Tak mau popok!

Para ibu berbagi trik melatih anak ke toilet

Celana dalam khusus

• Berhasil untuk siapa: Matthew (3 tahun), anak Laurie Rosenthal, Pacific Palisades, California.
Menjelang Matthew masuk kelompok bermain, Rosenthal mulai gelisah. “Suatu hari Matthew berteriak, ‘Aku nggak mau melakukannya!’ dan saya baru menyadari betapa stresnya dia,” katanya.

Selama sebulan, Rosenthal menuruti kemauan si kecil. Namun, ia tidak berdiam diri, namun pergi ke toko khusus untuk menyulam gambar traktor warna pink pada celana dalam baru Matthew (mainan dan warna favoritnya!).

Rosenthal mengundang teman yang lebih besar ke rumah, serta memberitahu si kecil bahwa ada hadiah untuknya. Bila Matthew tak suka, hadiah bisa diberikan pada temannya. Rosenthal langsung memamerkan celana dalam yang baru. Awalnya, Matthew masih ragu-ragu. Namun, begitu si teman memintanya, Matthew langsung berteriak, “Jangan! Ini punyaku!”

Dan, Matthew mengalami 2 kejadian unik. Ia berusaha keras untuk tidak membasahi traktor favoritnya. Setahun kemudian, ia mau memakai celana biasa setelah menyadari bahwa pink adalah warna perempuan.

• Mengapa berhasil: Rosenthal ingin memotivasi Matthew dengan cara membiarkan si kecil percaya bahwa dirinya masih punya kendali. Rosenthal tahu persis Matthew akan memilih celana dalam traktor itu, tetapi ia tetap memberi anak pilihan untuk tidak mengenakannya.

Batita tidak selalu merespons dengan baik ketika disuruh melakukan sesuatu, kata Alan Greene, M.D., dokter anak pada Lucile Packard Children’s Hospital di Stanford University, serta penulis From First Kicks to First Steps. “Celana dalam khusus bisa memberi motivasi,” katanya. “Dan ini adalah cara positif untuk menggiring pikiran anak ke tujuan yang Anda inginkan.”

• Agar berhasil: Anda tak perlu menyulam celana dalam anak. Ajak saja anak berbelanja (hanya berdua, ya!) untuk memilih celana yang diinginkannya. Melibatkan anak dalam proses, dikombinasikan dengan pergi khusus dengannya, bisa menghasilkan solusi yang luar biasa.

Hadiah manis

• Berhasil untuk siapa: Bianca (2 tahun), anak Cora Hamm, Orange Park, Florida.
Senjata rahasia: Permen. Hamm memperkenalkan permen pada Bianca saat mulai berlatih. “Benar-benar sukses,” ujar Hamm. “Namun, Bianca belajar kalau, ‘tidak duduk di pispot, tidak dapat hadiah.’ Makanya, saya berjebak dengan cara ini.”

Bianca memang bisa mendapat 1-2 permen, tergantung apa yang dilakukannya. Meski terjadi masalah di sana-sini, Bianca berhasil melalui latihan dalam hitungan minggu. Anak kedua Hamm, Isabella (20 bulan), lebih cepat ‘lulus’ karena ingin meniru Bianca. (Melegakan: Karena suaminya bertugas di Irak dan ia punya bayi baru lahir. Hamm benar-benar repot saat itu!) 

• Mengapa berhasil: Siapa sih yang tak suka hadiah setelah melakukan sesuatu dengan baik? Anak kecil, khususnya, akan bereaksi terhadap motivator dari luar – entah hadiah itu sendiri atau perasaan ingin menyenangkan Anda.

• Agar berhasil: Pilih hadiah yang pas untuk anak. Jika si kecil senang ke toilet (bukan semata-mata karena diberi permen), Anda bisa memberinya hadiah baru setelah beberapa kali sukses ke toilet. (Sticker benda favorit pasti bisa lebih memotivasinya) Dan, hadiah yang Anda tawarkan tak perlu berupa ajakan berbelanja. Jean Burke, St. Petersburg, Florida, akan  membonceng si 2 tahunnya keliling kompleks jika berhasil ke toilet sebanyak 2 kali. “Sedikit demi sedikit saya tambahkan jumlah waktu yang diperlukannya untuk bersepeda bersama-sama,” katanya.

Lepas dari minggu telanjang

• Berhasil untuk siapa: Danielle (2 tahun), anak Janet Freund, Edison, New Jersey.
Freund, ibu 2 anak, dan suaminya sama-sama cuti ketika si sulung, Danielle, berusia 2,5 tahun. Freund memang sudah mempersiapkan Danielle untuk latihan buang air di pispot beberapa bulan sebelumnya. Setiap jam, Freund mengajak Danielle ke toilet. Setelah beberapa hari menjalani rutinitas ini, akhirnya si kecil selalu bilang begitu kebelet pipis atau pup.

Sesekali Danielle suka pipis atau pup sembarangan, sih, namun Freund bersikukuh untuk tidak memakaikan popok sebagai backup di siang hari. “Memakaikan popok setelah kejadian tersebut bisa salah diartikan anak,” katanya.

• Mengapa berhasil: Periode waktu yang terkendali merupakan metode terbaik bagi anak yang berorientasi pada tujuan, yakni secara emosi sudah siap untuk berlatih ke toilet. Bagaimana cara tahunya? Si kecil tertarik pada pispot, bahkan sering ‘berlatih’ duduk di atasnya. Atau, paling tidak ia mengerti bagaimana caranya pipis atau pup.

• Agar berhasil: Paling baik adalah membiarkan anak terbiasa dengan pispot sebelum Anda membuang popok untuk selama-lamanya. Jadi, taruh pispot anak di ruangan yang lalu lintasnya super padat. Sesekali, biarkan ia duduk di atasnya. Lama kelamaan ia akan familiar dengan pispotnya. Bacakan buku dan nyalakan DVD sesering anak inginkan.
Sebisa mungkin anak harus memahami apa yang akan dijalaninya. Hal ini juga berlaku bagi Anda (sebagai pengingatnya!). “Kebanyakan orangtua bertanya pada anak apakah ia kebelet ke toilet begitu melihatnya menggeliat ke sana-sini,” kata dr. Greene. “Pendekatan terbaik adalah berkata, ‘Kayaknya kamu mesti pipis, deh.’ Kalau tidak, si kecil pasti bilang nggak mau.”

Popok latihan

• Berhasil untuk siapa: Justin (2 tahun), anak Sharda Kooblall, Ozone Park, New York.
Justin tidak mengacuhkan ibunya begitu sang ibu menyebut kata pispot. Bahkan, pispot berubah menjadi ‘karya seni’ sebab ditempeli seabrek sticker dan penuh cap ini-itu. “Pispot seperti mainan baru,” tutur Kooblall. “Ia tak pernah sungguh-sungguh menggunakannya, melainkan cuma menyeretnya ke sana-sini.”

Kooblall akhirnya mengandalkan Pull-Ups (popok berbentuk celana), sebab bisa mengatasi pipis atau pup yang tiba-tiba keluar. Paling tidak, si kecil belajar proses memakai dan melepaskan sesuatu yang bentuknya seperti celana dalam. Akhirnya, Kooblall meminta Justin untuk berdiri ketika ia membersihkan dan mengganti popok. Jadi, seolah-olah si kecil baru saja selesai memakai pispot. Suatu hari, ia mendengar bunyi siraman air toilet: Rupanya, Justin masuk kamar mandi dan membuka sendiri popok latihannya. “Justin sempat beberapa kali buang air sembarangan, tapi pada akhirnya saya bisa membuang pispotnya,” katanya.

• Mengapa berhasil: Popok jenis ini bisa menyenangkan anak yang belajar ke toilet, sebab tanpa tekanan atau tidak membuatnya kotor. “Anak-anak bisa merasakan bahwa belajar menggunakan toilet adalah langkah maju yang besar, sehingga beberapa anak malah jadi terlalu takut atau peka,” ujar dr. Greene.

Namun, hati-hatilah: Sebagian orangtua merasa popok ini justru bisa memperpanjang proses latihan. Beberapa di antaranya memberi alasan bahwa si kecil tidak merasa basah ketika pipis.

• Agar berhasil: Jika Anda punya anak yang perlu latihan sesuai kemampuannya sendiri, cara ini bisa jadi pilihan oke. Tapi, jujur deh: Apakah Anda benar-benar cukup sabar dan akan membiarkan anak ‘mengatur’ sendiri kemampuannya?

Tekanan teman sebaya

• Berhasil untuk siapa: Anak saya, Harper (3 tahun), dan saya
Setelah berhasil 3 kali memakai pispot di usia 2 tahun, tiba-tiba Harper mogok. Untuk sementara waktu, kami tidak menuai hasil apapun, kecuali keras kepalanya si kecil, kebencian kami berdua terhadap plastic toilet, serta lahirnya kalimat favoritnya: “Nggak apa-apa pup. Kan nggak dimakan.”

Ketika Harper mulai masuk kelompok bermain sekitar 9 bulan kemudian, hanya ada 1 anak lain yang memakai popok. Ia merasa sebal – bahkan selalu menangis setiap kali guru mendekatinya dengan alas pengganti. Meski begitu, ia tetap saja menolak bergabung dengan teman sekelasnya yang ramai-ramai berjalan ke toilet. ‘Perjalanan’ ini berlangsung sebanyak 2 kali.

Setelah 2 minggu, Harper bangun pagi dan tiba-tiba bilang “Nggak mau pakai popok”. Sementara saya ngebut merapikan rumah, menyiapkan makan siangnya, serta mengambil sisir di bawah tempat tidurnya, ia menahan saya dan berkata, “Mau lihat aku pipis?” Ia menggandeng tangan saya dan mengajak saya ke pispotnya. Dan... sukses besar!

Butuh beberapa waktu baginya untuk terbiasa dengan toilet ‘besar’ di sekolah. Ia ekstra hati-hati agar tidak ‘kecemplung ke dalamnya’. Namun di rumah, akhirnya kami bisa benar-benar bebas popok. Paling tidak, bebas sepanjang pagi dan siang hari.

• Mengapa berhasil: Pada usia 3 tahun, anak Anda mungkin saja mulai menaruh perhatian pada anak lain dan terpengaruh terhadap apa yang dilakukannya.

• Agar berhasil: Jika anak Anda berusaha menyaingi anak lain, teman sebaya bisa bertindak sebagai role model yang memberi dorongan agar anak berada di jalur yang benar. Role model bisa siapa saja – kakak atau sepupu, tetangga atau teman bermain.

PAR 0208

 





Video

Lindungi Anak dari Kejahatan Pedofilia


Polling

Tak mau popok!