6 Trik Membuat Anak Terbuka dengan Anda


 

Tidak semua anak bisa terbuka dengan orang tuanya. Mereka belum tentu menceritakan apa yang terjadi di luar rumah seperti pertengkarannya dengan teman-temannya, kisahnya tidak diterima di klub bola, atau apakah ia anak populer di sekolahnya, dan lain sebagainya.
 
Padahal keterbukaan anak-anak adalah hal yang penting bagi orang tua. Dengan selalu mendengarkan anak, orang tua jadi punya informasi kunci untuk mengetahui perkembangan anak. Selain itu, orang tua juga lebih mudah untuk masuk secara emosional untuk mengarahkan anak.
 
Dr. Ron Taffel, Ph.D., pakar pengasuhan dan penulis buku Nurturing Good Children Now memberikan beberapa cara yang bisa dilakukan orang tua untuk membuat anaknya terbuka dan terlibat percakapan aktif dengannya:
 

1. Mengobrol di Sela Kegiatan

Anda merasa sulit membuat anak Anda mau bercerita? Mungkin karena ia merasa kurang nyaman mendapat pertanyaan dari Anda yang terkesan formal dan sangat kaku. Anda berpikir bahwa mengobrol dengan anak adalah hal yang sangat serius sehingga harus dilakukan dengan cara saling menatap mata. Orang tua mungkin berdalih saat menatap mata anaknya, mereka bisa mendapati apakah anaknya jujur atau berbohong.
 
Padahal, Anda perlu tahu bahwa beberapa orang merasa terintimidasi dengan perbincangan saling tatap mata. Mengobrol di sela kegiatan seperti saat Anda sedang menyetir untuk mengantar-jemputnya sekolah, saat sedang masak bersama, atau saat sedang makan bisa membuat suasana lebih cair. Anak-anak pun jadi lebih leluasa bercerita pada Anda.
 

2. Pahami Kebiasaan Komunikasi Anak

Kunci keterbukaan adalah tidak mengubah apa yang tidak bisa diubah. Ya, anak-anak memiliki kebiasaan komunikasi yang bisa dikatakan sulit diubah. Bila anak Anda adalah tipe anak yang aktif berbicara di pagi hari, maka manfaatkan kesempatan emas ini untuk berbicara dengannya. Namun, jangan lakukan bila anak Anda adalah seorang yang sangat mudah kacau konsentrasinya bersiap-siap di pagi hari. Mengajaknya mengobrol hanya akan merusak mood-nya.
 
Anda juga perlu tahu kebiasaan anak menjawab pertanyaan. Ada anak yang membutuhkan waktu untuk berpikir sebelum menjawab. Ketika dia diam, bukan berarti dia tidak mau terbuka. Maka jangan dicecar dan beri ia waktu. Bila anak Anda adalah seseorang yang sangat serius sebelum semua pekerjaannya selesai, cobalah untuk mengajaknya bicara sebelum ia tidur saat semua tugas sudah ia rampungkan.
 

3. Tunjukan Ketertarikan dari Awal Hingga Akhir

Saat ia bercerita, selalu fokus pada ceritanya dari awal hingga akhir. Setelah selesai, beri pertanyaan seperti, “Terus gimana?” “Apa yang terjadi selanjutnya?” atau “Siapa akhirnya yang bisa melakukannya?” sebagai pertanda bahwa Anda tertarik dengan ceritanya. Ini membantu anak merasa didengarkan dan tertarik untuk bercerita lagi pada Anda di lain waktu.
 

4. Respon Emosional

Tanggapi anak Anda dengan emosi yang nyata. Anda bisa melakukan gerakan seperti menganggukkan kepala, mengernyitkan dahi, merenung, atau menyebut kembali emosinya untuk memvalidasi perasaannya. Mereka akan suka bila mendapat respon seperti, “Hmm, Mama tahu kamu pasti kesal sekali, ya?”. Puji juga mereka atas hal baik yang mereka lakukan seperti, “Wah, kamu mengatakan itu untuk membela temanmu yang diusili kakak kelas? Mama/Papa tersentuh sekali dengan kalimatmu.” Ketika anak-anak merasa perasaannya bisa dipahami, akan lebih mudah bagi mereka untuk terbuka.
 

5. Mulai dari Anda

Untuk membuat anak-anak terbuka, tak harus dimulai dengan memberi mereka pertanyaan untuk dijawab. Anda bisa menceritakan tentang hari Anda terlebih dulu. Ceritakan saja bahwa hari ini bos Anda memarahi Anda dan Anda bertengkar dengan rekan Anda. Itu mungkin terdengar sebagai sesuatu yang negatif. Namun, orang tua juga punya masalah dan tak selalu sempurna. Justru, itu akan membuat anak lebih yakin untuk terbuka. Mereka akan menceritakan hari mereka juga seperti bertengkar dengan teman dan masalah lainnya.
 

6. Bagian Penutup

Setelah anak-anak bercerita, Anda bisa memberikan saran. Namun berhati-hatilah dalam melakukannya. Cobalah mengatakannya dengan singkat dan bijaksana. Hindari kesan menggurui dan bicara terlalu lama. Itu justru membuat mereka jengah untuk bercerita lagi. Yang perlu diperhatikan adalah Anda hanya cukup memberikan saran saja, bukan membuat keputusan. Biarkan ia menemukan cara sendiri untuk menyelesaikan konfliknya sendiri. Saran yang menyentuh atau memenuhi kebutuhannya akan membuatnya selalu berpikir untuk datang pada Anda tiap ada masalah.
 
 
Baca juga:
Agar Anak Terbuka pada Orang Tua
Ajarkan Anak Bercerita Lewat Coretan Gambar
Berbagi cerita dengan si kecil
Cerita tentang si kecil
Anak Suka Mengarang Cerita
 
 
(LELA LATIFA)
FOTO: FREEPIK

 

Follow Us

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia