Beda Usia, Beda Pula Kemampuan Konsentrasi Anak

Tanpa kita sadari, orang tua dan guru sering mengira, konsentrasi adalah soal kemauan. Akibatnya, anak sering dipaksa berkonsentrasi. “Konsentasi adalah cara anak fokus dalam melakukan sesuatu, sehingga itu mampu dikerjakan dalam waktu tertentu,” kata Dr. Laurie McNelles, ahli perkembangan anak dari York University, Kanada.

Yang perlu orang tua tahu, kemampuan anak berkonsentrasi berbeda-beda sesuai usianya:

Usia 0-1 Tahun
Karena usianya masih sangat muda, anak di usia ini tergolong sulit berkonsentrasi. Umumnya mereka tidak bisa diam, karena sedang berada dalam fase eksplorasi. Kemampuannya mempertahankan atensi memang relatif pendek. Saat usia anak memasuki usia 1 tahun, kemampuan konsentrasinya berkisar 1-3 menit. Ini berkaitan dengan kemampuan fungsi indera, otak, dan fungsi  lain yang masih dalam masa perkembangan.

Usia 2 Tahun
Kemampuan konsentrasinya berkisar 3-5 menit. Di usia ini anak mulai terpecah perhatiannya dan sedang hobi ‘mendua’. Saat ada aktivitas lain yang lebih menarik perhatiannya, anak akan meninggalkan aktivitas yang tengah dikerjakan.

Usia 3 Tahun
Kemampuan konsentrasinya berkisar 5-10 menit. Si kecil sudah bisa mengingat dan mengulang sedikitnya 3 benda terakhir yang berurutan disebutkan.

Usia 4 Tahun
Rentang konsentrasinya sekitar 12 menit karena konsentrasi dan memori anak makin baik.

 

Usia  5 Tahun
Di usia ini, anak sudah mampu berkonsentrasi selama 14 menit, dan sudah dapat menyelesaikan tugas sampai selesai. Tapi perlu diwaspadai, bila si kecil memegang sesuatu (benda apa saja) dan sesaat kemudian dilempar, berarti Anda perlu mengamatinya lebih jauh untuk memastikan kemampuan belajarnya juga baik.


Usia 6-12 Tahun
Rentang konsentrasi untuk anak usia sekolah biasanya sekitar 30-45 menit. Hal ini dapat dilihat dari konsentrasi cukup tinggi pada anak yang terlibat dalam aktivitas yang dilakukannya, karena mereka sudah memiliki semangat berkompetisi yang tinggi dan rasa ingin tahu yang besar.

Maksimalkan konsentrasi anak Anda dengan memberi pasokan energi yang cukup untuk otaknya sebelum berangkat sekolah.  Dr. Laurie McNelles menambahkan, “Nutrisi yang baik untuk otak, seperti DHA, kolin, zat besi, zinc, yodium, Vitamin B6 dan B12, serta olahraga dan tidur cukup akan sangat membantu anak berkonsentrasi saat di sekolah.”  


YENNY GLENNY
FOTO: DOK. PARENTING, PIXABAY
 

 

 

Follow Us

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia