Masalah Makan yang Bukan Masalah


Menyangkut kegiatan makan anak, salah satu kesalahan umum yang dilakukan orang tua, menurut Maryann Jacobsen, pakar nutrisi yang juga salah seorang penulis buku Fearless Feeding: How to Raise Healthy Eaters from High Chair to High School, adalah berupaya memperbaiki apa yang sebenarnya tidak perlu diperbaiki.

Pada tahap usia tertentu, setiap anak akan menunjukkan sikap yang sering kali dianggap sebagai masalah makan oleh para orang tua. Misalnya, anak bayi yang menolak makan pure, balita yang hobi pilih-pilih makanan, anak tanggung yang ingin ikut-ikutan menyantap makanan milik teman sekolahnya, remaja yang berusaha melakukan diet, dan sebagainya.

Upaya memperbaiki tersebut biasanya mengakibatkan munculnya tekanan pada  orang tua dan kemudian tercermin pada komentar-komentar mereka yang menyudutkan anak pada saat mereka menjalani kegiatan makan. Entah dengan memaksa anak yang kurus untuk makan lebih banyak, menegur anak yang gemuk karena senang makan kue, dan sebagainya. Padahal, kata Jacobsen, berbagai komentar yang menyudutkan tersebut malah bisa mengikis rasa percaya diri anak sehingga memicu munculnya masalah makan yang sebelumnya tidak ada.

“Untuk menghindarinya, orang tua perlu tahu bahwa anak pada setiap fase usia akan menunjukkan perilaku yang khas terkait kegiatan makan. Carilah informasi yang bisa dipercaya mengenai perilaku khas pada setiap tahapan usia tersebut. Dengan memahami bahwa tingkah laku anaknya normal dan dialami oleh jutaan anak lain sebayanya, maka orang tua akan terbebas dari tekanan dan mampu menyikapi berbagai hal secara lebih proporsional. Anda pun bisa berkembang menjadi seorang fearless feeding dan si kecil tumbuh menjadi seorang fearless eater,” kata Jacobsen.

 
 

 

Follow Us

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia