Siap Hadapi UN, Bekali Anak 3 Hal Ini!


UN memang akan dihadapi oleh anak sebentar lagi (meski sempat ada wacana dari Kemendikbud bahwa UN akan ditiadakan dan diganti dengan Ujian Sekolah Berstandar Nasional/USBN). Tapi, biasanya mamalah yang paling ‘sibuk’ menghadapi momen penting ini. Mulai dari mendaftarkan anak ke kursus bimbel, membeli aneka buku berisi bank soal, hingga puasa dan bernazar demi kelancaran anak menghadapi ujian.

Tak perlu panik, Ma. UN sekolah dasar memang salah satu tahap penting dalam pendidikan anak. Tapi percayalah, dengan persiapan yang matang dan terencana, ia pasti bisa melewati itu semua dengan lancar. Tentu saja Mama perlu membantunya. Inilah beberapa hal yang bisa Mama lakukan.

1. PERBANYAK LATIHAN SOAL
Hal ini yang dilakukan di sekolah Olivia (11) yang terletak di bilangan Ragunan, Jakarta Selatan, kepada murid-murid kelas 6-nya sejak semester pertama. “Jika waktu kelas 5 jadwal tambahan Olivia hanya sekali seminggu, di kelas 6 ini jadwal tambahannya jadi 2 kali seminggu masing-masing 1 jam. Di kelas 6 ini, fokusnya lebih pada latihan mengerjakan soal-soal UN tahun lalu,” cerita Amanda, mama Olivia.

Sejak awal tahun ajaran lalu, guru-guru di sekolah Olivia memang sudah menekankan kepada para orang tua murid kelas 6 agar membantu anak-anaknya berlatih mengerjakan soal sebagai persiapan menghadapi UN. Menurut Amanda, mengerjakan soal-soal ujian tahun lalu seperti halnya ‘testing the water’, agar anak tahu tingkat kesulitan soal-soal ujian yang nanti akan dihadapinya. Dengan begitu, baik anak, orang tua, maupun guru bisa memprediksi sejauh mana kesiapan (atau ketidaksiapan!) anak saat itu.

Atas saran dari para guru di sekolah, Olivia akhirnya beberapa kali khusus membeli buku-buku berisi bank soal ujian untuk anak SD. Di rumah, ia meluangkan waktu sekitar 1 jam di malam hari untuk membahas soal-soal tersebut. “Kadang, kalau ada waktu senggang, saya juga suka browsing di internet mencari soal-soal latihan yang bisa digunakan Olivia untuk berlatih di rumah, misal di www.sekolahdasar.net atau www.ujiannasional.org,” kata Amanda.

Menurut Amanda, setelah beberapa bulan rutin latihan mengerjakan soal-soal prediksi UN, Olivia tampak jauh lebih serius mempersiapkan diri untuk menghadapi UN. “Tadinya dia santai dan menganggap UN tuh seperti UTS atau UAS. Tapi sekarang setelah tahu bahwa soal-soal UN cukup beratnya, dia jadi sedikit khawatir dan mulai serius menghadapinya,” tambahnya.

2. BUAT JADWAL BELAJAR
Memang, sih, belajar itu idealnya ya dilakukan setiap hari, apalagi menjelang UN seperti ini. Tapi, dengan membuat jadwal belajar khusus, baik mama dan si kecil akan punya pemetaan waktu atau gambaran seberapa banyak lagi waktu yang tersisa buat si kecil mempersiapkan diri sebelum hari ujian. Jangan sampai saat waktu ujian tinggal seminggu, masih ada banyak materi pelajaran yang belum di-review oleh si kecil.

Jadwal belajar juga akan menjadi alarm buat Mama dan si kecil agar terus keep up dengan target belajar. Misal, si kecil belum menguasai satu materi matematika padahal waktu UN tinggal seminggu lagi, nah jadwal ini akan mengingatkan dan menyadarkannya bahwa ia masih punya ‘utang’ belajar yang harus dikejar sebelum hari UN tiba. Rencananya, Amanda akan menyetel alarm di ponsel miliknya dan milik Olivia begitu masuk jam belajar yang sudah ditetapkan. Dengan begitu,
tak ada alasan untuk menunda waktu belajar.

3. IKUT BIMBEL/LES
Tak seperti Olivia yang mendapat jadwal pengayaan materi di sekolahnya, tidak demikian halnya dengan Arum yang bersekolah di bilangan Ciracas, Jakarta Timur. Itu sebabnya, sang mama memutuskan untuk memasukkannya ke kursus bimbingan belajar (bimbel) untuk membantu Arum menghadapi ujian yang tinggal beberapa bulan lagi. “Sebelum memutuskan ikut bimbel, di awal tahun ajaran lalu saya pernah mendatangkan guru privat ke rumah. Tapi, sepertinya Arum tidak suka dengan cara belajar privat seperti ini. Dia lebih suka belajar
di bimbel ramai-ramai dengan teman-temannya,” kata Ningrum, mamanya. 

Yang Ningrum sukai dari bimbel adalah adanya try out (TO) secara berkala untuk memprediksi nilai ujian anak. “Meski sekolah Arum bukan tipe?sekolah yang berpatokan pada nilai, tapi harus diakui bahwa tolok ukur kelulusan nanti tetaplah berdasarkan angka,” kata sang mama yang mengaku sudah stres memikirkan UN sejak jauh-jauh hari.

Menurut Ningrum, sistem TO yang dilakukan di tempat kursus Arum benar-benar dibuat seperti simulasi UN, mulai dari aturan, penilaian, hingga suasana kelasnya. Dengan begitu, anak menjadi terbiasa dengan suasana ujian dan diharapkan tak akan stres ketika tiba saatnya menghadapi UN yang sesungguhnya. Dan, yang menarik, dari hasil TO ini, baik orang tua maupun anak bisa mengetahui apakah ada peningkatan nilai yang diperoleh anak dari TO sebelumnya, karena bisa dibilang nilai TO ini mirip dengan prediksi nilai UN, meski tidak bisa dijadikan patokan atau gambaran.

Meski sudah mengalokasikan biaya dengan memasukkan Arum ke bimbel, bukan berarti Ningrum lepas tangan begitu saja soal persiapan ujian anaknya. Justru ia merasa belajar jauh lebih keras dibanding Arum. Ia membuka kembali buku-buku pelajaran Arum kelas 4 dan 5 yang bahkan sudah tak pernah disentuh oleh Arum. Begitu juga dengan materi-materi ajar dan soal latihan yang didapat Arum dari tempat kursusnya, ia baca dan benar-benar ia pahami agar bisa mengajarkan kembali pada Arum.

Foto: 123rf

Baca juga : Nutrisi Untuk Anak Hadapi Ujian Sekolah 

 





Follow Us

angket

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia