8 Buku yang Mengajarkan Anak Bersyukur

Saking sayangnya kepada anak, tak jarang orang tua melimpahi ia dengan berbagai materi dalam kehidupannya, mulai dari permainan hingga gadget paling baru. Tidak masalah, sih, selama Anda memang mampu. Tetapi sebaiknya, sejak dini kita juga mengajarkan anak agar tumbuh menjadi pribadi yang selalu bersyukur dan berterima kasih atas apa yang ia miliki. Anda tentu tidak ingin anak berpusat pada diri sendiri dan menjadi pribadi dewasa yang selalu mementingkan diri sendiri, kan?

Mengajarkan anak untuk selalu mensyukuri apa yang ia miliki bisa Anda lakukan sambil membacakan buku cerita, lho, Ma. Kalau Anda bingung buku mana yang sebaiknya Anda pilih, Herdiana Hakim, founder SiKancil.org, situs yang dibuat khusus untuk membahas bacaan anak Indonesia, dari resensi buku anak sampai berbagai isu dan permasalahan seputar sastra anak di negara kita, akan membantu Anda. Penulis buku, pendongeng, sekaligus penyandang gelar master di bidang sastra dan literasi anak itu telah memilihkan 8 judul buku anak favoritnya, yang sarat dengan nilai bersyukur. Di bawah ini adalah daftarnya:

1.    The Giving Tree (6-8 tahun) (Penulis: Shel Silverstein)

Pertama diterbitkan tahun 1964, cerita anak yang satu ini masih relevan sampai sekarang. Penulisnya adalah penyair serba bisa yang pernah meraih Grammy Awards. Buku anak karyanya menjadi karya klasik yang tak lekang zaman yang masih dicetak ulang dan diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk The Giving Tree. Kisah tentang hubungan sebatang pohon apel dan bocah lelaki ini telah menyentuh banyak pembaca karena sang pohon dengan ikhlas memberikan segalanya kepada sang bocah, yang kemudian tumbuh menjadi remaja, pria dewasa, dan lansia, tanpa mengharap pamrih. Konsep bersyukur dalam buku ini memang lebih implisit. Karena itu, sambil membaca cerita bergambar ini bersama si kecil, ajak ia berdiskusi tentang apakah karakter bocah lelaki dalam buku tersebut tahu makna bersyukur, dan apa yang seharusnya bisa dilakukan si bocah lelaki terhadap si pohon apel. Buku The Giving Tree versi bahasa Indonesia diterbitkan oleh Atria.

2.    Anak Kucing yang Manja (6-8 tahun) (Diceritakan oleh: Murti Bunanta)

Suatu hari, seekor anak kucing pergi meninggalkan rumah dan mamanya di hutan karena ia ingin mencari kesenangan. Ia pun datang kepada matahari, bukit, kerbau, dan berbagai penghuni alam lain. Namun, mereka semua berkata kepada anak kucing bahwa hidup mereka pun tak sempurna karena selalu ada penghuni alam yang lebih unggul yang mengusik ketenangan mereka. Malah, penghuni alam terakhir yang dihampiri si anak kucing mengungkap bahwa yang lebih unggul dari dirinya adalah mama kucing. Pada akhirnya, si anak kucing belajar bersyukur karena ia memiliki mama yang penyayang. Cerita rakyat dari Deli Serdang ini akan memukau anak tak hanya lewat ilustrasi yang indah karya pelukis Hardiyono, tetapi juga tokoh si anak kucing yang terasa dekat dengan diri mereka.

3.    Did I Ever Tell You How Lucky You Are? (0-5 tahun) (Penulis: Dr. Seuss)

Pesan untuk bersyukur disampaikan secara fun dalam buku karya penulis legendaris Dr. Seuss ini. Deretan kata berisi permainan rima (yang seru saat dibaca keras-keras bersama anak) disertai ilustrasi jenaka khas Dr. Seuss mengajak para pembaca menyadari betapa beruntung mereka dengan kenyamanan hidup yang mereka miliki. Simak, deh, penggalan kata-kata dari buku tersebut:

“When you think things are bad,
when you feel sour and blue,
when you start to get mad...
you should do what I do!

Just tell yourself, Duckie,
you're really quite lucky!
Some people are much more...
oh, ever so much more...
oh, muchly much-much more
unlucky than you!”


4.    Rumah Kita Semua (6-8 tahun) (Penulis: Dewi Liez)

Buku terbitan Mizan ini mengajak kita berkenalan dengan kehidupan anak-anak yang tinggal di panti asuhan di berbagai negara. Meski begitu, cerita-cerita pendek yang dihadirkan di dalamnya tidak bertujuan membuat kita terharu atau sedih. Sebaliknya, ada cerita yang lucu, seru, bahkan inspiratif. Disertai ilustrasi menarik, kisah-kisah dalam buku ini mengajarkan sikap hidup yang positif, dan si kecil bisa belajar bersyukur dengan meneladani para tokoh cerita. Misalnya, Govind yang harus kehilangan keluarga karena bencana longsor, namun tetap bersyukur masih bisa tinggal di panti asuhan yang kondisinya lebih baik ketimbang tempat pengungsian.

5.    Small Blessings (3-5 tahun) (Penulis: Erica Becker)

Buku bergambar atau picturebook selalu punya daya tarik tersendiri. Ilustrasi yang melimpah dan teks yang sedikit bukan berarti buku bergambar memiliki konten yang sederhana. Sebaliknya, banyak buku bergambar mengandung pesan yang filosofis, tanpa harus menggurui lewat teks. Buku Small Blessings ini, contohnya. Taburan ilustrasi manis di setiap halaman akan mengajak anak belajar mengapresiasi seni visual, sekaligus merenungkan hal-hal yang tampak remeh, tetapi penting dalam hidup manusia, seperti sinar matahari yang menyinari wajah dengan hangat dan bunga-bunga liar di padang. (Para orang tua bisa jadi akan ikut menikmati buku ini.) Setelah membaca, ambil selembar kertas gambar, dan ajak anak membuat kartu terima kasih atas apa yang ia anggap patut disyukuri dalam hidupnya.

6.    Bagai Bumi Berhenti Berputar (7-12 tahun) (Penulis: Clara Ng)

Menanamkan rasa bersyukur bisa dilakukan beriringan dengan menumbuhkan empati, dan itulah pesan utama dari kumpulan cerita karya Clara Ng dan diilustrasi oleh Emte (Muhammad Taufik) ini (diterbitkan oleh Gramedia Pustaka). Tema cerita yang diangkat adalah hal-hal yang biasanya dihindari dalam buku anak, seperti perceraian, kematian, dan kesenjangan sosial. Setiap cerita memiliki tokoh anak yang harus mengalami berbagai situasi sulit tersebut, dan mereka berupaya mengatasi rasa kalut mereka dengan dukungan dan kasih sayang orang tua. Baca buku yang manis ini bersama-sama si kecil, dan jangan lewatkan kesempatan membuka obrolan ringan dengan anak seputar tema cerita – sekaligus membuka jalan untuk mengajarkan kepadanya arti bersyukur.

7.    Just So Thankful (3-5 tahun) (Penulis: Mercer Mayer)

Mercer Mayer adalah pengarang cerita anak yang telah menghasilkan lebih dari 300 judul sejak ia mulai berkarya pada 1966, dan seri Little Critter merupakan salah satu favorit pembaca. Little Critter adalah karakter hewan ciptaan Mayer yang mengajarkan berbagai pelajaran hidup melalui cerita mereka. Dalam Just So Thankful, Little Critter merasa iri dengan teman barunya di sekolah yang memiliki banyak mainan, rumah yang besar, ponsel pribadi, dan seorang pelayan. Betapa terkejutnya ia saat temannya mengungkap bahwa justu Little Critter lah yang sangat beruntung karena punya keluarga yang penyayang dan selalu berada di dekatnya. Little Critter pun belajar bersyukur untuk keluarga dan kehidupan yang ia miliki. Cerita diakhiri dengan Little Critter memberikan pelukan erat kepada keluarganya, dan Anda dan si kecil juga bisa ikut saling memeluk di akhir sesi membaca, sambil mengucap syukur karena kalian saling memiliki.

8.    The Miraculous Journey of Edward Tulane (9-12 tahun) (Penulis: Kate DiCamillo)

Dalam dunia literatur anak, Kate DiCamillo adalah nama besar. Karya-karyanya menjadi langganan penghargaan sastra anak dan selalu masuk daftar bestseller. Karya yang satu ini sangat istimewa – apalagi ditambah ilustrasi indah seniman Bagram Ibatoulline. Kisah Edward Tulane dijamin tak hanya akan menyihir dan menyentuh si kecil, tetapi juga Anda yang sudah dewasa. Edward adalah boneka porselen berbentuk kelinci yang mahal dan bagus, namun hatinya tertutup untuk cinta sang pemilik, bocah perempuan bernama Abilene yang merawatnya dengan sepenuh hati. Suatu hari, Edward terlepas dari tangan Abilene dan jatuh ke laut. Cerita pun bergulir mengikuti perjalanan Edward yang terus berpindah tangan, dari nelayan, gelandangan, sampai anak jalanan. Pada akhirnya, setelah perjalanan panjang dan sempat hancur berantakan, sang boneka porselen dipertemukan kembali dengan Abilene yang telah dewasa. Buku ini adalah bukti bahwa cerita anak tidak identik dengan sesuatu yang simple. Sebaliknya, pesan dalam buku anak sering kali mendalam dan fundamental, termasuk pesan tentang pentingnya bersyukur yang disajikan secara implisit, namun menohok, dalam kisah Edward Tulane.

 


Topic

#RekomendasiBukuAnak

Edisi Terbaru

Try Something New

Follow Us

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia