Perdarahan Saat Hamil, Mana yang Normal, Mana yang Berbahaya?




Mengalami perdarahan ketika hamil akan membuat Anda merasa ngeri dan itu wajar. Karena perdarahan dianggap kondisi yang bisa mengganggu kehamilan. Lalu, bagaimana memastikan mana yang bahaya dan tidak?

American Pregnancy Association merilis beberapa kemungkinan penyebab perdarahan yang normal pada trimester pertama:

- Ibu hamil menjalani pemeriksaan internal yang dilakukan oleh dokter kandungan maupun bidan.

- Aktivitas hormon kehamilan, tubuh calon ibu sedang beradaptasi dengan kondisi hamil menyebabkan keluar darah seperti sedang menstruasi.

- Terjadi perdarahan implantasi, yaitu perdarahan akibat sel telur yang telah dibuahi menempel di dinding rahim. Biasanya terjadi pada usia 4 minggu kehamilan.

- Berhubungan seks selama hamil.

- Terjadi infeksi, namun tidak berhubungan dengan kehamilan seperti ambeien dan infeksi saluran kencing.


Perdarahan juga dapat menjadi pertanda adanya gangguan kehamilan yang serius. Seperti di bawah ini:
- Perdarahan subkorionik. “Jika mengalami perdarahan ini, ibu hamil masih bisa menjalani kehamilan normal, namun diperlukan diagnosis dan perawatan yang tepat.

Di samping itu, akibat perdarahan ini juga berisiko mengalami komplikasi lainnya, seperti persalinan prematur,” papar Dr. Alyssa Stephenson. Perdarahan subkorionik terjadi di sekitar plasenta. Dalam beberapa kasus dan meskipun jarang, dapat menyebabkan plasenta lepas dari dinding rahim sehingga berisiko mengalami keguguran.
 
- Chemical pregnancy. Yakni keguguran pada awal masa kehamilan, umumnya pada usia kehamilan kurang dari 5 minggu. Pada kondisi ini, sel sperma berhasil membuahi sel telur sehingga berhasil terjadi pembuahan, untuk itu hasil test pack adalah positif.

Hanya, kegagalan sel telur untuk bertahan, akibat terjadi gangguan seperti gangguan kromosom, genetik, dan lainnya sehingga menyebabkan keguguran. Tandanya, mengalami banyak perdarahan persis seperti menstruasi diikuti rasa nyeri perut yang sangat. Pada usia kehamilan ini, USG belum dapat melihat adanya tanda kehamilan.
 
- Keguguran. Mengalami perdarahan pada trimester pertama rentan keguguran. Maka jika terjadi segera memeriksakan diri ke dokter walau hanya untuk memastikan. Keguguran pada trimester pertama merupakan keadaan kehamilan yang hilang secara spontan dalam 20 minggu pertama.  

Penyebabnya multifaktor, di antaranya terdapat gangguan pada plasenta, gangguan kromosom, maupun faktor lain: seperti usia terlalu muda atau terlalu tua dan gaya hidup tidak sehat ibu hamil.
 
- Kehamilan ektopik. Kehamilan terjadi di luar kandungan. Embrio yang sudah dibuah tidak menempel di rahim, melainkan di tempat lain, seringnya berada di saluran tuba falopi. Menurut dr. Aryando Pradana, SpOG dari RS Bunda Menteng, Jakarta, embrio sulit diubah menjadi kehamilan normal.

Jika embrio dibiarkan tumbuh, bisa menyebabkan perdarahan yang menyebabkan rusaknya tuba falopi. Meski memiliki kemiripan gejala kehamilan seperti kehamilan normal pada awalnya, namun ada beberapa gejala yang perlu diwaspadai, seperti nyeri di panggul dan perut, serta perdarahan di organ kewanitaan.

Penyebabnya bermula dari rusaknya saluran tuba falobi, mengakibatkan sel telur kesulitan melewatinya, sehingga menempel di situ. Faktor kerusakan tuba falopi antara lain akibat merokok dan penyakit endometriosis.
 
- Kehamilan molar. Kerap disebut hamil anggur, merupakan kondisi abnormal kehamilan. Terjadi akibat ketidakseimbangan kromosom yang menyebabkan janin dan plasenta tidak terbentuk sebagaimana mestinya.

Sel kromosom ini membentuk jaringan berupa gelembung berisi cairan seperti anggur. Kehamilan molar terbagi menjadi dua, yakni mola komplet, yakni janin dan plasenta tidak terbentuk sama sekali, dan mola parsial yakni sebagian sel yang saja tumbuh normal serta mengandung janin, namun selanjutnya janin tidak berkembang lagi.

Kehamilan anggur baru bisa terdeteksi lewat pemeriksaan USG dan tes darah pada trimester pertama. Bila terkena, dokter akan segera melakukan tindakan, berupa berupa kuret dan histerektomi (pengangkatan rahim).

Baca Juga:
Normalkah Perdarahan Itu?

 

Follow Us

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia