Bantu Anak Meninggalkan Botol Susunya



Tahukah Anda, kebiasaan ngedot terlalu lama akan mengakibatkan keterlambatan berbicara pada anak? Psikolog perkembangan anak, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., menjelaskan bahwa hal itu karena, begitu menginjak usia 2 tahun, anak diharapkan sudah lebih mengembangkan kemampuan bicara yang lebih mahir daripada usia sebelumnya.

“Dan untuk mengembangkan kemampuan ini, selain stimulasi, anak juga perlu didukung dengan otot bicara atau oral motor yang memadai,” kata Vera. “Dengan terbiasa mengedot terlalu lama, otot bicara anak menjadi kurang terlatih. Proses pembentukan kemandiriannya pun bisa terganggu karena tidak terbiasa melepas ciri bayinya, seperti halnya dengan menyusu langsung dari payudara.”

Tentu Anda tidak ingin, kan, hal tersebut terjadi pada anak Anda? Untuk itu, mulailah menyapih botol susunya dengan langkah-langkah berikut ini:

1. Mama tetap perlu menentukan batas waktu sampai kapan anak boleh minum susu dari botol, sehingga dia mempunyai waktu untuk bersiap diri. “Gunakan alat bantu visual, seperti kalender, agar anak lebih jelas memahaminya,” saran Vera.

2. Jangan lupa jelaskan mengapa dia harus berhenti minum susu dari botol, misalnya karena sudah besar, mau sekolah, dan lain sebagainya. Ulangi penjelasan itu sampai anak terbangun motivasinya. “Gunakan buku cerita dengan tema yang relevan,” kata Vera.

3. Tidak perlu mengganti spout botol susunya. Biarkan saja kondisi spooutnya memburuk, lama-lama anak tidak mau pakai spoutnya lagi karena merasa jijik sendiri.

4. Ajak anak melihat alternatif selain botol untuk minum susu. Biarkan anak memilih gelas atau sedotan yang menarik baginya. Misalnya, yang ada gambar tokoh-tokoh kartun kesukaannya. Bila Mama ingin menyiasati dengan menggunakan gelas bermoncong, boleh-boleh saja. Namun, anak sebaiknya disapih langsung pakai gelas biasa, agar nanti tak mengubah kebiasaannya lagi, dari gelas bermoncong ke gelas biasa.

5. Ajak suami Anda, si mbak, dan kakek-neneknya untuk sepakat tidak memberinya botol susu. “Tergantung bagaimana lingkungan menyikapinya. Sulit itu karena perlakuan lingkungan yang tidak konsisten,” kata Vera. “Bisa saja anak lepas sendiri dari botol susunya, tetapi tetap perlu dukungan dari lingkungan untuk mendorong anak naik ke tahap perkembangan selanjutnya, mendorong anak untuk lebih mandiri sesuai usianya.”

6. Bila Anda dan keluarga sedang di luar rumah, jangan bawa botol susunya. Pilihannya hanya menggunakan sedotan, atau tidak minum susu. Dan, sama halnya menyapih anak dari payudara Anda, melepaskan dia dari botol susu pun harus dilakukan secara bertahap dengan penuh kehangatan. Karena bagaimana pun, perubahan dari suatu kebiasaan ke kebiasaan lain tak bisa terjadi secara instan.


7. Dan, yang paling penting, hindari membandingkannya dengan anak lain yang sudah stop menyusu dari botol, karena hal itu tidak membantu sama sekali.

8. Bila anak masih juga belum mau minum susu dari gelas, jangan dipaksakan. Tetap latih ia secara bertahap sampai dia bisa menghilangkan kebiasaannya menyusu dari botol. Paksaan hanya akan membuat anak merasa tertekan, cemas berlebihan, dan semakin lengket dengan botolnya, karena bagi anak, botol susu itu sebetulnya sebagai pemberi rasa aman bagi dia. Buat saja target-target kecil yang mudah dicapai anak, saran Vera. Misalnya, botol susu hanya untuk malam saja, di siang hari dia menggunakan gelas atau sedotan. Satu atau dua minggu kemudian, baru dikurangi lagi. Mama juga bisa menyiasati dengan mengganti isi botol, tak lagi berupa susu, tetapi misalnya, air jeruk, air putih atau air teh. Lama-lama, karena rasa yang didapatkan berbeda, dia akan merasa tak nyaman, dan kebutuhannya untuk mengisap pun jadi berkurang.

 

Follow Us

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia