Kenali Fobia Spesifik pada Balita

Balita dengan fobia spesifik memiliki ketakutan atau kecemasan berlebih terhadap suatu objek spesifik, seperti badut, dokter, atau hewan tertentu.
 
Anak tidak berani berhadapan dengan dokter, badut, atau hewan tertentu, bukan berarti dia penakut. Bisa saja anak Anda memiliki fobia spesifik. Hal tersebut sangat normal terjadi di usianya. Mengutip dari Pschology Today, fobia spesifik bisa mulai terjadi di masa anak-anak.
 
Apa itu Fobia Spesifik?
The Childmind Institutes menjelaskan fobia spesifik adalah gangguan yang dicirikan dengan rasa takut yang berlebihan dan irasional terhadap suatu objek atau situasi yang sebetulnya tidak berbahaya.
 
Anak-anak dengan fobia spesifik tidak dalam kondisi cemas secara umum. Namun, mereka hanya menjadi begitu ketika dihadapkan dengan hal tertentu yang menyebabkan mereka ketakutan, entah itu anjing, kegelapan, badut, darah, atau suara keras. Rasa takut dapat dipicu secara langsung dengan menghadapi benda itu sendiri, atau secara tidak langsung, misalnya melihat foto atau mendengar lagu tentang benda yang ditakuti.
 
Mengenal Fobia Spesifik
Studi literatur yang dirilis oleh Departemen Psikiatri Penn Behavioral Health dari Perelman School Of Medicine, University of Pennsylvania menyebutkan bahwa ada lima tipe fobia spesifik, yakni :

  • Animal Type

adalah fobia kepada hewan seperti anjing, kucing, kecoak, cicak, atau laba-laba

  • Natural Environmental Type

adalah fobia kepada lingkungan seperti ketinggian, hujan, petir atau kilat

  • Blood-Injection-Injury Type

adalah fobia melihat darah, melakukan tes darah, disuntik atau bahkan menonton acara televisi yang ada adegan melibatkan darah

  • Situational Type

adalah fobia pada situasi tertentu misalkan keramaian, berada di pesawat atau di lift, kegelapan, atau berada di ruang tertutup

  • Other Type

adalah fobia terhadap hal-hal lain seperti karakter berkostum seperti badut, atau suara keras dari balon yang meletus
 
Gejala Fobia Spesifik dan Dampaknya pada Anak
Fobia berbeda dengan ketakutan masa anak-anak biasa. American Psychiatric Association menunjukkan gejala fobia spesifik :

  • Ketakutan terus-menerus yang berlebihan atau tidak beralasan, yang terjadi oleh kehadiran objek atau situasi tertentu

  • Serangan panik dan cemas mendadak begitu melihat hal yang membuat takut. Pada anak-anak, kecemasan dapat diekspresikan dengan tangisan, tantrum, berdiam diri atau tidak mau lepas dari orang tua.

  • Orang tersebut mengakui bahwa ketakutannya sebenarnya berlebihan atau tidak proporsioal dengan ancaman yang sebenarnya yang ditimbulkan. Pada anak-anak, fitur ini mungkin tidak ada.

  • Cenderung menghindari objek-objek yang membuat fobia.

  • Rasa takut itu bertahan lama, biasanya berlangsung setidaknya selama enam bulan.

Lalu apakah fobia spesifik pada balita punya dampak tertentu? Menurut The Childmind Institute, anak-anak dengan fobia spesifik akan mengantisipasi dan menghindari hal yang memicu ketakutan mereka. Hal ini dapat berdampak pada terganggungnya aktivitas mereka. Misalnya saja mereka fobia terhadap dokter. Hal ini tentu sangat mengganggu apabila mereka sedang membutuhkan pemeriksaan atau pengobatan. Akan tetapi, fobia spesifik ini kecil kemungkinan untuk mengarah pada gangguan mental lainnya.
 
Cara Mengatasi Fobia Spesifik Si Kecil
Child Anxiety Network (www.childanxiety.net), menunjukkan hasil temuan dari beberapa penelitian bahwa 90% anak-anak mulai dari balita usia 2 tahun sampai 14 tahun setidaknya memiliki satu ketakutan spesifik. Tidak semua ketakutan mereka mengganggu aktivitas sehari-hari, dan tidak perlu mendapat perawatan psikologis.
 
Beberapa cara ini bisa dicoba untuk membantu si kecil yang memiliki fobia spesifik :

  • Dengarkan ketakutan anak

Dengan mendengarkan ketakutan anak, Anda bisa memahami alasan mengapa mereka takut dan tahu bagaimana harus membantunya. Di samping itu, ketika didengarkan, anak juga akan merasa lebih aman.

  • Mengenalkan anak pada sumber ketakutannya

Kadangkala, fobia pada anak disebabkan oleh hal-hal yang sepele atau juga bisa dari respons berlebihan orang-orang di sekitarnya. Misalnya saja ada temannya yang berteriak atau lari saat melihat cacing. Hal tersebut juga bisa memengaruhinya. Bantu anak mengenal sumber ketakutannya. Ajaklah ia membaca atau menonton informasi berkaitan dengan sumber ketakutannya. Jika memungkinkan, anda juga bisa memegang objek yang ia takuti di hadapannya untuk membuktikan bahwa tidak akan ada hal buruk yang terjadi.

  • Melatih anak mengatasi ketakutan

Berikan ia dukungan dalam mengatasi rasa takutnya. Apabila ia takut ketinggian, latihlah ia mengatasi ketakutannya. Apabila ia takut kegelapan, cobalah ajak ia untuk mematikan lampu dan menyalakannya kembali untuk melihat apa yang terjadi dalam gelap. Lakukan ini secara bertahap dan jangan dipaksakan.
Jika anak takut dokter, Anda bisa mengajaknya bermain dokter-dokteran. Atau biasakan diri Anda untuk memakai jas putih seperti dokter. Jika anak takut pada badut atau orang bertopeng, cobalah untuk mengajaknya bermain topeng-topengan.

  • Hindari Menertawakan Ketakutannya

Anak anda mungkin takut pada hal-hal yang sangat remeh dan dengan alasan yang sangat tidak masuk akal. Seringkali hal-hal tersebut memang konyol. Namun hindarilah untuk menertawakan mereka. Hal ini akan membuat mereka berkecil hati

  • Berhenti Menakuti

Jika mengetahui si kecil fobia terhadap sesuatu, jangan justru ditakuti. Seringkali kakak atau teman-teman usil menakuti si balita. Berikan pengertian kepada seluruh anggota keluarga untuk tidak menakutinya agar tidak memperparah fobianya.

  • Tidak Mendidik Anak dengan Ketakutan

Sering kali orang tua tanpa sadar mengatakan, “Kalau nakal nanti disuntik dokter, lho.” Atau, “Jangan ke ruangan itu, gelap. Hiii…, takut….” Hal-hal ini tentunya akan membuat anak berimajinasi negatif sehingga memunculkan ketakutan tertentu.
 
 
 
(LELA LATIFA)
 
FOTO: PIXABAY
 

 

Follow Us

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia