Bijak Hadapi Anak Aktif Bertanya


“Ini namanya apa, Ma?” tanya anak saat di dalam mobil.
“Itu gigi mobil.”
“Mana giginya? Kok nggak keliatan?” tanyanya lagi.
“Iya itu tidak seperti gigi manusia, tapi namanya gigi mobil. Supaya mobilnya bisa jalan.”
Kok mobilnya jalan pakai gigi? Kenapa nggak pakai roda?”

Anda pernah menerima pertanyaan dari anak yang menggelitik semacam itu, Ma? Dan, apakah Anda juga selalu berhasil menjawabnya sekaligus membuat ia puas dengan jawaban Anda? 

Atau Anda merasa kewalahan menjawab pertanyaan-pertanyaan ‘ajaib’ yang meluncur dari bibir mungilnya. Misalnya, ‘Dari mana asalnya bayi?’ ‘Tuhan itu apa, Ma?’ ‘Kenapa susu warnanya putih?’ dan pertanyaan-pertanyaan lain yang membuat kening berkerut.

Jika anak Anda aktif mempertanyakan banyak hal seperti itu, wajar, kok. Karena itu pertanda otaknya sedang bekerja sekaligus mekanisme alami dari anak ketika ia berhadapan dengan dunia baru. Pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan juga menunjukkan bahwa anak memiliki rasa ingin tahu yang besar.

Menurut Carol Faulkner, Ph.D., psikolog anak di Bradley Hospital di Providence, AS, “Anak kecil itu tak ubahnya orang dewasa di negara asing. Mereka punya berbagai pengalaman dan sensasi baru setiap hari yang kadang menyenangkan, kadang membingungkan.”

Nah, tugas Anda sebagai orang tua adalah tak sekadar memberi jawaban untuk membuat anak semakin tahu sekaligus memahami banyak hal.

Tapi juga meresponnya dengan sikap yang sabar dan bijak. Meski Anda terkadang nyaris kesal karena ia tak berhenti bertanya, tetap layani ia dengan sikap positif dan hindari melabeli anak bawel atau cerewet yang dapat mematikan keingintahuannya.

Justru dari keaktifan anak bertanya – walaupun seringkali membuat bingung orang tua -  dapat dijadikan sebagai alarm bahwa orang dewasa pun perlu belajar banyak hal. 

Selain itu, memberi nutrisi untuk mengoptimalkan kinerja otak anak juga menjadi strategi yang dapat Anda terapkan. Apalagi usia balita merupakan tahap emas perkembangan otak dan penentu kehidupan selanjutnya.

Salah satu sumber nutrisi yang lengkap dan sempurna adalah susu. Karena susu mengandung vitamin dan mineral yang sangat dibutuhkan tubuh dan otak anak. Antara lain karbohidrat, protein, kalsium, lemak, vitamin, serta enzim-enzim lain yang belum tentu didapat dari jenis makanan atau minuman lain dalam satu sajian.

Apabila membahas mengenai susu terbaik untuk anak, tentu saja ASI jawabannya. Namun, setelah melewati usia tertentu (maksimal 2 tahun) anak tidak mungkin hanya bergantung pada ASI, kan? Untuk itu, agar kebutuhan nutrisinya tetap terpenuhi, memberikan ia susu sapi bisa jadi salah satu alternatif.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana memilih susu sapi yang paling baik untuk anak? Jika Anda setuju dengan istilah yang alami adalah yang terbaik, Anda dapat memberikan anak susu cair segar. Susu cair segar masih mengandung unsur-unsur alami yang utuh dan belum melewati proses pengolahan yang panjang. 

Sebagai pilihan susu cair segar untuk anak, Anda dapat memberikan  Ultra Mimi yang bermutu sangat baik karena langsung berasal dari peternakan sapi.

Begitu susu cair segar diterima di pabrik lalu diproses menggunakan teknologi UHT (Ultra High Temperature). Proses ini hanya memakan waktu selama 2-4 detik pada suhu 135-140 derajat Celcius. Tujuannya untuk membunuh bakteri dan spora dalam susu tanpa membuat kandungan gizinya terkikis.

Jadi, dengan mengonsumsi Ultra Mimi, selain mendapat nutrisi yang berkualitas, anak juga memperoleh manfaat kesegaran dari susu yang masih alami. Selain itu Ultra Mimi juga dikemas dengan menggunakan kemasan aseptik 6 lapis yang dapat membuat Ultra Mimi bertahan selama 10 bulan tanpa bahan pengawet.

Jika mengacu pada Angka Kecukupan Gizi (AKG) anak usia 1-6 tahun sebanyak 1300 kkal, porsi ideal anak mengonsumsi susu adalah sebanyak 500ml per hari. Setara dengan 4 pak Ultra Mimi.

Selain memuat vitamin dan  mineral penting, Ultra Mimi juga mengandung AA dan DHA yang alami. Yaitu senyawa yang sangat dibutuhkan dalam pembentukan sistem saraf yang menunjang kecerdasan otak anak serta fungsi penglihatan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sepakat jumlah DHA yang direkomendasikan untuk anak adalah sekitar 20 mg per kilogram berat badan.


Nah, jika anak semakin cerdas dan tambah aktif bertanya, selain memberi jawaban yang tepat, Anda juga perlu bijak, Ma. Bukankah memang sudah tugas orang tua membimbing anak semakin berkembang dengan daya pikirnya?

Untuk memudahkan Anda menjawab pertanyaan-pertanyaan ‘ajaib’ dari anak, Anda dapat berselancar di situs ini www.ultramimi.com/wikidspedia. Sudah siap mendukung calon ilmuwan kecil Anda? 

WEBTORIAL

Foto: 123rf