Pola Asuh Otoriter Saat Anak Makan


Gaya orang tua memberi makan anak ternyata amat memengaruhi hubungan anak dengan kegiatan makan di masa depan. Ada beberapa tipe gaya pengasuhan yang diadopsi orang tua. Salah satunya otoriter. Apa dampaknya pada anak?

Sesuai namanya, orang tua otoriter menerapkan peraturan kaku yang berlaku pada setiap acara makan. Semboyannya hanya satu, yaitu: “Habiskan apa pun yang tersaji di atas piring”! Bukan hanya mengatur porsi dan waktu makan, orang tua otoriter juga menyeleksi betul jenis makanan yang boleh dicicipi oleh anak. Anak hanya diizinkan menyantap jenis makanan sehat—atau jenis makanan apa pun yang lolos seleksi orang tuanya. Selain itu? Sama sekali tidak boleh!

Di satu sisi, penerapan gaya otoriter memang akan memungkinkan orang tua mengendalikan kualitas makanan yang masuk ke dalam tubuh anak.Tapi, jangan lupa, kegiatan makan itu bukan semata mata tentang mekanisme mengisi tubuh dengan ‘bahan bakar’. “Selain berguna memenuhi kebutuhan energi, acara makan juga berfungsi sebagai kegiatan untuk mengasah kemandirian anak sekaligus ajang berinteraksi dengan keluarga,”.

Penerapan gaya pengasuhan otoriter berpotensi memunculkan sejumlah kebiasaan berikut ini pada diri anak :
1. Jadwal makan yang waktunya selalu ditentukan oleh orang tua berpotensi menghambat kemampuan anak untuk mengenali sinyal lapar dan kenyang.

2. Kegiatan makan yang berada dalam suasana penuh tekanan akan membuat anak cenderung memiliki berat badan berlebih atau terlalu rendah.

3. Anak akan cenderung makan berlebihan ketika suatu saat mendapatkan akses pada jenis-jenis makanan yang biasanya dilarang.

4. Karena acara makan tidak terasa fun, anak kurang antusias terhadap makanan dan kegiatan makan. Anak yang lebih kecil juga akan cenderung menunjukkan perilaku rewel saat mendekati jam makan.

5. Anak cenderung berlama-lama ketika menyantap makanannya.

 

 

Follow Us

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia