Alasan Anak Membentuk Geng Sejak Kecil




Anak-anak sudah bikin geng sejak kecil? Mungkin Anda merasa hal biasa, tapi ada sebagian mama sulit memahaminya, apalagi jika geng itu mulai melakukan hal-hal yang dianggap kurang baik kepada temannya (apalagi jika itu anak Anda, bukan).  
 
Kejadian ini salah satu ilustrasinya. Suatu hari, Andra (6) pulang dari sekolah dengan wajah menunduk sedih. Rupanya, Robin dan dua teman di kelas yang dia pikir satu geng dengannya menyatakan bahwa Andra bukan teman mereka lagi. Dengan sedikit penghiburan dari sang mama, Nina (37), dan ekstra es krim di sore hari, kesedihan Andra berkurang. Hanya beberapa hari setelah kejadian tersebut, Robin dan teman-temannya itu kembali mengajak Andra bermain bersama. Dan, seperti lupa pada kesedihannya, Andra pun kembali asyik bermain dengan mereka.
 
Nina menuturkan, dirinya sempat ikut terpukul ketika mengingat kejadian Andra ‘ditolak’ teman-temannya. Namun, ia akhirnya menyadari bahwa anak-anak memiliki pola pikir yang jauh lebih sederhana dibandingkan orang dewasa.

Rupanya, hari itu, anak-anak itu merasa Andra ‘nggak asyik’ karena tidak suka dengan permainan mereka. Sesederhana itu! Mungkin Anda berpikir bahwa sebaiknya anak berteman tanpa pilih-pilih dan bisa diterima oleh semua temannya. Tapi, sebenarnya, sejak kecil pun anak sudah memiliki kecenderungan suka bermain dengan teman-teman tertentu.

Baca juga: 8 Alasan Si Kecil Sering Ditolak Temannya

Ketertarikan Sejak Bayi
Peer group, terutama pada anak-anak, adalah kelompok bermain terdekatnya. Kelompok bermain ini mencakup teman-teman di sekitar tempat tinggal (tetangga), keluarga, kerabat, anak dari sahabat sang orang tua dan teman sekolah (jika sudah bersekolah). Umumnya, peer group terdiri dari hanya 2 orang atau lebih, yang berusia sebaya. Seperti kisah Andra dan Robin, peer group mereka terbentuk karena mereka sering bertemu (sekelas) dan (awalnya) memiliki minat yang sama.

Peer group dapat ‘pecah’ jika ditemukan perbedaan yang bermakna bagi salah satu anggota peer group. Yang perlu Mama ketahui bahwa interaksi di dalam peer group pada anak ternyata berpengaruh pada kemampuan sosial mereka saat remaja bahkan dewasa!

Baca juga: Masalah Pertemanan, Sumber Stres Utama Anak

Di Indonesia, selain ‘kelompok pertemanan’, peer group juga dikenal dengan istilah ‘geng’. Orang tua sering kali berasumsi hanya remaja yang mulai memiliki geng. Padahal, menurut kesimpulan penelitian dari Universitas Cardiff, Inggris, mulai dari usia 6 bulan, anak-anak sudah bisa berinteraksi dan menunjukkan rasa nyaman dengan anak sebaya yang lain. Jika anak balita bertemu dengan beberapa teman sebaya yang sama secara berkala, ia sudah mulai memilih siapa yang lebih ia sukai. Biasanya, ia tahu anak mana yang mudah membuatnya frustrasi dan cenderung bersama anak yang memberinya rasa senang.

Proses berinteraksi intensif dengan teman sebaya yang sama di usia awal (geng ala balita), membantu anak untuk mengembangkan beberapa kemampuan dasar interaksi sosial seperti mengelola perhatian, mengatur emosi, menahan dorongan negatif, meniru perilaku, memahami sebab-akibat, dan tentunya meningkatkan kompetensi berbahasa. Geng, meskipun di usia sangat dini, memiliki peranan positif bagi perkembangan kepribadian anak. Sebab, dengan memiliki geng, tumbuh rasa aman dan dianggap penting dalam kelompok.

Namun, Mama tidak perlu khawatir jika saat balita, kesempatan berinteraksi sosial anak cukup minim, sehingga mereka tidak memiliki geng. Karena dari hasil penelitian mengenai perkembangan sosial anak, kelemahan pada beberapa kemampuan sosial di masa balita ini dapat diimbangi dengan interaksi positif dengan orang dewasa di sekitarnya ataupun para kakak yang lebih toleran.
 
Baca juga:
Bila Anak Digosipkan Oleh Teman-Temannya, Lakukan 6 Hal Ini!
6 Cara Mengarahkan Anak Memilih Teman Baik
Manfaat Teman dalam Membangun Karakter Anak
5 Cara Mendisiplinkan Balita yang Hobi Memukul Teman


Foto: 123rf

 


Topic

#usiasekolah #parenting

 





Follow Us

angket

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia