Film Kartini untuk Semua Umur, Apa Iya?



Seminggu terakhir ini, Mama pasti cukup sering membaca berbagai pemberitaan media mengenai film Kartini karya sutradara Hanung Brahmantyo. Film yang dirilis pada 19 April 2017 itu memang menuai banyak pujian dan respons yang positif dari masyarakat maupun media Indonesia. Di hari pertama pemutarannya saja, film tersebut ditonton oleh 50 ribu orang. Dilansir dari Merdeka.com, bahkan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, pun tak urung memuji, usai menyaksikan film yang dibintangi Dian Sastrowardoyo itu.  "Bagus banget, karya Hanung Bramantyo, kan? Dia bisa gambarkan bahwa ketika orang melawan tradisi seringkali dianggap tidak baik. Tapi kita malah seringkali terjebak di tradisi yang salah. Oleh karena itu buku jadi jendela," ujar Ahok dalam video yang dibagikan oleh sang sutradara di akun media sosialnya.

Maka tak heran, kalau banyak orang tua juga sangat antusias menikmati film tersebut bersama putra-putri mereka. Apalagi, film Kartini diberikan rating SU atau Semua Umur. Dan karena tak sempat mengajak si kecil ke bioskop saat akhir pekan lalu, maka Anda  pun berniat mewujudkan rencana Anda itu di long weekend kali ini. Namun, sebelum membeli tiket menonton untuk seluruh anggota keluarga, termasuk si kecil yang masih berusia balita, ada baiknya Mama memerhatikan beberapa pendapat di bawah ini mengenai film tersebut, termasuk soal rating SU-nya.    

Redaktur Eksekutif Parenting Indonesia, Petty Lubis, yang telah menonton film Kartini, menyayangkan tidak adanya pembatasan usia untuk film tersebut. Padahal, menurut Petty, “Kebanyakan dialognya dewasa, jadi sulit dimengerti anak-anak, terutama yang masih balita atau baru duduk di kelas-kelas awal sekolah dasar. Sepertinya lebih cocok untuk anak di atas umur 13 tahun. Kalau ceritanya, memang seputar perjuangan pembelaan hak perempuan dan pendidikan untuk semua golongan anak-anak, sih itu tidak masalah sebenarnya."

Prameshwari Sugiri, mama dari Kiska (7,5) dan Dinta (2), yang menonton bersama ibu dan mama mertuanya pun mengakui bahwa film itu bagus. Namun, seperti Petty, Imesh, panggilan Prameshwari, juga berpendapat bahwa film Kartini bukan untuk semua umur, Lewat akun media sosialnya, ia menulis seperti ini, “Saya sempat membayangkan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin dilontarkan anak-anak yang ada di dalam bioskop dan jawaban seperti apa yangg diberikan orang tuanya.” Menurut Imesh, anak-anak itu sangat kritis. Dengan mengajak mereka menonton sebuah film, maka orang tua harus siap dengan kebingungan anak yang berujung pada pertanyaan bertubi-tubi kepada orang tuanya. "Karena Kiska selalu menghujani saya dengan pertanyaan-pertanyaan setiap kami selesai nonton satu film bersama - di bioskop maupun rumah. Kalau pakai gayanya Kiska, mungkin ia akan melontarkan pertanyaan-pertanyaan ini, "Kenapa Kartini, yang putri, bilang bibi pembantu itu adalah ibunya? Kenapa bapaknya minta ditemani tidur sama bibi pembantu? Kenapa ibunya marah? Kenapa Kardinah nangis pas jadi pengantin? Kenapa Rukmini marah lihat Kardinah menikah? Itu pangerannya? Kok, sudah tua, punya istri dan anak? Apa maksud Lastri dengan suaminya nikah lagi? Dan pertanyaan-pertanyaan sejenis," tulis Imes selanjutnya.

Sebenarnya, pendapat seorang mama yang juga telah menonton Kartini, film tersebut bisa menjadi bahan diskusi orang tua dan anak kelas 4 sekolah dasar karena nyambung dengan mata pelajaran IPS. "Tapi jangan bawa balita, deh, belum paham," kata sang mama. Soal diskusi, Nessi Purnomo, psikolog dari Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta, mengungkapkan, "Jadikan kegiatan diskusi mengenai film sebagai kebiasaan antara mama, papa, dan anak. Yang penting, sikap orang tua terbuka terhadap diskusi. Jadi, anak yakin, kalau mau bertanya apa pun.”

Tentu saja, Mama pun harus siap dengan informasi yang lebih panjang tentang sosok Kartini dan tokoh-tokoh lain yang muncul dalam film. Jangan lupa, berikan pengertian kepada anak yang masih kecil bahwa ada batasan usia untuk penonton film, karena akan ada dialog atau adegan yang belum dapat ia pahami. Jika Mama memberikan pengertian secara pelan-pelan, anak juga bisa mengerti mengenai hal itu, kok, dan tidak memaksa Anda mengajak ia menonton.

Mengenai pemberlakuan rating pada sebuah film, Krisnadi Yuliawan, pimpinan redaksi Rumahfilm.org, mengungkapkan bahwa setiap negara mempunyai kecenderungan sendiri untuk hal itu, yang mewakili latar belakang sosial kultur penontonnya, termasuk para orang tua. Sementara Lembaga Sensor Film (LSF), akan mewakili sensor secara general. “Karena tidak ada adegan seks atau kekerasan, maka film Kartini dikategorikan untuk semua umur,” tutur Krisnadi.

Di Indonesia, pemberian rating pada sebuah film sebenarnya didasari oleh pasal 28 ayat (1) jo pasal 32 dalam Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 2014 tentang Lembaga Sensor Film. Di dalamnya telah diatur set of value yang mewakili karakter Indonesia. Lebih lanjut Krisnadi menjelaskan, “Film yang aman untuk anak adalah yang tidak mengindikasikan kekerasan, baik dalam bahasa dan perilaku, juga tidak mengandung adegan seksual.”

Durasi film juga perlu diperhatikan, Ma, terkait dengan kemampuan anak berkonsentrasi menyimak sebuah cerita. Rata-rata anak hanya mampu berkonsentrasi selama 3 menit dikalikan usianya. Jadi kalau anak berusia 5 tahun, maka kemampuannya berkonsentrasi hanya 15 menit, lho. Sementara film Kartini berdurasi 119 menit. Tentu saja film itu akan terasa sangat panjang bagi mereka yang berusia di bawah 13 tahun, sehingga bukan tak mungkin mereka pun bisa merasa bosan dan tidak menikmati isi film.

Meski begitu, pilihan tetap ada di tangan Anda, Ma, apakah akan mengajak si kecil menonton film Kartini atau tidak. Yang pasti, saran Nessi, carilah informasi sebanyak mungkin tentang film tersebut. Dan jika perlu, tontonlah lebih dulu filmnya sebelum mengajak anak nonton bersama. Dengan begitu, Anda akan siap menerima petanyaan-pertanyaan yang dilontarkan anak seputar film yang ditonton. (Wita Nurfitri)


Baca juga: Mengenal Wujud Kasih Sayang Lewat Film
 

 


 

 

Follow Us

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia