Kebiasaan Anak Pilih-pilih Makanan

Setiap orang tua punya masalah masing-masing seputar kebiasaan makan anak-anak. Ada yang mengeluhkan tentang kebiasaan anaknya yang suka mengemut makanan, yang baru ditelan kalau anaknya diberi minum. Ada pula orang tua yang mengeluhkan soal anaknya yang hanya mau makan nasi dan nugget saja setiap hari. Mencari cara untuk mengatasi, itu sudah pasti. Tapi, satu hal yang mungkin belum diketahui oleh kebanyakan orang tua, bahwa ternyata masalah-masalah seputar makan ini berdampak luas pada perkembangan anak secara keseluruhan.

Inilah PR orang tua yang harus dijawab sebelum menangani anak dengan kebiasaan makannya yang bikin stres itu. Menurut Lismiyati A M.d. TW, terapis wicara dari Growing Heart Developmental Centre, institusi yang menangani tumbuh kembang anak sampai remaja secara terpadu dan profesional, dilihat dari sudut pandang terapi wicara kesulitan makan pada anak terbagi menjadi 2 kategori:

- Resistant eater adalah suatu reaksi yang sangat ekstrem sebagai bentuk penolakan terhadap makanan. Anak dengan resistent eater akan menunjukkan reaksi penolakan yang berlebihan terhadap suatu makanan, sama sekali tidak mau mencoba makanan atau jika makanan sudah masuk ke dalam mulut akan dikeluarkan dengan cara dibuang/dilepeh dan bahkan terkadang makanan yang sudah tertelan akan berusaha di muntahkan. Untunglah, kondisi resistant eater ini di Indonesia belum banyak dijumpai, dan jika ada maka penanganannya melibatkan banyak ahli yang berkaitan.

- Picky eater adalah suatu reaksi pilih-pilih makanan. Sebenarnya, picky eater pada anak adalah suatu tahapan yang normal, karena pada dasarnya semua  anak  akan melalui tahapan memilihÐmilih makanan pada saat usia 2 sampai 3 tahun. Lain halnya dengan anak yang mengalami delay development. Momen memilih-milih makanan biasanya akan berlangsung cukup lama dan berkelanjutan.

Jika anak mengalami kesulitan makan yang cenderung picky eater, maka Anda sebagai orang tua perlu mengetahui penyebab utama anak menghindari makanan tertentu dengan tekstur, rasa dan temperatur tertentu. Misalnya, jika ternyata anak mengalami problem pada area oralnya seperti sensori oral dan motorik oral, maka perilaku picky eater-nya ini bisa jadi merupakan salah satu gejala ketidakstabilan area oral, karena oral yang tidak memadai tersebut. Akibatnya, timbul reaksi memilih-milih makanan.

Foto: Getty Images

 





Follow Us

angket

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia