasuk membersihkannya), mengasuh anak, serta menjadi partner dari pasangannya. Suami saya juga bisa masak, kok. Kita gantian saja. Saya tanya sama anak, ‘Enakan masakan mama atau papa?’ ‘Sama, kok,’ katanya. ‘Ahhh.. Itu karena kamu sayang sama papa aja,’ kata saya. ‘Rasanya memang sama, tapi Mama lebih konsisten daripada papa.’ Bahkan, mereka belajar masak dari ayahnya,” kata Ratih Andjayani Ibrahim, MM, psikolog, serta juga Pendiri dan Direktur Personal dari Personal Growth

Jadi, baik laki-laki maupun perempuan masa kini memang berkontribusi dalam aspek ekonomi dan sosial untuk keluarga. Ekonomi karena dua-duanya mencari nafkah dan sosial sebab keduanya harus tampil di publik. Di sini, Ratih dan suami bahkan saling support peran saat dibutuhkan.

Misalnya, ada pertemuan di sekolah anak. Ratih ada meeting yang tidak bisa ditunda lagi. Karena suami juga available, ya, dialah yang pergi ke sekolah. Yang praktis saja. Dulu, kan, sekolah anak menjadi kapling perempuan. Tak heran kalau dia selalu pontang panting.

Meski perempuan makin mandiri dan punya bargaining power yang cukup tinggi, mereka harus tetap melihat pasangannya sebagai the man of the house. Itu sebabnya mengapa laki-laki harus tampil sebagai laki-laki dan tahu benar apa yang harus dilakukan sebagai laki-laki, baik pada saat ini dan di masa mendatang.

"Saya sadar kalau membesarkan anak laki-laki, terutama anak-anak saya, penuh tantangan. Makanya, saya membekali mereka 3 hal, yakni harus rajin (malas, tuh, dosa), harus jujur, dan menghargai orang lain (terutama orang yang lebih tua),” kata Ratih.

 





Follow Us

angket

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia