7 Cara Ini Latih Anak Kendalikan Emosi di Sekolah


Salah satu hal paling ditakuti banyak orang tua adalah anak yang mengalami tantrum, terutama di sekolah. Saat anak mengalami ledakan emosi, yang biasanya ditandai dengan sikap keras kepala, berteriak, menjerit-jerit, pembangkangan, mengomel marah, dan sebagainya. Anak tiba-tiba ngambek atau menangis berkepanjangan. Emosi artinya perasaan. Marah hanyalah salah satu dari jenis emosi.

Beberapa emosi lainnya adalah senang, takut, sedih, kaget, jijik, kecewa, dan sebagainya. Penyebab ledakan emosi pada anak-anak bisa bermacam-macam, misalnya keinginannya tidak dituruti, perasaan terlalu sensitif, atau bahkan hal-hal yang menurut kita sepele. Di usia inilah, penting untuk mengajarinya kemampuan mengontrol emosi, yakni menampilkan emosi yang dirasakan secara tepat dan tidak berlebihan.

Ada banyak manfaat bagi anak ketika berhasil mengatasi emosinya. Mereka menjadi bisa lebih fokus saat belajar, berinteraksi dengan anak-anak lain dengan cara yang ‘aman’ dan menyenangkan, serta berkurang perilaku impulsifnya.

Bagaimana mengajarkan anak mengendalikan emosinya di sekolah? Masih ingat film animasi Inside Out? Film buatan Disney dan Pixar yang mendasarkan ceritanya pada teori psikologi ini menampilkan enam karakter emosi, yakni Joy (kebahagiaan), Anger (kemarahan), Disgust (muak atau jijik), Fear (kecemasan), dan Sadness (kesedihan).

Ketika anak berlebihan dalam mengekspresikan emosi dan belum bisa mengontrol emosinya, Psikolog dari Universitas Indonesia, Rini Hildayani menyarankan orang tua untuk mencoba tip berikut ini:

1. Ajak anak mengenali berbagai emosi dan ekspresinya. “Gimana perasaanmu hari ini?”; “Apa yang membuatmu kesal?”; “Tadi di sekolah Adik dapat bintang dari guru, ya. Wah, hebat. Senang, dong!”

2. Ajak anak untuk belajar mengendalikan emosi. “Misalnya, ketika ia marah dengan temannya, tidak sampai memukul atau menyakiti temannya secara fi sik,” ungkap Rini.

3. Menjadi contoh bagi anak dalam menunjukkan cara pemecahan masalah tanpa emosi marah. Mengungkapkan kasih sayang kepada anak, bersikap tenang, dan hangat. Tidak mudah terpancing ketika anak sedang tantrum.

4. Membacakan buku cerita bagaimana mengatasi situasi yang memancing emosi tertentu. Apabila tidak ada buku yang sesuai dengan masalah emosi anak, orang tua dapat mengarang cerita sendiri.

5. Dalam bergaul, orang tua tidak perlu over protective. “Lingkungan pergaulan anak tidak perlu dibuat terlalu steril. Biarkan anak menghadapi anak-anak lain yang karakternya berbeda. Sebab, lingkungan yang sebenarnya tidak terus-terusan aman dan damai, sesuai dengan keinginan anak. Lingkungan pergaulan itu ibaratnya laboratorium buat anak,” jelas Rini.

6. Ajari anak untuk membaca perasaan atau emosi orang lain tanpa mereka harus mengatakannya
secara verbal. Bisa lewat mimik wajah atau bahasa tubuh. Anak juga harus diajari bagaimana bereaksi dan berinteraksi dengan emosi orang lain.

7. Mengajak anak bermain peran, misalnya apa yang akan dilakukan kalau diganggu teman, tidak
dibelikan mainan, masuk kelas tanpa ditemani ibu, dan sebagainya. Tunjukkan bahwa Anda peduli dan memahami perasaannya. Ketika anak menangis karena mereka sedih, marah, atau kecewa, ungkapkan bahwa perasaan itu wajar untuk diekspresikan. Hindari memarahi anak karena ekspresi mereka. Sebaliknya, berikanlah pelukan untuk menenangkan emosi yang sedang meluap.

WEBTORIAL

Edisi Terbaru

Try Something New

Follow Us

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia