Apa Saja Penyebab Tidur Anak Tidak Nyenyak?



Tidur merupakan kebutuhan penting setiap orang, terutama anak-anak. Namun, tak jarang, Mama seperti kesulitan untuk membuat si kecil mau tidur.

Berbagai alasan dan jurus dikeluarkan agar si kecil bisa segera terlelap. Mungkin Anda sering menggunakan alasan bahwa anak yang tidak mau tidur siang akan sulit tumbuh tinggi.

Hal tersebut tak sepenuhnya salah. Menurut dr. Bernie Endyarnie Medise, Sp.A(K), MPH, dari Divisi Tumbuh Kembang – Pediatri Sosial, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, ada human growth hormone yang memang dikeluarkan saat anak tidur. Jika si kecil kurang tidur atau tidurnya tak berkualitas, maka proses tumbuh kembangnya terhambat.

Tidur tak hanya perkara menutup mata saja. Lama waktu tidur serta kualitasnya perlu diperhatikan. Aktivitas tidur dibagi dalam dua fase, yaitu Non-Rapid Eye Movement (NREM) alias tidur tenang dan Rapid Eye Movement atau fase tidur dalam.

Si kecil dianggap tidur nyenyak atau deep sleep jika telah melalui semua fase dengan baik.

Coba Anda perhatikan, apakah si kecil tertidur pulas tanpa mendengkur? Atau ia terbangun di tengah malam?

Inilah 4 penyebab tidur anak tidak nyenyak dan terganggu.

Baca juga: 7 Terapi Sensori Ini Atasi Anak Susah Tidur

Pengganggu Tidur 1: Obstructive Sleep Apnea (OSA)
Ini terjadi ketika jalur napas si kecil terhalang saat ia sedang tidur. Ia berhenti bernapas beberapa kali – bisa satu kali setiap menit, memotong asupan oksigen yang dibutuhkan oleh tubuhnya untuk tumbuh sehat.

Gangguan ini banyak terjadi pada anak-anak yang obesitas. Mereka berisiko lebih tinggi mengalami OSA karena memiliki jaringan lemak lebih banyak di tenggorokan dan leher yang mempersempit saluran udara.

Namun, OSA juga dapat disebabkan karena si kecil memiliki amandel dan adenoid (jaringan kecil kelenjar getah bening yang terletak di belakang rongga hidung) yang membesar akibat keturunan. Anak-anak yang mengalami ini justru berjuang untuk menambah berat badan karena kekurangan oksigen saat tidur malam menghambat kemampuan mereka untuk tumbuh. Otak dan tubuh membutuhkan oksigen agar dapat berkembang dengan baik. Saat si kecil mengalami OSA, dia tidak mendapatkan cukup asupan oksigen saat tidur. Ini akan menghambat perkembangannya.

Waspadai ini: Suara seperti dengkuran keras, diikuti dengan tersedak, suara mendengus, dan megap-megap kehabisan udara saat tidur. Si kecil mungkin akan bangun beberapa kali saat malam dan membolak-balikkan tubuh dalam tidurnya. Meskipun jumlah waktu tidurnya cukup, dia terlihat kelelahan karena tidak cukup mendapat asupan oksigen.

Cara mengatasi: Minta bantuan dari praktisi kesehatan tidur atau dokter anak. Jangan bereksperimen menggunakan produk anti mendengkur yang banyak dijual bebas. Dokter akan mengobservasi perilaku tidur si kecil.

Untuk anak-anak yang menderita OSA, tindakan pertama yang dilakukan adalah operasi menghilangkan amandel dan adenoid. Operasi ini hampir bisa menyembuhkan sebagian besar kasus OSA.

Cara lain adalah dengan metode tanpa operasi yaitu si kecil terus menerus menggunakan mesin untuk saluran napas, atau pipa yang diletakkan di mulut  selama ia tidur.

Baca juga: Cegah Sleep Apnea Sejak Usia Dini

Pengganggu Tidur 2: Alergi Saluran Pernapasan
Bayangkan Anda mencoba tidur malam dengan serangan rasa gatal yang konstan, hidung tersumbat, dan bersin tiada henti? Itulah yang dihadapi oleh anak-anak penderita alergi saluran pernapasan setiap malam.

Kondisi ini terjadi ketika si kecil menghirup partikel yang membuatnya alergi. Partikel ini mengiritasi saluran pernapasan, dan menyebabkan gejala seperti bersin, mata gatal, dan hidung tersumbat. Biasanya alergen (penyebab alergi) yang paling umum adalah tungau, debu, bulu hewan peliharaan, dan serbuk bunga tertentu.

“Anak-anak yang memiliki alergi biasanya jadi sulit bernapas dengan baik ketika tidur. Tidurnya pun menjadi tidak nyenyak dan memengaruhinya saat bangun pagi keesokan harinya,” ujar dr. Bernie.

Waspadai ini: Hidung meler maupun tersumbat. Sebagian besar anak juga mengalami mata gatal dan berair, berdahak, batuk, atau bahkan radang tenggorokan. Mama juga akan menyadari bahwa si kecil bernapas dengan mulut atau mulutnya terbuka terus saat tidur.

Cara mengatasi: Sekitar 70% anak-anak penderita alergi saluran pernapasan dapat mengatasinya ketika mencapai usia 17 tahun. Sementara itu, Mama bisa melakukan tes alergi untuk mencari pemicunya. Hindari penyebab alergi tersebut untuk meringankan gejalanya. Obat-obatan, seperti antihistamin atau nasal spray, digunakan dengan pengawasan dokter.

Baca juga: Beda Alergi dan Batuk Pilek

Klik halaman selanjutnya untuk membaca pengganggu tidur yang ketiga dan keempat.

 

 

Follow Us

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia