Bagaimana Caranya Mengajarkan Anak Memaafkan Orang Lain?



Rebutan mainan atau pukul-pukulan adalah hal yang biasa dilakukan balita. Anda yang melihat adegan ini akan segera memisahkan pertikaian, serta menyuruh anak minta maaf dan saling memaafkan.

Anak-anak harus baikan, karena sikap baik dan kerja sama akan membuat mereka berteman dengan nyaman.

Benarkah si kecil berpikir demikian?

Anak usia ini masih berpikir egosentris. Ia masih menggunakan sudut pandangnya sendiri untuk melihat dan menilai segala sesuatu.

Memahami bahwa orang lain bisa marah, jika ia bersikap tidak menyenangkan, belum dapat dilakukannya.

Yang sering ia alami adalah temannya marah, ia marah, menangis, permainan terhenti sejenak, kemudian mereka berbaikan lagi.

Inilah dunia anak-anak. Tanpa intervensi orang tua, anak-anak belajar memahami dan memaafkan.

Meski demikian, anak perlu belajar kata “maaf”, yaitu berbesar hati untuk memaafkan dan meminta maaf.

Begini caranya!

 
  • Beri contoh cara memaafkan
Orang tua adalah contoh terbaik untuk meminta maaf dan memaafkan.

“Nak, maaf, ya, Mama merusak gambarmu. Tadi Mama nggak sengaja menumpahkan jus buah di atas gambarmu. Maaf, ya, Sayang.”

Balita sangat mudah memaafkan dan ia akan meniru Anda untuk meminta maaf.

Itu sebabnya Anda pun harus bisa memaafkan si kecil ketika ia tidak sengaja merusak barang milik Anda.

Berikan maaf dengan tulus, karena anak juga tak pernah menghitung kesalahan Anda terhadap dirinya.

 
  • Berikan alasan harus memaafkan
Alasan kenapa ia harus memaafkan temannya perlu Anda kemukakan kepada anak.

Anak hanya paham bahwa ada orang lain yang baru saja menyakiti dirinya dan membuat ia marah. Yang ia pikirkan saat itu, “Aku marah, aku kesal, aku sakit.”

Kalau Anda meminta anak memaafkan orang lain usai mereka minta maaf kepadanya, ia pasti bingung.

Berikan penjelasan sederhana, seperti, “Mungkin temanmu tidak sengaja menendang bola ke arahmu. Yuk, kita tanya saja kenapa ia melakukan itu.”

Jelaskan juga bahwa usai ia memaafkan, ia tidak akan merasa marah lagi.

 
  • Ajari ungkapkan perasaan kepada orang lain
Proaktif, itu kuncinya! Ajari anak berterus terang kepada orang yang membuat ia sakit hati.

Anda bisa jelaskan bahwa cara ini dipakai agar orang itu tahu apa yang dirasakan oleh anak Anda saat ini.

“Katakan kepada teman kamu, jika kamu tidak suka dan marah karena didorong-dorong.”

Si kecil akan sekaligus belajar berani mengemukakan pendapatnya kepada orang lain.

 
  • Tumbuhkan empati
Cara terbaik untuk membuat si kecil mau memaafkan adalah menumbuhkan empatinya.

Misalnya, ketika ia mau memukul teman bermainnya karena kesal tidak boleh meminjam mainannya. Saat si kecil meminta maaf, temannya tidak mau memaafkan dan tidak mau mengajak main bersama.

Tanyakan kepadanya, “Bagaimana perasaanmu?” Jika si kecil menjawab sedih, maka katakan bahwa itu yang juga akan dirasakan oleh temannya, jika ia tidak mau memberi maaf.

Jadi, ia tahu kalau ia tidak memberi maaf, maka anak yang meminta maaf pasti akan merasa sedih.

 
  • Berikan toleransi waktu
Setiap kali ada anak lain menyakiti atau minta maaf kepada si kecil, saat itu juga Anda menghampirinya, mengingatkan ia untuk memaafkan. Bahkan Anda cenderung memaksa anak langsung memaafkan.

Memang benar, bila si kecil harus diingatkan untuk memaafkan agar ia tidak lupa. Namun berikan juga ia toleransi waktu.

Ia butuh waktu untuk bisa memberi maaf dengan tulus tanpa terpaksa. Daripada memaksa, sebaiknya cari tahu apa yang membuat anak tidak mau atau menolak memaafkan.

Bila ia sudah siap, Anda bisa jadi perantara untuk membantu anak memaafkan dan mendamaikan kedua balita yang berseteru.

Usahakan juga agar Anda bersikap netral.

 
  • Beri pujian, bila anak berhasil memaafkan
Biasakan selalu melakukan ini. Memberi si kecil pujian merupakan ungkapan Anda atas keberhasilannya melakukan sesuatu sesuai harapan orang tua.

Pujian merupakan motivasi besar bagi anak untuk mengulangi tindakan memaafkan orang lain.

Bila si kecil tidak juga berhasil melakukannya, Anda tetap bisa memberikan pujian yang sifatnya mendorong anak agar bisa melakukannya di kemudian hari.

Misalnya, “Tidak apa, Nak. Kamu tetap kebanggaan Mama. Tapi Mama akan lebih bangga lagi, kalau besok kamu sudah mau memaafkan temanmu, ya.”

 

Follow Us

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia