Ciptakan Gaya Komunikasi Positif dengan Anak

Sebagai orang tua, selalu menjalin komunikasi dengan anak adalah suatu keharusan. Namun terkadang, cara penyampaian pesan yang dilakukan oleh orangtua kurang tepat dan malah memberikan contoh buruk bagi anak.

Dalam berkomunikasi dengan anak, cara penyampaian positif pasti dapat diterima anak dengan baik dan menjadikannya pribadi positif pula.

Hindari ‘Melarang’
Apabila anak melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan, daripada melarang, lebih baik Mama memberikan informasi pada anak. Misalnya, “Rama, di sini banyak batu. Kalau lari bisa terjatuh dan terluka.”

Cara lain, berikan alternatif pengganti aktivitas yang juga mengasyikkan. Misalnya, “Rama, di sini banyak batu. Lebih baik kita main bola di rumput situ, yuk!”

Contoh lain, saat anak menggigiti pensilnya, daripada mengatakan “Jangan gigit-gigit pensil!”, ganti respon Mama menjadi: “Rama, pensilnya lebih keren kalau dipakai menggambar, deh. Oh ya, kamu udah bisa gambar apa?” sambil memberikan kertas kosong.

Tinggalkan Kritik dan Cela
Jika anak sering moody, misalnya mudah menangis, daripada mengkritik negatif atau mencela, lebih baik berikan konfirmasi pada anak. Bangun percakapan dan cari tahu mengapa ia sering menangis. Katakan, “Kamu lagi merasa tidak nyaman, ya? Atau kamu merasa tidak tenang?” Jika anak mengiyakan, lanjutkan dengan, “Oke, kalau kamu merasa tidak nyaman, it’s okay. Nanti cerita sama Mama, ya.”

Pahami terlebih dahulu apakah ekspektasi Mama normal atau tidak dan jangan membuat anak merasa tertolak dengan kata-kata yang kasar sehingga nantinya ia malah menjadi kurang percaya diri.

Lawan Ketidakpuasaan
Ada saatnya keadaan tidak seperti yang kita harapkan. Misalnya anak Mama sudah sering dapat juara 1 di kelas dan tiba-tiba rankingnya turun. Daripada Mama menuntut si kecil memenuhi harapan-harapan tertentu, bantu dia menciptakan cita-citanya sendiri. Tanyakan pada anak, apakah ia cukup puas dengan yang dia capai sekarang. Ajak anak berdiskusi dan bangun percakapan.

Misalnya, tanyakan pada anak, “ Wah, kamu hebat, ya! Siapa yang juara 1 di kelas? Kamu pengen juara 1 juga nggak?” Jika anak cukup puas dengan prestasinya, hargai kepuasannya. Namun jika ia ingin mencapai prestasi yang lebih, katakan, “Oh, kamu ingin juara 1 juga? Hebat! Kalau begitu, belajarnya harus lebih rajin, ya”.


Tak Perlu Membandingkan
Dalam kasus ini, dapat diambil contoh jika anak merengek minta disuapi makan padahal teman-teman seusianya sudah bisa makan sendiri. Daripada membandingkannya dengan orang lain yang dapat menyakiti hatinya, lebih baik bandingkan anak dengan dirinya sendiri.

Misalnya, katakan, “Eh, kemarin Mama lihat kamu sudah bisa makan sendiri. Hebat, ya. Hari ini pasti bisa juga, dong, makan sendiri? Cara lain, berikan ia contoh model orang tuanya sendiri. Misalnya, ceritakan bagaimana dulu Mama senang sekali ketika sudah bisa makan sendiri.

Pahami juga bahwa setiap anak berbeda. Misalnya, teman-teman di kelasnya bisa menari dengan baik saat pentas di sekolah, sementara anak Mama hanya diam terpaku di atas panggung. Tak perlu membandingkannya. Tanyakan apa yang membuatnya tak ingin menari dan pahami kemungkinan ia tidak menyukai kegiatan tersebut. Cari alternatif kegiatan lain yang disukainya, dan jangan lupa puji ia saat melakukannya dengan baik ya, Ma.

 

Follow Us

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia