Mengenal Leukimia Anak

Leukimia ternyata adalah jenis kanker yang paling banyak diderita anak-anak. Apa itu kanker darah dan bagaimana gejalanya? Keluarga perlu tahu.
 
Shakira Aurum, putri penyanyi Denada Tambunan mengidap kanker darah atau yang disebut juga dengan leukemia. Si kecil yang berusia 5 tahun ini harus menjalani perawatan selama 1,5 bulan di Singapura.
 
Pendapat umum bahwa kanker hanya dapat dialami orang dewasa saja ternyata keliru. Kanker darah adalah jenis kanker yang paling banyak diderita anak-anak. Dilansir dari kidshealth.org, 30% kanker yang diderita anak-anak adalah kanker darah atau leukimia. Di Amerika, 3000 anak mengalami leukimia setiap tahunnya.
 
Apa itu leukimia anak?
Leukimia atau kanker darah putih adalah kondisi di mana tubuh kelebihan sel darah putih yang abnormal. Sel darah putih memang memegang peranan penting untuk melindungi tubuh dari infeksi. Namun, ada kondisi di mana sumsum tulang belakang memproduksi sel darah putih abnormal dalam jumlah yang tidak wajar. Sel-sel darah putih ini dapat berkembang dan menyebar dengan cepat melalui aliran darah dan mendesak sel-sel yang sehat sehingga meningkatkan risiko anemia (kekurangan darah merah), infeksi, pendarahan, dan masalah lainnya.
 
Jenis-jenis leukimia pada anak
Umumnya leukimia dibedakan berdasarkan kecepatannya berkembang, yakni akut atau berkembang cepat dan kronis yang berkembang perlahan. Anak-anak, sebagian besar menderita leukimia akut. Leukimia akut umum terjadi pada anak usia 2-8 tahun.
 
Leukimia akut dibagi menjadi leukimia limfoblastik yang menyerang jenis sel darah putih lymphocytes dan leukimia myeloid yang menyerang sel darah putih jenis myelocytes.
 
Gejala leukimia pada anak
The American Cancer Society memaparkan gejala yang dapat diamati dari anak-anak yang terkena leukimia :

  • Tulang atau nyeri sendi: nyeri ini disebabkan oleh penumpukan sel-sel leukemia dekat permukaan tulang atau di dalam sendi.

  • Pembengkakan perut: sel leukemia dapat berkumpul di hati dan limpa, membuat perut mereka membesar. Tulang rusuk yang lebih rendah biasanya menutupi organ-organ ini, tetapi ketika semakin membesar, dokter sering dapat merasakannya.

  • Kehilangan nafsu makan dan penurunan berat badan: jika limpa dan hati cukup besar, mereka dapat menekan organ lain seperti perut. Ini dapat membuat anak merasa selalu merasa kenyang dan kehilangan nafsu makan. Serta terjadi penurun berat badan.

  • Kelenjar getah bening yang membengkak: beberapa leukemia menyebar ke kelenjar getah bening. Dapat dilihat atau dirasakan sebagai benjolan di bawah kulit di area tertentu dari tubuh (seperti di sisi leher, di area ketiak, atau di selangkangan). Kelenjar getah bening di dalam dada atau perut juga bisa membengkak, tetapi ini hanya dapat dilihat pada CT Scan.

  • Batuk atau kesulitan bernapas: beberapa jenis leukemia dapat memengaruhi struktur di tengah dada. Thymus atau kelenjar getah bening yang membesar di dada dapat menekan trakea, menyebabkan batuk atau kesulitan bernafas. Dalam beberapa kasus di mana jumlah sel darah putih sangat tinggi, sel-sel leukemia dapat menumpuk di pembuluh darah kecil paru-paru, yang juga dapat menyebabkan kesulitan bernapas.

  • Pembengkakan wajah dan lengan: ini dikenal sebagai sindrom SVC. Dapat menyebabkan pembengkakan di wajah, leher, lengan, dan dada bagian atas (kadang-kadang dengan warna kulit merah kebiruan).

  • Sakit kepala, kejang, muntah: sejumlah kecil anak-anak memiliki leukemia yang telah menyebar ke otak dan sumsum tulang belakang saat pertama kali didiagnosis. Ini dapat menyebabkan gejala seperti sakit kepala, kesulitan berkonsentrasi, kelemahan, kejang, muntah, masalah dengan keseimbangan, dan penglihatan kabur.

  • Ruam, masalah gusi: pada anak-anak dengan leukemia myelogenous akut (AML), sel leukemia dapat menyebar ke gusi, menyebabkan pembengkakan, nyeri, dan perdarahan. Jika menyebar ke kulit, itu bisa menyebabkan bintik-bintik kecil, gelap yang terlihat seperti ruam biasa.

  • Kelelahan ekstrim : konsekuensi AML yang jarang tetapi sangat serius adalah kelelahan ekstrim, kelemahan, dan melambatnya bicara.

 
Terapi Leukimia pada Anak
Mengutip dari webmd.com, sebelum pengobatan kanker dimulai, kadang-kadang seorang anak membutuhkan perawatan untuk mengatasi komplikasi penyakit. Sebagai contoh, perubahan sel-sel darah dapat menyebabkan infeksi atau perdarahan hebat dan dapat memengaruhi jumlah oksigen yang mencapai jaringan tubuh. Perawatan mungkin melibatkan antibiotik, transfusi darah, atau tindakan lain untuk melawan infeksi.

Terapi untuk anak yang menderita leukimia umumnya adalah kemoterapi. Ada juga terapi radiasi berenergi tinggi untuk membunuh sel-sel kanker dan mengecilkan tumor. Pilihan lain jika terapi kurang efektif adalah dengan penanaman atau transplantasi sel induk pembentuk darah. Untuk mencegah leukemia kembali, mungkin ada terapi pemeliharaan dalam siklus selama 2 atau 3 tahun.

The American Cancer Society menyebutkan bahwa kanker darah pada anak adalah jenis kanker yang besar kemungkinan untuk dapat disembuhkan dan minim resikonya untuk tumbuh lagi.

Cara Antisipasi

  • Beri ASI pada anak selama 6 bulan (ASI eksklusif) hingga 2 tahun. Sejalan dengan WHO dan Kemenkes RI, pemberian ASI dapat mengurangi risiko kanker.

  • Jeli melihat tubuh anak dan memberi perawatan rutin. Minta bantuan dokter anak saat jadwal imunisasi untuk selalu mengecek kondisi anak, apakah ada benjolan dan hal-hal yang patut dicurigai.

  • Jauhkan anak dari paparan asap rokok.

 
 
(LELA LATIFA)
FOTO: DOK. FG
 

Baca juga
Tes Golongan Darah & Rhesus Saat Hamil
Perdarahan Saat Hamil, Mana yang Normal, Mana yang Berbahaya?
 

 

Follow Us

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia