Pola Makan Balita Berubah

“Lho, kok, makannya nggak habis?” “Aduh, berantakan sekali.” “Kok, sedikit, ya, makannya?” “Ya, ampun, lebih banyak yang tumpah daripada yang masuk ke mulut.” “Beda banget dengan waktu dia masih bayi.” Keluhan-keluhan ini sering kali dialami oleh Mama ketika anak sudah memasuki usia balita.
 
Di rentang usia 1-3 tahun, pola makan anak bisa mengalami perubahan. Porsi makannya menjadi lebih sedikit atau anak cenderung malas makan, menjadi hal yang harus Anda hadapi. Kenali lagi pola makannya yang baru dan pastikan porsinya cukup.
 
Apa yang Terjadi Padanya?
 
Ellyn Satter, seorang dietitian and family therapist dalam bukunya yang berjudul Child of Mine: Feeding with Love and Good Sense menyatakan jika anak terlihat makan lebih sedikit dari biasanya adalah hal wajar. Hal ini disebabkan oleh laju pertumbuhan anak-anak yang menurun atau cenderung melambat ketika memasuki usia balita.
 
Anak-anak di atas usia satu tahun akan mengalami kenaikan berat badan sebesar 1,6 sampai 3,3 kg per tahun dan kenaikan tinggi badan 5 hingga 9 cm per tahun. Jauh berbeda dengan pertambahan berat badannya saat masih bayi yang bisa 0,8-1 kg per bulan.
 
Hal ini tentu berkorelasi terhadap menurunnya energi yang dibutuhkannya. Sehingga, asupan yang dibutuhkan anak juga menurun. Inilah yang membuat Mama sering khawatir apakah si kecil makan dengan cukup.
 
Selain itu, di usia 1-3 tahun, akan semakin banyak keinginan anak untuk mengeskplor lingkungan sekitarnya. Yang dia inginkan adalah bermain, bermain, dan bermain. Hal ini tentu berpengaruh pada respons mereka terhadap makanan.
 
Anak mulai belajar untuk makan sendiri, cenderung tidak suka disuapi, atau memilih makanan yang mereka sukai saja. Jadwal makan juga mereka anggap sebagai waktu untuk eksplorasi. Anak akan bereksperimen dengan tekstur makanannya, juga ingin belajar menggunakan peralatan makan seperti orang dewasa. Alhasil, lebih banyak makanan yang tumpah dan hanya sedikit yang masuk mulut.
 
Nah, di usia inilah orang tua perlu menanamkan pola makan yang baik. California Food Guide menyarankan para orang tua untuk memberi contoh cara memperlakukan makan yang baik, memberikan makanan yang bervariasi dan cukup nutrisinya. Karena, usia 1-3 tahun adalah penentuan apakah anak akan menjadi picky eater, obesitas, atau pribadi yang bergaya hidup sehat.
 
Mengetahui Porsi yang Cukup
Bagaimana bisa Anda bisa mengetahui porsi makan si kecil cukup? Gunakan patokan porsi sebanyak ¾ sampai 1 mangkok atau sekitar 175-250 ml dalam sekali makan. Anda bisa memberi si kecil makanan 3-4 kali sehari dan ditambah selingan 1-2 kali sehari.
 
Berdasarkan rekomendasi angka kecukupan gizi anak Indonesia yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan, anak usia 1-3 tahun harus mendapatkan kalori sebesar 1125 kal/hari. Berikut ini adalah contoh takaran yang dikeluarkan oleh British Nutrition Foundation untuk memenuhi kecukupan kalori tersebut :

  • Karbohidrat (diberikan 3-5 kali sehari) : 2-4 sdm nasi, 1/4 sampai ½ buah kentang berukuran sedang, 2-4 sendok makan pasta, ½ sampai 1 lembar pancake, 3-5 sdm sereal,

  • Protein (diberikan 2-3 kali sehari) : ½ sampai 1 lembar daging sapi, ½ sampai 1 iris daging ayam, ½ sampai 1 butir telur, ¼ sampai 1 iris salmon, ¼ cangkir buncis masak, 2-3 sdm kacang-kacangan

  • Sayur (diberikan 3-5 kali sehari): ½ sampai 1 sdm brokoli, ½ sampai 1 sdm kembang kol, 2-6 buah potongan panjang wortel, ½ sampai 1 sdm bayam

  • Buah (diberikan 5 kali sehari) : ¼ sampai ½ buah apel berukuran sedang, ½ sampai 1 buah pisang, ¼ sampai ½ buah mangga, ¼ sampai ½ buah jeruk, ¼ sampai ½ buah pir, 3-8 buah anggur

  • Dairy food (diberikan 2-3 kali sehari) : 1 lembar keju, 1 cangkir yoghurt 125 ml, 1 cup susu,

Menerapkan Pola Makan yang Baik
Sebuah penelitian yang pernah dilakukan oleh Kementerian Pangan, Agrikultur dan Perlindungan Konsumen Jerman pada sejumlah keluarga muda di Jerman untuk mempromosikan healthy diets and physical activity mencontohkan beberapa penerapan pola makan yang dapat diberikan orang tua kepada anaknya. Beberapa di antaranya adalah :

  • Membuat jadwal makan yang harus ditepati untuk 3 kali makan utama dan 2 kali makanan selingan. Jangan membuat jadwal yang terlalu berdekatan. Dengan begitu, anak akan mulai belajar tentang rutinitas makan.

  • Makan bersama akan meningkatkan keinginan si kecil untuk menyantap menunya. Orang tua dapat menjadi role model yang mengajarkan anak tata cara makan yang baik. Ajarkan anak untuk fokus pada acara makan, jangan sampai ada gangguan, dari televisi, misalnya.

  • Berikan makanan yang bervariasi. Sama seperti orang dewasa, anak-anak juga akan bosan dengan makanan yang itu-itu saja. Apabila anak cenderung menolak rasa baru, maka kreasikan menu dengan mengombinasikan bahan yang biasa ia makan dengan sesuatu yang baru untuk mulai memperkenalkannya.

  • Jika anak menolak, belum tentu ia tidak suka makanan tersebut. Coba lagi di lain waktu. Tawarkan 10-15 kali kepadanya, sebelum memutuskan bahwa ia benar-benar tidak mau.

  • Apabila anak cenderung menolak makan, tawarkan ia menu dalam porsi kecil. Makan dengan porsi yang besar berpotensi membuat anak frustrasi.

  • Ajak ia untuk berbagi makanan dengan Anda. Tujuannya agar anak mengetahui bahwa apa yang Anda makan sama dengannya.

 
 
(LELA LATIFA)
FOTO: PIXABAY
 
 

 

Follow Us

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia