Atasi Ego Balita



Saat asyik bermain balok kegemarannya, Nita yang genap berusia 3 tahun sangat marah ketika ada anak lain mengambil kepingan balok yang sedang disusunnya. 

“Nita, itu khan mainan balok milik Rico. Kita kembalikan ya. Kamu main punyamu sendiri,” bujuk sang ibu. Bukannya dikembalikan, Nita justru marah dan membuang kepingan balok itu. Tentu Rico tak tinggal diam dan ikut marah. Pertengkaran pun pecah.

Orang lain juga bisa

Balita 3 tahun yang cenderung egosentris atau egois, sebenarnya masih sulit memahami bahwa orang lain bisa marah jika ia bersikap tak menyenangkan. Tak masalah, Anda bisa menjadi “jembatan”. Sikap ibu Nita patut Anda tiru. Balita pun belajar ada orang lain yang bisa marah juga.

Saat  balita bersikap manis, misalnya memberikan kue pada temannya, Anda pun bisa menerangkan situsi emosi temannya tersebut. Katakan, teman tersebut pasti senang jika ia bersikap manis, seperti memberi sepotong kue. Atau jika temannya sedih, ajarkan juga situasi apa yang tengah dialami temannya. Tindakan ini bisa menumbuhkan sikap empati dalam dirinya

Lewat bermain

Selain mengenal emosi orang lain dengan mengatakan secara langsung seperti diatas, Anda juga bisa mengajaknya bermain peran. Misalnya, Anda berperan sebagai anak yang tidak mau mandi dan balita berperan sebagai Anda. Lihat bagaimana ia memilih kata dan mengambil sikap. Anda bisa terpingkal-pingkal melihat caranya “memotret” Anda saat menyuruhnya mandi. Selain itu, tentu ia juga bisa belajar bahwa Anda juga bisa kesal ketika ia tak mau mandi.

Anda juga bisa membuat skenario bersama balita 3 tahun dan mengajak dia bermain mengenakan kostum lucu. Skenario bisa berupa situasi di luar keseharian Anda, seperti saat putri raja kehilangan mahkota kesayangan, atau saat pangeran kecil mendapatkan seekor anjing kecil. Seru sekaligus mengajak balita belajar empati! (WIT)


Baca juga:
45 Fakta Bayi Baru Lahir
Feng Shui Kamar Bayi
Tanda Lahir

 

 

Follow Us

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia