5 Alasan Si Batita Gemar Membenturkan Kepala

Pada umumnya benturan kepala ke dinding atau bidang lain tidak menyakiti batita Anda, karena bila ia merasa sakit, ia akan berhenti dengan sendirinya saat membenturkan kepalanya terlalu keras. Si kecil hanya akan membenturkan kepala sebatas kemampuan kepala bisa mentolerir rasa sakitnya. Anda juga tak perlu khawatir karena kebiasaan ini tidak akan mengganggu perkembangan otaknya atau menyebabkan cedera serius. Namun, tetap saja Anda harus memperhatikan kemungkinan anak celaka akibat perilakunya.

Sebagian anak batita dari seluruh dunia ternyata punya kecenderungan membenturkan kepala. Menurut data statistik dari Journal of The Academy of Psychiatry, 20% anak batita punya kebiasaan membentur-benturkan kepala ke tembok, lantai, atau kepala tempat tidur.

 
Sebagian anak batita dari seluruh dunia ternyata punya kecenderungan membenturkan kepala. Data statistiknya ada pada Journal of The Academy of Psychiatry, yang menyatakan 20% anak batita punya kebiasaan membentur-benturkan kepala ke tembok, lantai, atau kepala tempat tidur.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Waduh! Si Kecil Suka Membenturkan Kepala", https://nasional.kompas.com/read/2008/11/05/08441350/waduh.si.kecil.suka.membenturkan.kepal
5 alasan mengapa batita Anda gemar membenturkan kepalanya, antara lain:

1. Tantrum atau sikap negativistik. Anak-anak usia 1 - 3 tahun biasanya kesulitan menunda keinginannya, sehingga ketika ia menginginkan sesuatu, mereka berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkannya saat itu juga. Dan, tindakan membenturkan kepala merupakan salah satu bentuk rasa frustasi atau marah karena keinginannya tidak terpenuhi.

2. Rhythmic motor habit. Suatu kebiasaan gerakan motorik sebagai cara melepaskan ketegangan. Ajarkan si kecil cara melepas ketegangannya. Jika si kecil melakukannya sebagai media pelepas ketegangan, maka usahakan untuk menurunkan ketegangannya. Misalnya, dengan mengajarinya bernapas secara perlahan dan teratur, menyalurkan emosi dengan cara lain seperti menyanyi, menari, atau menggambar.

3. Kurang stimulasi. Kebiasaan ini juga ditemukan pada anak-anak yang kurang terstimulasi dengan baik, seperti buta, tuli, serta anak-anak yang kesepian dan bosan. Anak-anak ini membentur-benturkan kepala untuk mendapatkan stimulasi.

4. Infeksi telinga. Bisa saja, tindakan ini merupakan akibat dari rasa sakit akibat infeksi telinga yang dialami batita. Segera periksakan ke dokter ya, Ma.

5. Mencari perhatian. Latih terus kemampuan verbal anak dengan sering mengajaknya mengobrol, membacakan cerita, atau bernyanyi bersama. Dengan demikian ia bisa mengungkapkan dengan benar apa yang diinginkannya tanpa perlu mencari perhatian dengan cara membentur-benturkan kepala.

Melihat begitu banyak kemungkinan, orang tua sebaiknya mencari tahu penyebab anak membenturkan kepalanya. Coba saja Anda cermati kesehariannya, apakah ia melakukan kebiasaannya hanya di depan Anda, atau di setiap waktu. Observasi Anda sangat membantu diagnosa ahli, jika suatu saat dibutuhkan.

Stop dari Sekarang

 
Jika batita Anda membenturkan kepalanya karena tantrum atau mencari perhatian, sebaiknya pastikan benturan itu tidak menyakitinya. Abaikan perbuatannya jika Anda yakin ia akan baik-baik saja. Jika Anda terlihat panik karena perilakunya, dengan senang hati balita mengulangi perbuatannya kelak jika ia ingin Anda perhatikan.

Anda pun dapat mengajak anak melakukan kegiatan lain yang lebih menarik, untuk membantu ia lupa dengan kegiatannya membenturkan kepala.

Tapi bila Anda masih khawatir juga, tak ada salahnya melakukan upaya pencegahan, misalnya dengan melapisi bagian tempat tidur atau dinding yang biasa dipakai anak untuk membentur-benturkan kepalanya dengan busa atau kain empuk. Jangan lupa berikan pujian bila anak sudah bisa menghentikan kebiasaan ini.

Akan Hilang Sendiri

Umumnya, kebiasaan membenturkan kepala hanya bertahan sementara, sekitar usia 18 bulan hingga 3 tahunan. Setelah itu akan hilang sendiri. Alasannya, semakin bertambah usia anak semakin banyak kemampuan yang dikuasainya. Ia telah menemukan cara lain untuk mengatasi ketegangannya, kemampuan bicaranya pun sudah semakin bertambah sehingga ia bisa mengungkapkan apa yang diinginkannya dengan cara yang tepat.



(DENISA ARUM)
FOTO: 123RF

 

Follow Us

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia