Komunikasi dengan anak praremaja

Berkomunikasi dengan anak yang sudah praremaja sebenarnya lebih mudah. Pemahaman mereka sudah memadai untuk bicara tentang masalah yang kompleks. Tapi di sisi lain, Anda tidak lagi bisa mengendalikan alur pembicaraan semudah dulu. Anda tidak bisa lagi main atur atau memegang kendali secara otoriter. Anak sudah punya pemikiran dan perasaan sendiri tentang hal yang ia bicarakan pada Anda. Oleh karena itu, jangan memaksakan apa yang menurut Anda benar kalau Anda tidak mau terlibat pertempuran sengit dengan anak.
    Berikut ini 10 rambu untuk membimbing Anda berkomunikasi dengan anak praremaja:

  • Komunikasi terbuka, artinya didominasi dengan pertanyaan terbuka seperti, “Bagaimana sekolahmu hari ini?” bukan “Kamu senang, kan, hari ini di sekolah?”
  • Dua arah. Ada kalanya Anda bicara dan ada kalanya Anda ganti mendengarkan.
  • Mendengar aktif artinya tidak hanya sekadar mendengar tapi juga memahami dan menghargai apa yang diutarakan anak. Terima dan refleksikan emosi yang ditunjukkan anak. Misalnya dengan mengatakan, “Iya ya, kamu kesal karena diejek seperti itu...”
  • Benar-benar sediakan diri Anda untuk berkomunikasi dengannya. Jika sedang tidak bisa, katakan terus terang daripada Anda tidak fokus. “Aduh, Mama sebenarnya ingin dengar ceritamu sekarang, tapi Mama harus terima telepon dulu. Bagaimana kalau sepuluh menit lagi, oke?”
  • Jangan paksa dia untuk mengungkapkan sesuatu yang dia rahasiakan karena akan membuatnya tidak nyaman dan enggan berkomunikasi lagi dengan Anda lain waktu. Anak praremaja sudah mulai memiliki privasi, jadi mungkin saja ada hal-hal yang memang sengaja ia rahasiakan.
  • Utarakan perasaan Anda. Misalnya, “Mama khawatir sekali kalau kamu tidak langsung pulang ke rumah. Bisa tidak kalau kamu telepon Mama dulu agar Mama tenang.” Namun jangan bebani anak dengan masalah Anda sebagai orang dewasa seperti masalah hubungan suami-istri atau keuangan.
  • Dorong anak untuk mengatakan hal-hal positif tentang dirinya. Misalnya, “Aku sedang berusaha menguasai matematika” daripada “Aku payah dalam matematika”.
  • Jeli terhadap bahasa tubuh anak. Terkadang emosi anak tidak semuanya tersampaikan secara lisan. Anda harus bisa menangkap sinyal-sinyal emosi dari bahasa tubuhnya.
  • Hindari komentar menyindir atau meremehkan anak. Contoh, “Ah, baru gitu aja kok sedih, payah deh kamu!”
  • Hindari ceramah panjang dan menyalahkan anak yang biasanya dimulai dengan kalimat pembuka seperti, “Tuh kan, Mama kan sudah pernah bilang... dan seterusnya.”
Anda benar-benar mendengarkan?
Coba cek apakah Anda benar-benar mendengarkan anak ketika dia sedang bicara pada Anda!
  • Apakah Anda menghentikan aktivitas dan memberikan perhatian penuh?
  • Apakah ada kontak mata antara Anda dan anak?
  • Apakah Anda menahan diri untuk tidak menginterupsi ketika anak sedang bicara?
  • Apakah Anda mengangguk, tersenyum dan bergumam sebagai respon atas apa yang dikatakan anak?
  • Apakah anak tidak perlu mengulangi ceritanya karena Anda sudah paham?
  • Apabila semua jawaban Anda: ya, artinya Anda benar-benar mende-ngarkan. Jika tidak, Anda perlu belajar lagi untuk jadi pendengar yang baik.
 
PAR 0108

 





Follow Us

angket

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia