Stimulasi Balita dengan Berkebun




Pandemki membuat kita perlu kreatif menciptakan aktivitas untuk diri sendiri dan anak. Jika anak sudah mulai bosan dengan aktivitas stimulasi di dalam ruangan, ajak ia berkebun bersama Anda, Ma. Tak perlu khawatir kotor atau basah, aktivitas berkebun mulai dari menanam, menyirami, memberi pupuk dan memanen dapat menjadi stimulus yang berharga untuk anak. 
 
Kittie Butcher dari Michigan State University Extension dan Janet Pletcher dari Lansing Community College berkolaborasi untuk merumuskan manfaat stimulasi apa saja yang bisa didapatkan dari aktivitas berkebun.
 

  • Merangsang Kemampuan Sensorik
“Wortel ini warnanya oranye, tomat ini warnanya merah. Cabai ini hijau, yang itu merah. Ehh, coba lihat yang ini kenapa warnanya hijau kekuningan ya?”

Kebun dipenuhi dengan beragam warna. Hal ini tentu akan menjadi stimulus untuk penglihatannya. Dengan berkebun, anak diperkaya dengan pengalaman visual. Ia akan mempelajari banyak warna. Tak hanya itu, dia juga akan belajar kontras warna, misalnya perbedaan daun warna hijau tua dengan daun hijau muda. Anak juga akan belajar gradiasi, misalkan ada daun yang hijau kekuningan, tomat yang merah bercampur sedikit oranye atau kuning dan lain-lain.

Indra perabanya pun akan terangsang saat menyentuh tanah dan merasakan teksturnya, juga saat menyentuh air. Wah, anak-anak adalah penggemar air dan tanah, bukan? Mereka juga bahkan bisa bercanda dengan cacing tanah. Coba letakkan seekor cacing tanah di telapak tangannya dan biarkan ia merasakan bagaimana saat si cacing menggeliat. Jangan lupa untuk mengembalikannya ke tanah ya, Ma.
Dia juga akan belajar memaksimalkan indera pendengarannya untuk mendengarkan suara burung atau anak ayam yang mengganggu kebunnya.

Selain itu, indrra penciumannya akan terlatih untuk mengirup udara segar, wangi bunga, daun atau bau pupuk.
 
  • Merangsang Kemampuan Motorik
Berkebun membutuhkan kemampuan mengelola keseimbangan tubuh anak. Misalnya, untuk berjalan di atas tanah yang gembur atau lahan yang sempit. Selain itu, otot-otot mereka juga akan bekerja dalam mengangkat peralatan berkebun atau ember berisi air serta memindahkannya. Pastikan peralatan yang dibawanya tidak terlalu berat.

Kemampuan motorik halus seperti kordinasi mata-tangan akan terlatih di sini. Anak akan belajar harus ke mana tangannya digerakkan jika ingin menyerok tanah atau menyiram tanaman.

Anak juga akan berlatih mengambil benda dengan menangkupkan tangan (whole-hand grasping) dan mengambil dengan menjepit atau mencubit (pincer grasp).
 
  • Merangsang Kecerdasan Intelektual
Kids Gardening Org, satu program berkebun untuk anak-anak di Amerika, menyatakan bahwa ada beberapa manfaat berkebun yang berkaitan dengan perkembangan intelektual anak. Dengan berkebun, anak akan belajar klasifikasi jenis tanaman, warna tanaman, tanaman berdasarkan usia, berdasarkan tekstur dan lain sebagainya.

Selain itu, berkebun melatih anak untuk bekerja secara ilmiah seperti ilmuwan. Anak akan belajar mengobservasi dan membuat catatan, misalkan tanggal kapan benih ditanam, tunas muncul, daun pertama muncul, sampai berbuah. Anak juga bisa mencatat suhu, cuaca, apakah ada hujan atau tidak dan lain sebagainya. Dan itu semua bisa membawa prediksi serta kesimpulan tentang mengapa hasil kebunnya berhasil atau gagal. Buatlah semacam tabel kerja untuknya. Tunjukkan kepadanya cara mengobservasi. Lalu ajak anak membaca penjelasan ilmiah dari buku tentang hasil observasinya tersebut.

Kemampuan matematika anak juga dapat terlatih dengan aktivitas berkebun. Selama berkebun, ajak mereka banyak menghitung. Misalkan menghitung daun, ada berapa buah atau sayur yang sudah berbuah dan lain sebagainya.

Di luar manfaat-manfaat tersebut, ada sebuah penelitian menunjukkan relasi aktivitas berkebun dengan peningkatan kecerdasan anak. Berkebun dapat memicu hormon penghasil rasa bahagia dan relaks. Di saat itulah, darah akan mengalir lancar termasuk ke otak, sehingga dapat meningkatkan kinerja otak dalam belajar. Otak juga bisa menerima cukup oksigen, sehingga anak dapat belajar lebih baik dan tidak mudah stres.
 
  • Merangsang kecerdasan emosional
Berkebun akan mengajarkan ia untuk bersabar menanti kapan tunas pertama akan tumbuh atau kapan ia bisa memanennya. Ia juga bisa belajar mengenali serta mengatasi emosi kekecewaaannya saat ternyata hasil berkebun tidak sesuai dengan yang ia harapkan.
 
LELA LATIFA
FOTO: SHUTTERSTOCK

 

 





Video

Lindungi Anak dari Kejahatan Pedofilia


Polling

Stimulasi Balita dengan Berkebun