Saatnya Kita Berperang Lagi


Obrolan di media sosial soal perlu tidaknya anak diberi vaksin – apapun itu – tidak pernah berakhir dengan kesepahaman bahwa anak perlu diberi vaksin. “Anakku sih, biar aja dapat kekebalan dari alam. Kalau terkena penyakit, ya diobati saja.” Kata seorang Bunda. Yang lain menyahut, “Ya, kalau anakmu sembuh. Kalau meninggal? Atau kalau penyakit itu menular ke anak lain?”
 
Kecenderungan untuk tidak memberi vaksinasi pada anak membangkitkan kembali penyakit-penyakit akibat infeksi bakteri atau virus yang seharusnya tidak ada lagi. Kasusnya kali ini difteri. Jangan-jangan, setelah dinyatakan bebas polio sejak empat tahun lalu, kapan-kapan penyakit itu kembali mewabah gara-gara kita tidak peduli dengan vaksinasi polio. 
 
Seseorang yang diserang bakteri corynebactericum diphteriae tidak selalu menunjukkan gejala. Kalaupun demam, demamnya  tidak tinggi, dan seringkali kita atasi dengan paracetamol. Sibuk berkutat dengan demam, sementara kita lupa dengan gejala lainnya, yaitu:
 
  • Sakit tenggorokan dan suara serak
  • Terbentuk lapisan berwarna abu-abu yang menutup tenggorokan dan amandel
  • Sulit bernapas
  • Lemas dan lelah
  • Pembengkakan pada kelenjar limphe
  • Pilek, awalnya lendir encer, lama kelamaan berubah warna menjadi kehijauan bahkan disertai darah.
 
Mudah Menular
 
Tahun 2017  ini difteri telah memakan korban. Dari 141 pasien di Jawa Barat, selama bulan Januari hingga November ada 10 orang meninggal. Pada bulan Desember ada 14 kasus  kematian. Ini jelas jumlah yang tidak sedikit. Bahkan lebih tinggi daripada India. 
 
Tak heran bila penyebaran penyakit ini begitu cepat, karena penularannya pun sangat mudah. Percikan ludah penderita, barang-barang yang terpapar bakteri, dan bersentuhan langsung dengan penderita adalah cara penyebaran penyakit ini.
 
Corynebactericum diphteriae nama yang cantik. Sayang sifatnya tak secantik namanya, karena bakteri ini mematikan.  Ia menghasilkan racun yang akan menyerang sel-sel sehat dalam tenggorokan hingga menjadi sel mati. Sel-sel yang mati inilah yang akan membentuk membran atau lapisan berwarna abu-abu pada tenggorokan. Tidak sampai di situ. Racun-racun itu akan menyebar melalui aliran darah menuju  jantung, ginjal, dan sistem saraf, dan merusaknya.
 
Bakteri ini  bila menyerang permukaan kulit akan menimbulkan luka borok, lubang menganga pada kulit. Selain menjijikkan dan mengerikan, rasanya pasilah menyakitkan.
 
Bisa Dicegah
 
Sama seperti penyakit infeksi lainnya; hepatitis, meningitis, campak, influensa, herpes zoster, rubela, cacar air dan HPV, difteri juga dapat dicegah dengan pemberian vaksin. Vaksinasi difteri ada 3 jenis, yaitu DPT-HB-Hib, DT, dan Td. Pemberiannya pun berbeda pada tiap usia:
 
  • Bayi di bawah 1 tahun diberi vaksin DPT-HB-Hib dalam jarak 1 bulan
  • Bayi usia 18 bulan diberikan satu dosis DPT-HB-Hib
  • Anak sekolah kelas 1 SD diberikan satu dosis vaksin DT pada bulan November
  • Anak sekolah kelas 2 SD diberikan satu dosis Td pada bulan November
  • Anak sekolah kelas 5 SD diberikan satu dosis Td pada bulan November
 
Agar kita tidak perlu berperang lagi seperti sekarang, cara pencegahan termudah adalah berikan imuniasi pada anak-anak kita, dan jangan lupa diulang. Karena itu hak mereka. Sebab, meski pernah diberikan vaksin, anak tetap dapat dihampiri bakteri difteri. Vaksin ini akan semakin efektif bila diulang setiap 10 tahun. (Imma Rachmani)

 

Follow Us

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia