Bila Asisten Rumah Tangga Hamil



Ini bukan tentang si mbak atau asisten rumah tangga yang masih lajang, ya. Tetapi tentang mbak yang menikah secara resmi dan masih bekerja di rumah Anda. Tentu Anda sudah memikirkan hal yang akan sangat mungkin terjadi kepada seorang wanita bersuami: Hamil. Dan, itu akan mengubah banyak keputusan dan kebijakan Anda.

Apakah dia akan terus bekerja?
Ini tergantung kesepakatan Anda dengan dia. Mbak tentu juga punya alasan tersendiri untuk tetap bekerja, di antaranya adalah masalah ekonomi. Dengan tetap bekerja, dia bisa memiliki gaji dan menabung untuk masa depan anaknya.

Jika dia memutuskan akan berhenti, minta dia bersabar hingga Anda menemukan pengganti.
Segera cari penggantinya. Boleh juga, setelah mendapatkan mbak baru, Anda minta mbak lama bekerja tandem dengan dia selama beberapa hari, untuk membantu Anda mengajari mbak lama hal-hal yang biasa dilakukan, sebelum mbak lama benar-benar berhenti.

Pahami kondisinya.
Sama dengan kita, bisa saja diamengalami morning sickness, badan mudah lemas, nafsu  makan menurun, atau malah meningkat, emosinya berubah, dll. Jika dia harus mengasuh anak Anda yang masih bayi atau batita, mungkin Anda perlu mempertimbangkan memiliki satu lagi mbak
yang menjadi asisten si mbak yang hamil. Bicarakan dengan dia mengenai hal ini. Jika dia keberatan dan merasa masih sanggup menangani sendiri pekerjaannya, pantau lagi, sejauh mana dia bisa melakukannya. Turunkan ekspektasi Anda terhadap pekerjaannya. Selain itu, jika dia tidak tinggal di rumah Anda (karena tinggal di rumahnya sendiri), ada kemungkinan dia akan sering minta izin tidak datang, dengan alasan kondisi kehamilannya.

Dukung dia mengonsumsi makanan sehat, rutin memeriksakan kehamilan, dan beristirahat.

Pastikan dia memiliki BPJS Kesehatan untuk meringankan beban biaya melahirkan.

Seperti orang bekerja, Anda bisa berlakukan juga cuti melahirkan, jika dia masih ingin melanjutkan bekerja di rumah Anda usai melahirkan. Selama dia cuti, Anda bisa mempekerjakan mbak baru.

Jika dia memiliki bayi, mungkin agak sulit bagi Anda memutuskan dia tinggal bersama Anda. Karena, Anda harus mempersiapkan kamar yang lebih nyaman dan aman untuk bayi. Lagipula, perhatiannya akan tersedot kepada bayinya, sementara dia juga harus menjaga anak Anda. Semakin besar, anak tentu akan lebih membutuhkan banyak perhatian dan interaksi dengan mamanya. Tetapi, jika dia tidak menginap di rumah Anda, pastikan dia sudah punya support system untuk dirinya sendiri selama dia bekerja di rumah Anda. Sehingga, dia juga bisa tenang
meninggalkan bayinya di rumah.

Foto : CORBIS

 

Follow Us

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia