6 Mitos tentang perkawinan

1. Mitos: Jangan naik tempat tidur dalam keadaan marah
Alasannya memang masuk akal, buat apa meredakan pertengkaran hanya untuk semalam dan kemudian memulainya lagi keesokan hari? Lebih baik menyelesaikan semua permasalahan, tidur tenang, dan membuka hari baru dengan semangat baru.
Kami bilang: Sepakatlah untuk tidak sepakat sampai esok pagi. Terutama jika pertengkaran terjadi larut malam, belum ada jalan keluar, dan Anda sudah sangat mengantuk. Lagipula, tidak semua pertengkaran ada batasan waktunya, kan?
    Saat Brooke Klien dari Rohnet Park, California, dan suaminya mengibarkan bendera putih sementara untuk pergi tidur, mereka malah dapat melihat permasalahan dengan lebih baik di pagi harinya. “Kami tidak begitu terperangkap dalam lingkaran emosional kami,” ujar mama dari bayi berusia 9 bulan ini.
    Sejalan dengan hal itu, saling setuju untuk menunda menyelesaikan masalah justru akan mengikis sisi ‘tajam’ dari masalah tersebut. Rachel Kincade dari Fort Hood, Texas, bilang bahwa saat ia tak dapat menyelesaikan masalah
dengan suaminya, mereka harus menghabiskan sehari kemudian dengan bersikap atau berkata-kata manis satu sama lain. “Di penghujung hari, kami begitu puas dengan pujian sehingga sudah tidak bisa marah lagi.”
    Tentu saja, pergi tidur dengan amarah di dada, walaupun bukan hal yang  baik, namun ada sisi positifnya juga, kok: “Sesekali tidur di kamar yang berbeda saat marah dengan pasangan, tidak masalah – hubungan kita juga akan baik-baik saja,” ujar David Wexler, Ph.D., pengarang When Good Men Behave Badly (juga papa dari dua anak yang telah menikah selama 24 tahun).

2. Mitos: Punya bayi akan mendekatkan kita dan pasangan
Ketika putra sulung saya lahir, saya dan pasangan yang biasanya pendiam tiba-tiba punya banyak hal untuk dibahas. (Tentu saja, kami menghabiskan sebagian besar waktu untuk membicarakan satu subyek favorit kami: Bayi kita! Bayi kita! Dan apa aku sudah memberitahumu tentang bayi kita?)
    Namun kemudian suami saya – si pengkhianat – kembali bekerja. Kemudian bayi kami menderita kolik dan saya menghadapi tantangan mama baru sendirian di rumah. Benar-benar membuat saya memusuhinya.
Kami bilang: Memiliki bayi adalah pengalaman bonding yang sangat kuat. Namun hal ini juga dapat menciptakan ketegangan dalam hubungan mama-papanya. Solusinya? “Delegasikan. Jika papa pintar dalam mengurus rutinitas menidurkan anak dan membiarkan mama mandi berendam, Anda dapat menaklukkan tantangan terbesar dari kehidupan menjadi orangtua,” ungkap Karen Reivich, Ph.D., seorang rekanan peneliti dari University of Pennsylvania’s Positive Psychology Center, salah satu penulis The Resilience Factor, dan – yang paling penting – ibu dari empat anak yang telah menikah selama 14 tahun.
    Sangat membantu jika kita bisa ‘menghindari’ bayi kita beberapa hari sekali. Jika kencan malam  formal membuat kening Anda berkerut, atau budget tidak mendukung, carilah pilihan lain yang lebih masuk akal. “Kami tidak meninggalkan rumah karena belum mampu membayar babysitter, namun setiap Rabu malam, setelah anak-anak tidur di kamar masing-masing, saya dan suami minum wine bersama-sama, sejauh mungkin dari kamar tidur mereka,” ujar Reivich.

3. Mitos: Pasangan seharusnya menjadi sahabat sekaligus partner cinta
Kedengarannya indah, ya? Bagaimanapun juga, Anda dan suami telah saling mengenal lebih baik daripada orang lain, jadi mengapa ia tak dapat menjadi sahabat Anda juga?
Kami bilang: “Hubungan cinta beda banget dengan persahabatan. Seseorang tidak bisa menjadi segalanya untuk kita,” kata Andrea Smith, ibu dua anak di Swarthmore, Pennsylvania.
    Dengan kata lain, jangan terlalu menyalahkan diri Anda jika Anda merasa lebih dekat dengan ibu tetangga sebelah daripada dengan pasangan. “Tentu saja sangat menyenangkan jika suami kita adalah orang yang bisa diajak bersenang-senang, sangat kita hormati, partner seks yang hebat, sangat kooperatif sebagai orangtua, dan soulmate kita. Tapi, hampir tidak ada orang yang mendapatkan semuanya dalam suatu hubungan,” ujar Wexler.
    Triknya adalah tetap menjaga 'keterikatan'. “Tetaplah berperan dalam hidup pasangan Anda. Ketika Anda berpisah di pagi hari, cari tahu setidaknya satu hal yang dilakukan oleh pasangan Anda hari itu – dan tanyakan mengenai perkembangannya di penghujung hari,” ujar Wexler.
    Sangat membantu apabila Anda juga bersyukur untuk apa yang dimiliki. “Saya dan Rick sudah pacaran sejak SMA dan sesungguhnya ia bukan sahabat saya,” ujar Deborah Coakley, ibu tiga anak dari Ridgewood, New Jersey. “Namun setelah apa yang kami alami bersama, dia menjadi teman setia saya.”

4. Mitos: Jangan khawatir tentang (memudarnya) kehidupan cinta Anda
Dalam bulan-bulan pertama merawat bayi baru, hormon yang bertingkah, rasa lelah, dan apa yang menurut buku merawat bayi disebut sebagai ‘sensitif’, segala faktor ini membuat seks terlihat sedikit lebih lumayan daripada colokan di mata.
Kami bilang: Walaupun kedengarannya sangat tidak menggairahkan, setelah punya bayi (terutama setelah anak kedua), seks memang menjadi sesuatu yang sifatnya ‘kritikal’.
    Saat Anda sangat sibuk, stres, dan jarang bertemu pasangan, seks sebenarnya bisa jadi cara yang cepat dan efektif untuk merekatkan kembali hubungan Anda dan pasangan.
 “Saya dan suami jadi sering saling bentak saat sudah lama tidak berhubungan intim,” ujar Coakley. Dan, tentu saja, memang lebih mudah untuk tidak memikirkan seks. Tapi jangan terjebak. Seperti seorang teman pernah mengatakan begini, ”Tidak ada yang menyamai orgasme dan kepuasan yang tergambar pada wajah suami untuk mengubah cara pandang kita terhadap kehidupan.”
    Anda juga tidak usah terlalu mendengarkan nasihat orang tentang cara meromantiskan hubungan Anda dan pasangan, yang akan membuat Anda kecewa. Lebih baik Anda mencuri-curi kesempatan dari waktu yang ada. “Cobalah melakukan quickie – dan perluas wawasan Anda mengenai seks yang menyenangkan,” ujar Reivich. Walaupun Anda tidak sampai, seperti orang banyak bilang, ke surga, kontak fisik apapun akan menggairahkan Anda.

5. Mitos: Jangan bertengkar di depan anak-anak
Ketika mama dan papa bertengkar, memang sangat menakutkan. Bayi-bayi dapat merasakan jika Anda marah (dan biasanya ikut rewel) dan anak-anak yang lebih besar merasa ketakutan bahwa Anda berdua akan bercerai.
Kami bilang: Sungguh berharga jika anak-anak belajar dari orangtuanya bagaimana bertengkar dengan baik.
    Anak-anak juga butuh belajar bahwa bahkan orang-orang yang saling mencintai pun tidak selalu manis satu sama lain. “Sangat tidak realistis untuk mengharapkan rumah tangga tanpa konflik,” kata Smith. “Jika Anda tidak pernah berbeda pendapat dengan pasangan Anda, sepertinya Anda sudah menemukan orang yang me-nyetujui segala hal yang Anda katakan. Betapa menjemukannya!”
    Dengan kata lain, sangatlah baik – bahkan sehat – bagi anak-anak Anda untuk melihat pertengkaran orangtuanya. Namun ada peraturannya juga, lho (bukankah selalu begitu?). “Jika Anda berdua bertengkar di hadapan anak-anak Anda, bertengkarlah dengan adil,” ujar Reivich. “Daripada berteriak, ‘Kamu memang pemalas!’ sebaiknya katakan saja, ‘Tahu nggak, aku paling tidak suka kalau kamu lupa membuang sampah ke luar rumah. Itu kan tugasmu.’ Tekankan pada aktivitas yang menjadi inti permasalahan, bukan orangnya, dan jangan mengeluarkan kata-kata yang menghina.”
    Namun bila pertengkaran yang terjadi terlalu sengit, atau sulit mencari jalan keluar, tunda dahulu sampai anak-anak ke luar ruangan.

6. Mitos: Jangan pernah menganggap pasangan Anda sebagai ‘pemberian’
Ini adalah rahasia dari perkawinan yang bahagia, ya kan? Karena menganggap seseorang sebagai ‘pemberian’ artinya Anda berhenti menghargai keberadaannya.
Kami bilang: Menganggap cinta sejati Anda sebagai ‘pemberian’ dalam konteks perkawinan sebenarnya berarti Anda dapat mengandalkannya, bergantung padanya, dan percaya padanya.
    Ini juga bisa berarti bahwa Anda menerima peran tertentu dalam keluarga. “Saya dan suami benar-benar menganggap satu sama lain sebagai ‘pemberian’,” ujar Jillian Waddel, ibu satu anak dari Princeton, Massachusetts. “Scott bekerja full-time – ia tak pernah mengeluh tentang itu, walaupun seringkali stres yang dialaminya cukup tinggi.” Jika Anda sudah menikah dan punya anak, merasa cukup aman bersandar pada pasangan tanpa merasa khawatir, tentunya sungguh terasa melegakan.
    Walaupun demikian, menganggap pasangan setia Anda sebagai ‘pemberian’ namun memperlakukannya dengan buruk tentu saja salah. Menunjukkan rasa terima kasih Anda akan membawa perbedaan. “Suamiku memasak dinner tiap malam,” ujar si beruntung Reivich, “Dan walaupun saya sudah terbiasa dengan hal ini, saya cukup cerdas untuk menyadari betapa beruntungnya diri saya. Jadi, saya berkata sesekali, ‘Wah... berarti aku nggak usah berpikir tentang masak makan malam lagi, nih, terimakasih, ya!’ Dan itulah satu nasihat yang kita semua sepertinya perlu ikuti. ?
PAR 0308

 

Follow Us

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia