Apakah Anda Termasuk Helicopter Parent?


 

“Helicopter parenting adalah gaya mengasuh anak dengan orang tua yang terlalu fokus terhadap anaknya. Mereka terlalu mengatur atau ikut campur terhadap apa yang dialami anaknya, terutama pada hal-hal yang berkaitan dengan kesuksesan dan kegagalan anak.”— Carolyn Daitch, Ph.D., Direktur The Center for the Treatment of Anxiety Disorders dan penulis buku “Anxiety Disorders: The Go-To Guide, asal Detroit, AS.

Dr. Ann Dunnewold, MA, Ph.D., psikolog dan penulis buku “Even June Cleaver Would Forget the Juice Box, asal Texas, AS, menyebut helicopter parenting juga sebagai overparenting. Ini artinya, orang tua terlibat dalam kehidupan anak dengan cara yang terlalu mengendalikan, terlalu melindungi, dan terlalu sempurna dengan cara yang lebih dari pengasuhan yang bertanggung jawab.

Helicopter parenting biasanya diawali oleh niat baik orang tua yang tanpa sadar menjadi berlebihan. Ibarat helikopter, orang tua akan terus melayang dan mengitari anaknya. Meski merupakan bentuk perhatian orang tua, helicopter parenting memiliki dampak kurang baik bagi perkembangan psikologis anak. Dengan melakukan helicopter parenting, orang tua jadi tidak memahami kebutuhan anak dari perspektif anak. Terbiasa dibuatkan keputusan-keputusan penting oleh orang tuanya, anak menjadi kesulitan berpikir dan membuat keputusan tanpa kehadiran orang tuanya.


Ciri-Ciri Helicopter Parent:

  1. Pada tahap balita, helicopter parent akan terus-menerus membayangi anak dan secara ketat menjaga anaknya saat bermain, tidak membiarkan anaknya disentuh orang lain, terlalu takut anak terjatuh atau terluka saat bermain, tidak membiarkan anak bermain sesuatu yang baru, mengarahkan perilakunya terus, dan tidak membiarkan anak punya waktu sendirian.

  2. Pada tahap usia sekolah hingga kuliah, helicopter parent biasanya berinisiatif membuat keputusan-keputusan bagi hidup anak tanpa mempertimbangkan pendapat anak, memastikan anaknya memiliki guru atau pelatih tertentu, mulai mengatur dengan siapa anak boleh berteman, mengatur kegiatan anak, atau memberikan bantuan yang tidak proporsional untuk pekerjaan rumah dan proyek sekolah.

  3. Helicopter parent menaruh perhatian lebih pada bidang akademik anak, misal anak harus berada pada ranking pertama, dan orang tua akan protes kepada guru jika anaknya mendapat nilai jelek.

 

Follow Us

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia