Pertimbangan Jadi Ibu Rumah Tangga

Perlu disadari bahwa tinggal di rumah mengurus rumah tangga sepenuhnya tidak bisa dilakukan semua wanita. Terbiasa berpacu dengan waktu di dunia kerja, tentu bisa menimbulkan stres pada awalnya.  

Hal ini dialami Dina Qoyyimah (34), mama dari Raihan Sinaga (8) dan Raissa Sinaga (6) saat berhenti bekerja. Semula Dina sempat bingung bagaimana harus mengisi waktu, karena asisten di rumahnya cukup lengkap. Akhirnya, Dina membantu di kantor suaminya yang memiliki usaha sendiri. Jadi, meski punya waktu lebih banyak bersama anak-anaknya, Dina tidak harus seratus persen berada di rumah.

“Kalau pekerjaan mengurus anak sudah selesai, saya bingung kalau tidak mengerjakan apa-apa. Jadi, harus tetap ada kesibukan lain,” ungkapnya.

Ketika mau memutuskan berhenti bekerja, Cica (35) sempat ragu apakah dia mampu mengerjakan pekerjaan rumah tangga. “Saya hanya mengerjakan perkerjaan rumah tangga saat libur Lebaran dan itu pun suka bikin saya trauma,” ungkapnya, jujur.  

Saran psikolog Ratih Pramanik dari Personal Growth, Counseling and Development Center, mind set kita memang harus ‘disesuaikan’. Karena, kehidupan di dunia kerja jauuuuh berbeda dengan dunia mengasuh anak. Deadline, presisi dan kecepatan menjadi faktor penentu keberhasilan kita dalam bekerja. Sementara, dalam dunia mengasuh anak betul-betul kebalikannya. Kita harus menyesuaikan diri dengan ritme anak.

Contohnya, ketika kita berjalan-jalan bersama anak, sering kali anak berhenti, lalu berjongkok dan memperhatikan hal yang menarik baginya, belum lagi ia akan mengajukan sejumlah pertanyaan yang tidak ada habisnya. Sementara, kita yang biasa bekerja sudah fokus pada tujuan, misalnya berjalan untuk belanja ke supermarket. Sehingga kita tidak sabar dengan anak yang selalu berhenti dan bertanya setiap ada kesempatan.

Bila tidak menyadari hal itu, mama bisa tertekan, merasa tak mampu ‘hanya’ di rumah mengurus anak dan tidak sabar.