Kapan Si Kecil Boleh Minum Teh?


Dalam pedoman pemberian MPASI, WHO menganjurkan untuk tidak memberikan teh pada anak di bawah usia 2 tahun.


Secara umum, sebetulnya teh tidak berbahaya bagi anak bila dikonsumsi tidak berlebihan. Hal ini karena dalam teh ada senyawa yang bernama tanin. Tanin dapat mengikat beberapa logam seperti zat besi, kalsium, dan aluminium, lalu membentuk ikatan kompleks secara kimiawi.

Karena dalam posisi terikat terus, maka senyawa besi dan kalsium yang terdapat pada makanan sulit diserap tubuh.
 
Menurut Prof. DR. Ali Khomsan, ahli gizi Institut Pertanian Bogor, ini pedoman bila Anda ingin memberikan si kecil teh:
 
1. Cukup Satu Gelas Sehari
Ini juga berlaku untuk minuman teh dalam kemasan kertas, botol, atau plastik. Asal tidak diminum berlebihan, kandungan gula dalam teh kemasan tidak perlu dikhawatirkan dapat menyebabkan obesitas. Ini karena satu porsi minuman teh dalam kemasan, misalnya, rata-rata mengandung 150 kalori, padahal kebutuhan anak sekitar 1.500 kalori. 
 
2. Perhatikan Kepekatannya
Sebaiknya jangan terlalu kental atau pekat. Untuk anak-anak, proses penyeduhan cukup 1 - 2 menit. Cukup bila aroma dan rasanya sudah sedap. Jika menggunakan teh celup, celupkan beberapa kali saja. Semakin pekat teh maka semakin banyak kandungan tanin di dalamnya.
 
3. Perhatikan Waktu Minum Teh
Hindari mengonsumsi teh setelah makan. Jika ini diabaikan, maka dikhawatirkan anak akan mengalami anemia, kekurangan zat besi sehingga membuatnya lelah, lemah, letih, dan mengurangi konsentrasi dalam belajar.
 
Hindari juga meminum teh malam hari atau sebelum tidur karena teh mengandung kafein. Senyawa tersebut mempunyai daya kerja sebagai stimulan sistem saraf pusat yang menghasilkan peningkatan aktivitas mental. Anak kemungkinan jadi sulit tidur. 
 
 
 
(YENNY GLENNY)
FOTO: PIXABAY
 
 

 
 

 

Follow Us

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia