Liburan Sambil Jadi Relawan, Kenapa Tidak?


Voluntourism adalah konsep berwisata yang diusung oleh Nila Tanzil, seorang traveler, penulis, penyelam, dan blogger, yang menawarkan kegiatan liburan dengan cara yang berbeda. Menggabungkan kata volunteer dan tourism, ibu dari Sienna (2) ini telah menginisiasi biro perjalanan wisata Travel Sparks (www.travelsparks.com), sejak dua tahun lalu. Nila ingin mengajak para wisatawan agar tertarik mengunjungi Flores, Nusa Tenggara Timur, untuk jalan-jalan sambil berbagi dengan masyarakat setempat.

“Anak-anak saya, kan, masih SD. Apa mereka bisa menjadi volunteer? Lagipula, saya mengajak mereka berwisata untuk bersenang-senang saat liburan. Masa mereka harus melakukan kegiatan sosial?” Begitu mungkin yang terlintas di benak Anda mengenai voluntourism.  Tidak salah, kok, berpikiran seperti itu, Ma. Karena memang, beberapa trip yang memungkinkan kita bersentuhan dengan kegiatan sosial, bisa terasa tidak enak. “Meski begitu, traveling with a cause masih cocok untuk anak-anak, asal orang tuanya juga mau adventurous sedikit,” tutur Bening Rara, pendiri GoArchipelago (www.goarchipelago.com). GoArchipelago sendiri memiliki misi meningkatkan kesejahteraan warga lokal di lokasi wisata lewat Go! Community Development Projects. Salah satu paket wisata yang ditawarkan adalah kegiatan hiking dan mengajar bersama komunitas Anak Nusantara di Ujung Kulon, Banten.

“Melibatkan petualangan, berinteraksi dengan alam, dengan masyarakat lokal,” lanjut Rara. Tetapi, menurut Nila, “Jangan membayangkan konsep itu selalu seperti backpacking, ya. Memang wisatawan bisa saja tinggal di rumah penduduk, tetapi menginap di hotel bintang 4 atau resor sekalipun, tidak masalah. Bermalam di boat yang bagus dan ber- AC juga bisa, namun tetap dengan kegiatan volunteering.” Jadi, para wisatawan yang ingin menggunakan jasa Travel Sparks bisa mengatur jenis kegiatan yang mereka inginkan dan lama perjalanan. “By request, dengan itinerary yang customized,” tambah Nila.

Skill khusus pun tak diperlukan untuk menjadi sukarelawan dalam voluntourism. Kegiatan sosial yang dilakukan para wisatawan yang mengikuti trip Travel Sparks, misalnya, bisa berupa mengajarkan baca dan tulis, keterampilan tangan, bermain musik, berolahraga, atau sekadar bercerita mengenai pengalaman mereka di daerah asal mereka. Maka, tak heran jika siapa saja bisa turut serta terlibat, bahkan anak-anak sekalipun. Putra-putri Anda yang masih duduk di bangku sekolah dasar dapat mengajarkan anak-anak yang tinggal di desa tempat perpustakaan Taman Bacaan Pelangi (perpustakaan yang didirikan oleh Nila Tanzil di kawasan Indonesia Timur), membuat beragam prakarya, seperti gelang dari benang wol, origami, dan lain-lain. Atau, bermain bersama!

Nila bercerita, pernah suatu kali, ada wisatawan yang menggunakan jasa Travel Sparks bersama anaknya yang jago sekali bermain yoyo. Anak itu pun membawa banyak
sekali yoyo untuk ditaruh di perpustakaan Taman Bacaan Pelangi, dan ia mengajarkan anak-anak setempat bermain yoyo. “Permainan anak-anak di sana bisa jadi berbeda dengan permainan anak-anak di kota besar. Bahkan bukan tak mungkin, mereka baru pertama kali melihat permainan anak-anak kita. Selain jalan-jalan ke tempat yang indah, highlight dari voluntourism, kan, interaksi langsung dengan masyarakat setempat, saling bertukar pengalaman, cerita, dan pemikiran. Perjalanan menjadi lebih berkesan,” kata Nila.

 

Follow Us

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia