Kiat Hadapi Suami Temperamental


Suami  sebagai kepala keluarga diharapkan menjadi pelindung bagi istri, pengayom keluarga, memberi kasih sayang, sekaligus penenang kala gundah. Tapi bagaimana jika yang terjadi justru sebaliknya? Suami melakukan kekerasan pada istri, bahkan sampai membunuhnya?
 
Kasus dokter Lety, mungkin salah satu contohnya. Ia meninggal justru di tangan suami, orang yang diharapkan  menjadi pelindung, dengan melakukan penembakan terhadap istrinya.  
 
Menghadapi suami yang temperamental memang perlu lebih bersabar. Mungkin hal ini tidak mencolok  saat masa pacaran, tetapi bibit kekerasan itu sudah tampak. 

Baca juga: Kiat Hadapi Wanita Selingkuhan Suami 
 
Ciri paling umum suami temperamen adalah, ia bereaksi secara berlebihan ketika sedang marah. Bersikap posesif  seperti mudah cemburu, sangat sensitif pada konflik, dan kerap mengharapkan situasi yang tidak realistis. Jika ciri-ciri tersebut Anda temukan pada diri suami dan dibuat bingung bagaimana menghadapinya, berikut ini beberapa kiat yang bisa Anda coba:

 
1. Jangan 'menyiram api dengan bensin'
Jika ia sedang berapi-api, usahakan Anda tetap dingin. Amarah hanya akan berlangsung sementara waktu. Hindari percekcokan dengan tidak saling menghujani kata-kata negatif.  Menghindarlah dengan masuk ke dalam kamar, misalnya.
 
2. Tunggu reda
Pahami tubuh adalah sistem energi. Butuh waktu bagi energi dan hormon adrenalin untuk mengendap, setelah terpicu oleh kemarahan. Dan biasanya perlu 20 menit agar efek adrenalin itu mereda. Dekati dan ajak suami berkomunikasi kembali saat ia sudah tenang.

Baca juga : 5 Cara Agar Suami Mendengarkan Omongan Anda 


 
3. Jangan mentolerir sikap tidak hormat
Hal ini berlaku jika kemarahan suami sudah mengarah pada sikap merendahkan dan meremehkan Anda. Ingat saat mengucapkan ikrar pernikahan, ia berjanji untuk mencintai dan menghormati Anda. Ketika ia bersikap di luar batas, artinya ia sudah mengingkari janji yang ia ucapkan sendiri. Anda harus menghentikannya, terutama ketika menerima perlakuan buruk lebih dari sekali.
 
4. Memberi maaf jika diminta
Suami yang sadar bahwa kemarahannya tidak pada tempatnya, wajib meminta maaf.  Permintaan maaf yang tulus bisa menjadi obat mujarab bagi hati yang terluka. Ketika ia mengulurkan tangan dan meminta maaf, maafkanlah. (Alika Rukhan)
 

 

Follow Us

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia