Kenali Penyakit Kawasaki

Meski sudah tidak seheboh beberapa tahun lalu, bukan berarti anak-anak kita sudah berada pada area aman dari penyakit Kawasaki. Jangan salah, penyakit yang diidentifikasi oleh Prof. Tomisaku Kawasaki, dokter spesialis anak asal Jepang ini, adalah penyakit anak yang belum ada vaksin atau penangkalnya.

Awalnya disebut sebagai sindrom mucocutaneous lymph node, penyakit Kawasaki adalah penyakit yang menyerang sistem pembuluh darah manusia. Penyakit ini memiliki potensi besar menimbulkan serangan jantung pada usia muda, mengingat yang diserang kebanyakan adalah anak balita sebanyak 80%, dan 50% di antaranya anak usia 1-2 tahun. Menurut data Yayasan Penyakit Kawasaki Indonesia, sekitar 4200 anak-anak di Amerika Serikat setiap tahun terdiagnosis menderita penyakit Kawasaki. Berdasarkan perhitungan dr. Najib Advani, SpA(K), Mmed. (Paed), pakar dan peneliti Kawasaki, terdapat 5000 kasus baru di Indonesia setiap tahun, namun hanya 100-200 kasus yang terdeteksi. Hal ini akibat masyarakat belum memahami penyakit ini.

Penyebab penyakit Kawasaki hingga kini belum diketahui pasti. Diduga penyebabnya multifaktor, mulai dari faktor genetika atau riwayat dari orangtua atau keluarga besar,   faktor etnik  karena banyak menyerang anak-anak Asia hingga merupakan infeksi bakteri atau virus, seperti Coronavirus. Berita baiknya, penyakit ini tidak menular. Sehingga kontak dengan anak yang menderita penyakit ini tidak akan membuat Anda atau anak lainnya tertular.

Ciri dan gejala penyakit ini adalah demam, mirip  gondongan (mumps) dan campak (measles),  jadi bisa mengecoh:
-    Demam mendadak yang bisa mencapai 40ºC, minimal 5 hari naik turun tapi turunnya tidak mencapai suhu normal.
-    Muncul bercak merah dengan berbagai bentuk di badan.
-    Kedua mata kemerahan akibat peradangan pada selaput mata.
-    Kelainan pada bibir dan rongga mulut, seperti lidah merah, rongga mulut merah, bibir merah dan pecah-pecah.
-    Telapak tangan dan kaki berwarna merah dan bengkak.
-    Pembesaran kelenjar getah bening pada salah satu sisi leher.
-    Kulit jari tangan dan kaki mengelupas (setelah demam turun)

Akibat dari kemiripan gejala ini dengan beberapa penyakit, seringkali membuat dokter salah mendiagnosis, anak dikira sakit campak, gondongan, bahkan rubela, sindrom Stevens Johnson, demam Scarlet, keracunan, atau alergi obat. Akibatnya,  proses pengobatannya salah dan tidak maksimal. Itu sebabnya, jika Anda melihat anak dengan gejala di atas, sebaiknya jalani beberapa tes yang dapat menegakkan diagnosis dengan lebih akurat, seperti Ekokardiografi (USG jantung), tes darah, EKG (elektrokardiografi), dan sebagainya.

Bagaimana cara pengobatan terbaik untuk anak?
Idealnya, penanganan penyakit ini dilakukan pada 10 hari pertama sejak anak mengajalami gejala. Pada fase awal penyakit Kawasaki, anak harus dirawat inap di rumah sakit dan mendapat pengawasan dari dokter ahli jantung anak. Tujuan utama pengobatan pada tahap awal adalah untuk menurunkan demam, mengurangi inflamasi, dan mencegah kerusakan pada jantung. Proses ini akan dilakukan dengan memberikan aspirin dan imunoglobulin. Selain obat-obatan, Anda dapat memberikan penanganan sederhana untuk menurunkan panas, misalnya dengan memberi  banyak minum atau mengompres anak. Namun, jika anak sudah mengalami komplikasi atau rusaknya pembuluh koroner, maka ia memerlukan rawat inap lebih lama dengan pengobatan yang lebih intensif, untuk mecegah kerusakan jantung yang lebih parah, Puncaknya adalah bila anak sampai memerlukan operasi bypass atau transplantasi jantung.

Apa yang sebaiknya dilakukan orang tua jika anak terkena penyakit Kawasaki?    
Tetap tenang dan jangan panik. Ikuti anjuran dokter untuk penanganan dan pemeriksaan selanjutnya. Jika pengobatan cepat dilakukan kurang dari 7 hari sejak gejala, maka risiko komplikasi akan sangat berkurang. Jika anak sudah diijinkan pulang, tetaplah lakukan pemeriksaan rutin yang diajurkan. Seperti pemeriksaan ekokardiografi harus dilakukan 2 minggu kemudian, dan untuk selanjutnya tiap 3 bulan guna mengantisipasi kemungkinan komplikasi jangka panjang terhadap pembuluh darah koroner jantung. Mungkin penyakit ini belum bisa dicegah sebab belum diketahui pasti penyebabnya. Tapi Anda bisa mencegah anak mengalami komplikasi lebih lanjut dengan melakukan penanganan dini. (DEN)

Foto: 123RF

Baca juga:
Waspada Demam Kuning Pada Anak
Harapan Untuk penyakit Langka
3 Penyakit Langka Bayi yang Perlu Anda Tahu