3R Agar Tak Meninggalkan Luka Batin pada Anak




Dengan atau tanpa kita sadari, cara kita mengasuh anak sering kali dipengaruhi oleh cara kita diasuh oleh orang tua kita dulu. Apabila kita mendapatkan luka dari pengasuhan di masa kecil, tak jarang juga luka tersebut kita bawa dan kita tularkan kepada anak.
 
Orang tua mungkin tidak sadar bahwa mereka melakukan pengulangan atas apa yang dilakukan orang tuanya, entah itu mengasuh dengan penuh tekanan dan standar, emosional, mengabaikan emosi anak, tidak memberi ruang berpendapat, atau terlalu sering membandingkan anak dan memarahinya.
 
Kita mungkin saja berpikir, “Aku dulu juga diasuh dengan cara begitu waktu masih kecil, buktinya aku sekarang tidak apa-apa.” Saat pikiran tersebut muncul, mungkin kita sedang meniadakan atau menegasikan pikiran lainnya bahwa perlakuan yang kita terima di masa kecil tersebut menyakitkan dan membekas sampai sekarang. Bila Anda ingin menghentikan lingkaran luka itu dari generasi ke generasi, maka Anda harus berhenti mengulang pengasuhan yang sama.
 
Darcia Narvaes, Ph.D., profesor psikologi di University of Notre Dame, AS menyebutkan bahwa ada tiga prinsip penting dalam pengasuhan yang sangat dibutuhkan untuk membesarkan anak yang bahagia, karena tidak terbebani oleh luka-luka di masa kecilnya. Apa sajakah?
 
Resonance (Resonansi)
Anak-anak selalu menangkap resonance (resonansi) atas energi, perasaan, dan pikiran orang tuanya. Anak-anak butuh terpapar resonansi kasih sayang yang memberikan kehangatan dan ketenangan emosional dari orang tua. Hal itu bisa berupa ekspresi cinta dalam bentuk verbal seperti kata-kata ‘Mama/Papa sayang sekali kepadamu’, kontak mata, pelukan, sentuhan fisik, memberikan waktu yang berkualitas, maupun kegiatan interaktif.
 
Anak-anak bisa merasakan resonansi pikiran orang tua yang tidak menghakimi dan tidak terus menerus mengevaluasi mereka. Resonansi ini akan memberikan mereka rasa aman. Di samping itu, resonansi kasih sayang orang tua akan menumbuhkan mereka menjadi anak yang memiliki kecerdasan interpersonal dan empati atau welas asih.
 
Recognition (Pengakuan)
Kita semua ingin diakui. Anak-anak pun demikian. Mereka butuh diakui keberadaannya, diterima apa adanya, divalidasi emosinya, serta diberi simpati dan empati oleh orang tuanya.
 
“Pengakuan berarti menghormati martabat anak sebagai ‘subjek’ terpisah, bukan produk atau objek yang akan diperlakukan untuk tujuan orang tua,” ujar Darcia. Pengasuh yang tidak memberikan pengakuan kepada anak bisa menimbulkan kerusakan besar yang sering kali dapat berlangsung seumur hidup. Kurangnya pengakuan menyebabkan diri anak terluka.
 
Pengakuan dari orang tua dalam pengasuhan menjadi sangat penting karena pemahaman anak tentang dirinya pada awal kehidupannya dibentuk oleh pengasuhan yang diterima dari Mama, Papa, dan orang lain di sekitarnya. Bila mereka diakui secara positif, mereka juga akan memiliki nilai diri atau self esteem yang positif.
 
Respect (Rasa Hormat)
Anak-anak butuh diperlakukan dengan penuh rasa hormat oleh orang tua. Hukuman, bentakan, pukulan, sindiran di depan orang lain adalah perlakuan orang tua yang tidak menghormati harga diri anak.
 
Sering kali, orang tua melakukannya karena merasa anaknya tidak bisa diatur atau tidak menghormati keputusan/aturan yang dibuatnya. Padahal, ketika anak berbuat ulah, hal itu bisa jadi tanda ketidaknyamanannya dengan kondisi yang harus dihadapi. Bila orang tua berharap anak selalu bisa menghormati mereka, maka orang tua juga harus menghormati anak. Dengan demikian, hubungan orang tua dan anak jadi lebih terikat.
 
Baca juga:
12 Kunci Pengasuhan agar Anak Memiliki Empati
Mengenal Scaffolding Parenting
10 Pedoman Pengasuhan Membesarkan Anak Tangguh
3 Kiat Ajarkan Anak Memiliki Empati
6 Hal yang Membuat Orang Tua Gagal Mencintai Anaknya Sendiri
 
LTF
FOTO: FREEPIK

 

 





Follow Us

angket

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia