Membicarakan Teror Kekerasan Kepada Anak


Peristiwa ledakan bom yang terjadi pada Minggu pagi, 13 Mei di beberapa gereja di Surabaya tentu saja tak hanya menyita perhatian orang dewasa. Anak-anak yang sudah   terpapar televisi dan media sosial tentu merasa khawatir, karena mereka juga tahu bahwa anak-anak menjadi korban pada peristiwa itu. 

Dilansir dari akun Instagram resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, @kemdikbud.ri, dan akun Twitter Najeela Shihab, praktisi pendidikan dan pendiri Keluarga Kita, berikut ini adalah beberapa panduan yang bisa Anda terapkan untuk membicarakan tentang teror kekerasan kepada anak. Yang penting cari waktu dan suasana yang tepat sebelum mengajak si kecil berbicara, ya, Ma.

Cek perasaan anak tentang kejadian teror. Ajak ia mengenali, mengidentifikasi, serta mengekspresikan emosinya. Mungkin saja, anak memiliki rasa takut yang berlebihan. Pahami bahwa setiap anak memiliki karakter masing-masing, dan ingat, setiap anak memiliki tingkat kecemasan yang berbeda, dan cara mengekspresikan yang unik. Bila ada rasa marah pada diri anak, arahkan ke sasaran yang tepat, yaitu pelaku kejahatan. Pastikan Anda juga bersikap tenang, Ma, agar tidak menularkan kekhawatiran yang berlebihan kepada anak.

Cari tahu apa yang anak pahami. Anda bisa membahas singkat fakta kejadian yang terkonfirmasi. Ajak anak menghindari isu dan spekulasi, termasuk prasangka kepada identitas golongan tertentu. Untuk itu, jadilah teladan bagi anak tentang literasi media dan informasi. Ajarkan anak bersikap kritis, tidak menyebarkan info yang belum dicek kebenarannya, atau dapat menimbulkan keresahan. Apabila ia berbagi fakta, opini, atau spekulasi tertentu, ajukan pertanyaan mengenai kredibilitas informasi, isu provokasi, dan cara menanggapinya, misalnya, “Sudahkah di-recheck ke website resmi?”, “Apakah manfaatnya, kalau gambar ini disebarkan?”

Jelaskan kepada anak bahwa teror kekerasan sangat jarang, namun kewaspadaan tetap diperlukan. Pastikan anak tahu cara bereaksi dalam situasi darurat; memiliki informasi yang diperlukan, misalnya hafal nomor HP orang tua, serta tingkah laku yang tepat dalam situasi darurat, seperti mengikuti instruksi, menghindari kerumunan. Ajarkan anak untuk sensitif dan responsif terhadap lingkungan sekitarnya, mengamati kondisi dan tingkah laku orang di sekelilingnya, seperti siapa yang butuh bantuan, tahu cara mengungkapkan kecemasan kepada orang dewasi, memerhatikan tanda/lambing keamanan (misalnya, pintu darurat).

Diskusikan lebih banyak tentang sisi kesigapan dan keberanian para aparat, seperti polisi, TNI, dan juga petugas kesehatan, yang melindungi, melayani, dan membantu saat tragedi terjadi, daripada membicarakan tentang kejahatan pelaku teror.

Jalani kegiatan keluarga besama seperti biasanya untuk memberikan rasa nyaman, serta tidak tunduk kepada tujuan pelaku teror yang dapat mengganggu kehidupan. Biasakan membahas kejadian sehari-hari, maupun berita popular di media massa yang sesuai dengan usia anak, sebagai bagian dari rutinitas keluarga. Kebersamaan dan komunikasi rutin sangat penting untuk mendukung anak dan mengajarkan ia pentingnya nilai sosial dalam masyarakat. (IP)

Baca juga: Ajarkan Anak Hadapi Rasa Takut


 

 

Follow Us

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia