Menangis di tempat kerja

Masih ingat saran Lois P. Frankel, Ph. D., dalam bukunya Nice Girls Don’t Get the Corner Office 101 Unconcious Mistakes Women Make That Sabotage Their Careers, menangis memberi kesan Anda tidak dapat mengendalikan diri, tidak kompeten, dan lemah. Lois tetap menganggap menangis adalah hal negatif bila terjadi di kantor. Padahal, banyak hal bisa membuat perempuan menangis, kan? Mulai dari persoalan sederhana seperti rasa kesal usai menerima telepon dari suami, klien yang hilang, komputer yang ngadat melulu, hingga kata-kata bos yang tajam dan menyakitkan. Benarkah menangis memang membuat Anda terlihat tak profesional?
    Ups, tunggu dulu! Menurut www.boston.com, Hillary Clinton saja menangis lho, ketika berkampanye di New Hampshire beberapa waktu lalu, dan momen yang banyak dipublikasikan itu toh, tidak membuat namanya lalu tenggelam. Dia tetap memenangkan pemilihan primary di situ. Menangis juga pernah dilakukan Carynne Corvaia, direktur pemasaran Greater Merrimack Valley Convention and Visitors Bureau. Suatu kali dia menangis di depan bos, dan peristiwa yang tak mengenakkan itu ternyata justru membuat mereka bisa lebih saling memahami.
    Tapi ingat lho, meski menangis, tak berarti Anda boleh sampai tersedu-sedu, atau malah meraung-raung. Menangis, asal tak berlebihan, terlihat lebih positif dibanding tangisan berlebihan. “Menangis yang baik adalah menangis dengan kontrol, mata yang basah, berkaca-kaca, menunjukkan perasaan terdalam seseorang, tapi masih tetap di bawah emosi terkendali,” kata Stephanie Shields, dosen psikologi dan kajian wanita di Pennsylvania State University, yang telah melakukan riset tentang persepsi masyarakat terhadap orang yang menangis di depan umum.  


PAR 0308