Ajarkan Anak Bercerita Lewat Coretan Gambar

“Sepanjang dia bisa bercerita, kita bisa mengajarkannya bercerita lewat gambar. Izinkan anak menggambar sebebas mungkin,” pesan Weilin Han, konsultan pendidikan. Pada saat menulis, yang perlu diperhatikan, izinkan anak menulis jelek. Nggak apa-apa kalau hurufnya masih jelek. Jangan sampai anak baru belajar menulis sudah takut melakukan kesalahan.

Di negara Barat, anak tak terlalu dituntut untuk menulis huruf dengan bagus. “Makanya, kalau kita lihat, tulisan huruf orang Barat biasanya jelek. Tapi, dalam hal kemampuan bercerita, mereka lebih hebat. Dikaitkan dengan kemampuan motorik halus, anak yang sudah duduk di kelas 2 akhir bolehlah diajarkan huruf sambung,” komentar Weilin.
Lalu, biasakan anak menuliskan cerita sehari-harinya dalam bentuk scrapbook. Ini bisa menjadi cara yang menyenangkan. Usai liburan panjang kemarin, misalnya, mengajak anak menuliskan aktivitas liburannya. Tapi, jangan bayangkan hasil tulisannya akan menjadi tulisan panjang berlembar-lembar ala diary.

Cara lain yang bisa dicoba adalah membuatkan mindmapping. Seperti yang dilakukan Rully pada Nendra. “Ketika saya memintanya untuk menceritakan kembali tentang pengalamannya berenang di rumah Eyang, saya akan memberi beberapa pertanyaan untuk diisi oleh Nendra. Di antaranya, ketemu siapa saja? Main sama siapa? Bagaimana perasaanmu? Dan seterusnya. Dari situlah Nendra bisa mengeksplorasi pengalamannya itu dan mengembangkannya menjadi gambar dan tulisan yang padat,” kata Rully.

Ada pun Linda punya kiat yang berbeda. Ia justru menumbuhkan mimpi. Sejak tereskspos pada buku-buku karya pengarang cilik, Fia (8) hobi mengoleksi buku penulis cilik dan bermimpi bisa membuat buku karyanya sendiri. “Fia senang membaca buku karya anak. Ada buku tentang binatang peliharan, petualangan di luar angkasa, gadis cilik yang hobi memasak kue, dan banyak lagi. Tapi, walau pun ditulis oleh anak-anak, saya tetap harus menyortir isinya. Soalnya, ada juga cerita tentang hantu-hantuan atau pergaulan anak-anak dengan gengnya. Hal seperti itu pasti tak akan saya izinkan,” katanya.

Weilin menekankan lagi, tentu saja, tak ada salahnya jika orang tua ingin mengajarkan anak kemahiran menulis cerita. Intinya, tujuan yang ingin dicapai harusnya adalah kreativitas anak. “Buat saya, ketika itu menjadi ambisi orang tua, dijadikan saingan antar orang tua. Nah, hal itu sangat keliru. Ketika anak didorong untuk kreatif, tentu saja hal itu tidak salah. Tapi, ketika hal tersebut dikompetisikan, lalu anak tidak bisa menerima kekalahan atau tidak bisa menerima fakta saat tulisannya tidak diterima dan diterbitkan, itu yang harus dihindari,” kata Weilin.

Photo: Getty Images

 

Follow Us

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia