Jika Anak Terlalu Cepat Dewasa, Terapkan Strategi Ini


Tentunya semua orang tua merasa bahagia mendapati anak-anak menghabiskan waktu sebagaimana mestinya, alias sesuai tahapan perkembangan. Tapi, bagaimana jika periode kanak-kanak ini (terlihat) usai sebelum saatnya? Yaitu, ketika anak-anak yang Anda pikir masih si kecil kesayangan dan senang bermanja dengan Anda, sudah berperilaku seperti kebanyakan remaja.
 
Dalam berbagai studi, masa kanak-kanak biasanya berakhir pada usia 12 tahun. Namun sesungguhnya, perilaku ala remaja sudah bisa ditemukan jauh sebelum mereka menginjak usia 12 tersebut! Mereka menginginkan produk bermerek tertentu atau mendatangi tempat hang-out populer. Para gadis kecil yang menghabiskan uang saku untuk membeli kosmetik atau berniat diet demi postur tubuh yang menurutnya kekinian, langsing dan menarik. Serta ‘gejala’ paling sering adalah, mereka enggan untuk menyanyikan lagu atau membaca buku yang dibuat untuk konsumsi anak-anak serta menghabiskan banyak waktu di dunia maya.
 
Sebuah survei di Inggris yang disponsori oleh BullGuard terhadap 2.000 orang tua menemukan bahwa sebagian besar orang tua mengkhawatirkan kondisi ini. Sebanyak 77 persen responden menyalahkan internet sebagai penyebab cepatnya masa kanak-kanak berakhir. Selain internet, tekanan sosial dari teman dan maraknya informasi yang mudah diakses anak (melalui media lain) juga menjadi penyebab percepatan perubahan dari dunia anak menjadi dunia remaja.
 
It takes a village to raise a child’. Pepatah tersebut sepertinya berlaku juga untuk situasi ini. Meskipun orang tua adalah faktor paling utama dalam pembentukan karakter anak, kondisi lingkungan, masyarakat, pertemanan, tekanan ekonomi hingga perubahan teknologi tentu berkontribusi pada pertumbuhan mereka.
 
Sebanyak 40 persen orang tua yang terlibat dalam survei ini mengaku bahwa selebritis dan teman sering kali lebih berpengaruh terhadap anak-anak mereka dibandingkan orang tua mereka sendiri. Situasi ini sungguh berbahaya karena orang tua tidak bisa menyaring informasi
dan pemahaman apa saja yang diterima anak mereka. Apakah kecenderungan ini juga terjadi di Indonesia?
 
Tentu saja! Dan, tahapnya sudah cukup memprihatinkan. Namun banyak orang tua yang akhirnya ‘menyerah’ pada perubahan zaman tanpa berpikir lebih jauh dampak negatif yang nyata. Bukan hanya biaya ‘gaul’ yang lebih tinggi, tapi jauh lebih serius daripada itu. Dr. Gail Gross, pakar pendidikan dan pola asuh asal Universitas Houston, AS, berulang kali menerangkan dalam seminarnya bahwa tingkat stres pada remaja seringkali disebabkan oleh berkurangnya periode kanak-kanak, yang berarti berkurangnya masa bermain bebas yang khas di kelompok usia tersebut.

Baca juga:
Anak Suka Meniru Gaya Bahasa Remaja

Padahal, bermain bebas adalah kebutuhan anak baik bagi perkembangan fi sik maupun mentalnya. Saat komponen tersebut tergantikan dengan berbagai kompetisi mulai dari urusan akademis hingga gaya hidup, maka mudah sekali mereka mengalami stres. Patut diingat bahwa tidak mungkin mempercepat kedewasaan emosional. Anak-anak mungkin saja berperilaku selayaknya remaja atau orang dewasa melebihi usianya, namun sesungguhnya kematangan emosinya tidak mengikuti tampilan luar tersebut. Kondisi ini sesungguhnya bisa direm atau diperlunak dampaknya melalui banyak cara, jika kita mau.

Berikut masukan dari beberapa papa dan mama tentang strategi mereka mempertahankan masa kanak-kanak semaksimal mungkin.
 
AMRI MUHARRAM (36)
Menurut Papa dari Maliq (10) dan Hana Aisyah (8) ini, internet bukan satu-satunya penyebab hilangnya masa kanak-kanak sebelum waktunya. Beberapa faktor lain berperan penting sebagai pemacu pendewasaan dini ini, secara langsung maupun tidak. Misalnya faktor situasi, seperti tekanan ekonomi dan kemacetan. Untuk mengatasi hal ini, pasangan Amri dan Heidi yang lahir dan besar di ibukota, memutuskan untuk membesarkan anak-anak mereka di Balikpapan.
 
Kota yang relatif baik infrastrukturnya dan perjalanan dapat diprediksi (tanpa macet parah), memudahkan keduanya untuk memiliki lebih banyak waktu bersama keluarga, meskipun keduanya bekerja. Prinsip keduanya, anak membutuhkan ‘rumah yang sehat’, yaitu tempat berkumpul keluarga yang hangat, akrab dan terjalin melalui kasih sayang dan komunikasi terbuka. Amri dan istri berbagi tugas untuk memastikan anak-anak tidak pernah kehilangan perhatian orang tuanya.
 
“Bagi kami, kondisi serba punya, serba bisa, jalan-jalan keluar negeri dan sebagainya, bukanlah hal mendasar yang dibutuhkan anak-anak. Tetapi perhatian dan keberadaan orangtua yang konsisten di dalam keseharian mereka.” Tidak hanya itu, mereka juga mencoba mengantisipasi godaan untuk berinternet atau bermain gadget seperti anak lain melalui kegiatan seni maupun olahraga. Rupanya, strategi ini sangat sukses. Kedua anaknya menjalani olahraga inline skating dengan tekun hingga mencapai prestasi yang membanggakan di skala daerah maupun nasional.


DEDI TRIATNA KUSNADI (37)
Meskipun Dedi dan istri bekerja, namun mereka berusaha maksimal untuk selalu mendampingi ketiga putrinya dalam proses pertumbuhan ini. Mereka sangat menyadari dan khawatir atas maraknya dunia internet zaman sekarang. “Banyak anak di sekitar saya bebas menggunakan gadget, tanpa orang tuanya tahu apa saja yang diakses dan ditonton mereka. Tiba-tiba mereka mengetahui hal-hal yang ‘menakutkan’ dan menceritakan pada teman-teman. Saya tidak ingin anak-anak kami menjadi salah satu dari mereka.”
 
Dedi menganggap internet memang teknologi yang hebat untuk membantu, namun usia anak-anak masih rentan mendapatkan pengaruh negatif tanpa orangtua sadari. Baik dari jenis tontonan maupun pengaruh lingkungan. Untuk itu ia membatasi durasi penggunaan gadget saat anaknya meminta.
 
Ketiga putrinya, Ayesha (9), Sarah (7), dan Shireen (2) sejauh ini bersikap sewajarnya anak-anak. Pengaruh negatif dari lingkungan dihindari dengan memilih sekolah dan pergaulan yang sesuai dengan nilai-nilai keluarga. Dedi dan istrinya, Putri Nailatul, juga berulang kali memberi pemahaman, terutama pada Ayesha dan Sarah tentang apa yang boleh dan dilarang untuk dilihat. Sejauh ini mereka sangat kooperatif dan tidak pernah mengeluhkan aturan dari orang tua.


VINA MAULANA (37)
Seperti responden yang lain, Vina pun percaya interaksi positif antara anak dan orang tua dapat menjadikan anak-anak bertumbuh dengan wajar. Sebagai alternatif gadget, ia memperkenalkan berbagai games yang dapat dilakukan bersama seperti congklak, monopoli, engklek, hingga permainan yang ‘ngarang’ sendiri. Jika cuaca mendukung, ia mendorong anak-anak beraktivitas di luar ruangan.
 
Vina mengakui tidak mudah untuk sepenuhnya lepas dari gadget karena ini sudah zamannya. Tugas sekolah pun bergantung pada internet dan menggunakan berbagai aplikasi online. Khalifa (14) dan Kamila (11) memulai ‘pertemanan’ dengan ponsel di akhir minggu saat papa mereka membolehkan untuk menggunakan gadget miliknya. Ketika Vina dan suami sepakat untuk memberi ponsel ke anak-anak, mereka membuat perjanjian yang ditandatangani oleh orang tua dan anak!
 
Di dalam perjanjian tersebut ada aturan ‘boleh dan tak boleh’ saat menggunakan internet serta no privacy bagi anak-anak jika berhubungan dengan gadget. Tak ada password pada aplikasi serta hanya boleh diakses di ruang keluarga atau didampingi minimal seorang dewasa. Mereka juga memanfaatkan aplikasi ‘Our Pact’ yang dapat mengontrol aplikasi maupun fi turfi
tur pada ponsel anak melalui gadget milik orang tua.
 
Sementara untuk mengerem efek buruk dari pergaulan yang mampu membuat anak berubah lifestyle-nya, Vina sedikit ikut campur dalam interaksi sosial anak. Ia mengarahkan anak untuk berteman baik dengan anak lain berhobi sama dan positif.


ANN SJAMSU (40)
Selain khawatir, mama dari Faradiba (9) ini juga sedih melihat anak-anak terlihat bangga bergaya layaknya orang dewasa. Namun menurutnya masih ada harapan untuk anak-anak ini bergaya sesuai umurnya, terutama jika anak tersebut mampu menghadapi peer pressure dan memiliki role model yang positif.
 
Salah satu contohnya dengan boneka Barbie yang tidak pernah diperkenalkan Ann pada putrinya. Ketika Diba terpengaruh teman-temannya dan meminta pada sang ibu, Ann tetap pada pendiriannya. Sayangnya godaan pada putrinya begitu besar hingga akhirnya Diba memiliki Barbie hadiah dari sang nenek. Ann memang masih mentolerirnya, namun ia berusaha agar kondisi ini tidak berulang untuk berbagai hal lain yang lebih prinsipil.
 
Apalagi ia ikut mengakui faktor internet dan sosial media cukup sulit dikontrol oleh orang tua. Baginya anak-anak yang seperti orang dewasa mini itu justru terlihat norak dan jangan sampai Diba terkena arus tersebut.
 
Komunikasi terbuka antara mama dan anak menjadi kunci utama. Sebagai orang tua tunggal dan bekerja, Ann merasa cukup sukses ‘mendoktrin’ putrinya melalui pilihan buku, tontonan hingga aktivitas yang disepakati bersama. Ann juga berusaha menghadirkan contoh yang baik. Berupa teman dan kerabat yang selama ini bersikap sesuai usia (dan menjadi idolanya Diba hingga hari ini), serta melihat kembali foto-foto masa kecilnya yang wajar saja.
Saat ini, selain memiliki perpustakaan dengan berbagai genre buku sesuai usia, Diba juga menekuni taekwondo dan menunjukkan prestasi yang membanggakan

Baca juga:
Dampak Anak Praremaja Terobsesi Penampilan

Foto: pixabay