Cara Atasi Anak Mengamuk

foto search
Apa yang bisa dilakukan ketika anak tantrum atau mengamuk? Michael Potegal Ph.D, ahli neuropsikologi anak di University of Minnesota menyarankan agar Anda mengevaluasi alasan di balik perilaku anak, sebelum mulai mencari solusi. Misalnya, jika anak ternyata mengamuk karena barang tertentu (menginginkan mainan atau makanan yang Mama larang), jangan pedulikan amukannya, dan tetaplah tenang. Ingat pepatah lama, ‘Api tidak bisa dipadamkan dengan api.’ Michael menyebut fenomena itu sebagai “jebakan amarah”. “Jika Mama memberi respons serupa dengan amukan anak yang tidak rasional, itu sama seperti menyiramkan bensin ke api.” Mundurlah beberapa langkah dari anak, sibukkan diri Anda dengan hal lain. Jangan tatap matanya. Biasanya saat anak melihat mamanya tidak terpancing, ia akan mereda.

Ada pula saat-saat di mana Anda tidak bisa meninggalkan anak saat tantrum, misalnya di tempat publik atau kendaraan umum. Saat di tempat umum, coba bopong anak ke tempat yang lebih tenang, misalnya mobil atau toilet, di mana anak bebas mengekspresikan frustrasinya. Di sana Anda bisa ajak anak berbicara dengan lebih tenang, sambil tetap mengacuhkan amukannya. Usap atau tepuk bahunya untuk menenangkan. Jika cara itu tidak berhasil juga, segeralah pulang. Catatan untuk Mama, jangan bereaksi terlalu berlebihan, hanya karena Anda malu dengan perilaku anak. Bagaimana jika Anda dan anak tidak bisa bergerak ke mana-mana, misalnya di bus atau pesawat? Ajak bicara anak dengan nada tenang, ulangi frasa yang sama, lagi dan lagi.

Tetapi jangan Anda menjadi terlalu simpatik. Ketika Anda memanjakan anak dengan perhatian saat ia mengamuk, itu sama saja mendukung perilaku yang tidak baik. Cukup katakan, “Mama sedih kamu mengamuk. Setelah sudah tenang, Mama akan peluk kamu, lalu kita bicara.” Dengan demikian, Anda memberikan dukungan dan simpati yang tepat, sambil memberi teladan pengendalian emosi kepada anak.

Tetapi strategi tersebut tidak berlaku untuk tantrum yang disebabkan perlawanan anak atas hal yang Anda ajarkan. Misalnya, saat ia dididik untuk memakai alas kaki ketika keluar rumah atau duduk tenang di meja makan, dll. Dalam kasus semacam itu, Anda justru tidak boleh mengacuhkan tantrumnya. Ketika anak mengamuk karena tidak mau memakai jaket, meski cuaca sedang berangin, misalnya, tegaskan kepada anak bahwa jika ia tidak memakai jaketnya di hitungan kelima, Anda yang akan memakaikannya. Biasanya anak akan menunjukkan respons pemberontakan dengan tidak mengindahkan ultimatum Anda.

Maka, jangan ragu memasang jaket itu dengan sedikit paksaan. Jika anak mengamuk, bahkan mencakar atau menggigit Anda, tetap kenakan jaketnya, tetapi setelah itu, berikan metode hukuman yang sudah biasa diterapkan. Sejumlah orang tua menggunakan metode bangku berpikir atau memotong jam bermain anak. Dengan begitu, ia akan belajar, tak hanya tetap harus mengenakan jaket, ia malah juga ditimpa hukuman lain.

Meskipun Anda telah sangat siap dan membaca banyak referensi mengenai tantrum, perilaku anak bisa saja tetap membuat Anda terhenyak. Jangan khawatir, itu adalah fase yang akan dilewati, seiring pertambahan usianya. Dan secepat badai datang, secepat itu pula ia berlalu. Nikmatilah kembali momen kemesraan dengan anak pasca tantrum, dan ingatlah, ia akan belajar menangani amarah dari respons orang tuanya, ketika ia sendiri tantrum.

 

Follow Us

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia