3 Penyebab Bayi Muntah


Dok. 123RF
 
Anak muntah memang selalu bikin kita, sebagai orang tua, merasa cemas. Wajar saja, karena si kecil bisa mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan, jika muntah itu terjadi terus-menerus, yang merupakan salah satu kondisi kegawatdaruratan pada anak.

Namun, Mama harus ingat juga bahwa muntah adalah suatu gejala, bukan merupakan sebuah penyakit. Muntah terjadi ketika isi lambung keluar secara cepat atau dengan paksa melalui mulut, akibat peningkatan tekanan di dalam perut.

Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan anak muntah, seperti di bawah ini, yang dilansir dari www.parents.com, Ma. Ketahui mana yang perlu Anda cemaskan, mana yang tidak.

1. SINDROM RUMINASI
Bayi biasa mengalami gangguan ini. Sejumlah kecil makanan keluar dari lambung bayi, tak lama setelah dikonsumsi. Tak perlu khawatir dengan hal itu, tetapi tentu saja, kenaikan berat badan anak bisa terganggu, jika ia mengalaminya beberapa kali dalam sehari. Segera bawa bayi ke dokter, kalau muntahnya terlalu sering.

Umumnya, bayi juga tidak merasakan mual, nyeri, atau kesulitan menelan saat mengalami gangguan ini, tetapi jika Anda melihat ia mengalami kesakitan setiap kali muntah, segera konsultasikan hal itu kepada dokter.

Muntah yang dialami bayi Anda itu bisa berujung kepada esophagitis refl uks, suatu kondisi di mana asam lambung mengiritasi esofagus atau kerongkongan, yang tentu saja membutuhkan penanganan medis.

2. STENOSIS PILORUS
Gangguan ini juga terjadi pada bayi di bawah umur 2 bulan, berupa penyempitan pada ujung lubang tempat makanan keluar menuju usus halus. Akibat penyempitan tersebut, hanya sejumlah kecil makanan bisa masuk ke usus, selebihnya akan dimuntahkan, sehingga bayi bisa mengalami dehidrasi berat dan penurunan berat badan. Kondisi ini biasanya menyebabkan “muntah proyektil” sangat kuat, dan merupakan indikasi untuk operasi mendesak.

3. GASTROENTRITIS
Anak-anak yang tiba-tiba muntah biasanya disebabkan oleh gastroenteritis, yang merupakan infeksi bakteri atau virus pada lambung dan usus.

Infeksi yang diakibatkan oleh virus biasanya cenderung lebih ringan, dan diikuti oleh gangguan respirasi (sakit tenggorokan, hidung tersumbat, atau sakit telinga), sedangkan infeksi bakteri umumnya lebih berat, dan dapat menimbulkan diare yang disertai darah. (Diare yang terjadi saat atau setelah bepergian ke luar negeri biasanya disebabkan oleh bakteri.

Selain diare, anak yang mengalami gastroenteritis juga menderita demam. Kebanyakan kasus gastroenteritis tidak membutuhkan pengobatan khusus, dan anak-anak akan sembuh setelah beberapa hari.

Baca juga:
Anak Sakit Radang Tenggorokan, Kapan Harus ke Dokter?