Aku Marah!

Semua anak normal sesekali pasti bermain agresif. Hal itu sebenarnya dapat membantu mereka belajar bersosialisasi dan memecahkan bermacam masalah.
 
Anak berusia 24 - 32 bulan termasuk makhluk paling agresif di planet ini karena¯sering memukul, menendang, menggigit, menarik, mendorong, dan melempar barang-barang. Mereka bukannya nakal,¯mereka hanya frustrasi karena tidak punya kendali, kekuatan, atau kemampuan untuk mengatakan apa yang mereka inginkan.
 
Di usia 3 tahun, sebagian besar anak sudah punya pemahaman dan penguasaan bahasa yang mereka butuhkan, sehingga mereka tak perlu lagi meledak-ledak sesering sebelumnya. Sesekali anak-anak usia prasekolah akan memperlihatkan amarah yang wajar¯yang disertai tangisan, teriakan, serta hentakan kaki. Bahkan masih tetap wajar jika anak Anda kadang-kadang menyerang dengan cara lain. Ini terjadi karena anak-anak biasanya tidak bisa belajar cara bertingkah-laku yang benar sebelum mereka belajar cara yang salah.

Ini dia fakta yang menenangkan: pura-pura berkelahi bukan hanya hal yang normal, tapi juga menjadi cara yang baik untuk belajar bersikap tidak keterlaluan. “Begitu anak melampaui batas ketika sedang pura-pura berkelahi dan ‘lawan’ mulai menangis, ia sudah belajar bahwa itulah saatnya untuk berhenti,” kata Richard Tremblay, Ph.D., direktur Centre of Excellence for Early Childhood Development di University of Montreal, yang sudah 20 tahun mempelajari tentang agresivitas anak. “Jika tidak pernah pura-pura berkelahi, maka anak tidak akan pernah tahu di mana batasnya,” jelasnya.
 
Bila Anda memperhatikan anak ketika sedang mengangkat pistol-pistolannya, Anda akan melihat mainan itu membuatnya menembak, berlari, berteriak, berpura-pura, meniru tokoh pahlawan (seperti polisi atau Superman), dan bersenang-senang. Ini cara yang sehat baginya untuk menyelami dan mengekspresikan perasaannya (dan berolahraga!).
   
Tetapi, Anda perlu menyeimbangkan pesan-pesan a la buku komik itu. Misalnya, kalau anak Anda membuat boneka Batman-nya menghajar Mr. Freeze, tanyakan mengapa Mr. Freeze harus dibunuh. Sarankan, daripada dibunuh lebih baik Batman membawa Mr. Freeze ke penjara saja agar mendapat hukuman yang setimpal. Mengemukakan alternatif akan membantunya melihat bahwa dalam kehidupan nyata, selalu ada pilihan lain yang bisa dimanfaatkan.

Mengajarkan empati juga bisa membantu seorang anak mengubah tingkah laku sosial negatifnya¯seperti suka memerintah dan menggertak¯menjadi tingkah laku yang dapat diterima. Misalnya, bermain bersama teman-teman sekolah saat istirahat dan memperhatikan perasaan mereka.

 

Follow Us

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia