Lakukan Ini Bila Anak Tidak Punya Teman


Sejalan dengan pertumbuhan anak, beberapa orang tua sering kali berharap pada anak mereka yang sudah bersekolah untuk mudah berteman bahkan disenangi semua anak sebayanya. Padahal, untuk sebagian anak, membuatnya diterima oleh teman sebayanya adalah sebuah tantangan besar! Peluang anak untuk mudah diterima teman sebayanya dan membentuk geng dipengaruhi oleh kondisi alamiah anak tersebut, interaksi sosial saat balita dan pola asuh di rumah. Anak yang memiliki hubungan baik dengan orang tua dan saudara kandung di rumah biasanya memiliki rasa percaya diri yang positif dan terlihat saat ia memulai pertemanan.

Kondisi alamiah anak mencakup sifat-sifat bawaannya (kalem, riang, mudah tersenyum, pemalu, dll) dan kondisi fisik ataupun psikologisnya (berkebutuhan khusus, disabilitas, anak berbakat, dll). Sementara, riset menunjukkan, penolakan yang dialami anak untuk diterima ke dalam suatu kelompok dipengaruhi oleh perilaku anak itu sendiri. Anak yang kurang menunjukkan perilaku pro-sosial, seperti sangat pemalu atau terlalu agresif sering tertolak oleh teman sebayanya. Penolakan ini memberi efek negatif pada anak bahkan trauma untuk berada dalam lingkungan sosial di kemudian hari.

Orang tua perlu mempertimbangkan semua faktor sebelum memutuskan apakah perlu melakukan intervensi. Jika memang diperlukan, intervensi seperti apa yang tepat bagi anak? Menurut Lita Lunanta, M.Psi, Psi., psikolog dari Klinik Pelangi, Kota Wisata Cibubur ini, memiliki kelompok pertemanan adalah hal yang baik. Namun, orang tua perlu aktif mengobservasi kelompok pertemanan anak mereka. Salah satu yang perlu diperhatikan adalah apakah kelompok itu bersifat eksklusif atau tidak.

Orang tua dapat mendorong anak untuk terbuka menerima anak lain masuk ke dalam geng mereka. Jika ternyata anak mengalami hambatan untuk berteman akrab hingga memiliki geng, Mama bisa membantu dengan banyak berkomunikasi dengan anak, memberi contoh perilaku positif di rumah hingga mengatur playdate dengan mama lain.

Leny Meylani, mama dari Edrea (9) dan Kayla (5), termasuk rajin mengatur playdate sejak kedua anaknya masih kecil. Ia dan suami berkomunikasi dengan orang tua dari teman-teman anak di sekolah dan mengajak keluarga tersebut untuk playdate. Kadang di rumah ataupun di mal. Seiring dengan waktu, Leny mengetahui karakter anak yang cocok dengan Edrea maupun Kayla, dan mengatur playdate berulang-ulang dengan anak tersebut. Sering kali asal mula playdate adalah untuk Edrea, namun Kayla si adik akhirnya menjadi anggota geng juga! Edrea yang lebih kalem dibandingkan adiknya, sekarang menjadi anak yang percaya diri dan disenangi banyak teman.

Geng milik Edrea yang terbentuk saat ia masih di duduk di kelas playgroup beberapa tahun lalu masih berlanjut hingga sekarang, meskipun anggota geng menyebar di berbagai sekolah yang berbeda. Bahkan Leny dan suaminya, Kabul, akhirnya memiliki ‘geng bayangan’ berupa sekumpulan orang tua yang anak mereka satu geng!

Foto : Pixabay 

Baca juga : 4 Manfaat Sosial Anak Bermain di Luar 

 

Follow Us

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia