9 Langkah Bebas dari Jeratan “Sale” (Bagian 1)


 

Diskon memang selalu menyenangkan. Namun Anda tetap perlu setia dengan anggaran Anda.
 
Aji Mumpung
Kata “Sale” yang terpampang di berbagai etalase toko memang selalu menggoda. Tak jarang ini berujung pada anggaran yang membengkak. Bagaimana tidak, saat melihat sebuah baju bagus dengan keterangan diskon di labelnya, Anda bisa saja berpikir “Wah, mumpung diskon, nih. Kalau nggak dibeli sekarang, pasti nanti sudah nggak ada lagi.” Alhasil, baju tersebut pun masuk ke keranjang belanjaan Anda. Padahal, saat berangkat dari rumah, Anda hanya menganggarkan satu baju untuk masing-masing anggota keluarga.
 
Hal yang sama juga terjadi pada ragam benda lain, salah satunya adalah perabot rumah—yang sering diburu menjelang lebaran. Melihat sesuatu yang cocok dengan gaya rumah Anda sedikit saja, Anda langsung berkata, “Ini nih, pas banget buat ditaruh di meja makan. Mumpung ada dan murah.” Alhasil, barang yang bahkan tak niat Anda beli sebelumnya pun masuk ke dalam daftar belanjaan tambahan.
 
Kita bisa simpulkan, hal ini sebagai aji mumpung. Mumpung ada diskon, mumpung murah, mumpung ada uang THR, mumpung nemu yang cocok.
 
Antara Kebutuhan dan Keinginan
Lee Eisenberg, penulis buku Shoptimism: Why the American Consumer Will Keep on Buying No Matter mengatakan bahwa seseorang membeli sesuatu karena membutuhkan dan menginginkannya. Namun, dari penelusurannya selama tiga tahun, ia menemukan bahwa banyak di antara kita, orang-orang yang membeli tanpa membutuhkan dan menginginkannya.
 
“Ini tidak masuk akal. Namun, ya, ada pemasar yang pandai yang memberi kami alasan tak berujung untuk membeli,” ujarnya. Ia menambahkan, “jadi perlindungan terbaik kami terhadap pembelian yang tidak bijaksana adalah dengan mengetahui apa yang memengaruhi kami.”
 
Jaga Uang Anda
Agar tak termakan prinsip aji mumpung sale hingga anggaran membengkak, sebaiknya Anda bijak membelanjakan uang THR Anda. Ikuti 10 langkah yang dibagikan oleh Eisenberg berikut:
 

  • Jangan Biarkan Pengaturan Toko Menggoda Anda                                         

Pihak toko biasanya menggunakan strategi menarik indera Anda. Mereka menggunakan lampu halogen watt tinggi yang menyorot ke jam tangan, cincin, dan aksesori lain, meletakkannya di bawah, samping, dan atas, atau manekin bertubuh ramping mengenakan baju dagangan. Semua ini adalah atmosfer yang memikat Anda sehingga Anda bertahan lebih lama dan berbelanja lebih banyak.
 

  • Jangan Biarkan Toko Merusak Referensi Harga Anda

Pemasar sangat mahir mengacaukan harga referensi Anda, yakni harga yang Anda harapkan Anda bayar untuk mendapatkan sesuatu. Ambil contoh, harga yang ada di kepala Anda untuk membeli satu stoples kue kering adalah Rp120.000. Namun, ada satu stoples dengan ukuran lebih besar dan berisi lebih dari satu jenis kue kering harganya Rp170.000. Anda mungkin saja tertarik untuk membelinya, apalagi saat terburu-buru, Anda tidak sempat menghitung. Padahal, saat Anda meneliti lagi di rumah, harga tersebut jauh lebih mahal karena berat kue kering tiap jenis jauh lebih sedikit.
 

  • Kenali Diri Anda

Psikolog mengatakan bahwa ada dua kategori orang saat berbelanja, yakni mereka yang membeli karena dipengaruhi masalah status sosial, dan mereka yang membeli karena preferensinya sendiri. Maka, kenalilah diri Anda untuk tidak selalu mengikuti atau berusaha memenuhi status sosial sehingga membuat Anda membayar lebih.
 

  • Waspada Pada Label “Gratis”

Siapa sih, yang tidak tertarik pada label “Beli 1 Gratis 1”? Nah, agar tidak terjebak, perhatikanlah baik-baik label ini. Produk botol sirup seharga Rp20.000 bisa saja menggratiskan satu botol untuk setiap pembelian satu botol. Namun, di rak lain, sebetulnya ada produk sirup lain yang memberikan diskon 20% untuk sirup dari harga Rp12.000. Bila mau lebih teliti, Anda akan melewatkan selisih Rp800 lebih murah bila memilih yang “gratisan”.
 
Berlanjut ke 9 Langkah Bebas dari Jeratan “Sale”  (Bagian 2)
 
 
Baca juga:
6 Trik Lebih Hemat Belanja Baju Lebaran
Penyebab Boros Saat Lebaran
Cara Lain Mempercantik Rumah Jelang Lebaran
Apakah Baju Baru Lebaran Sebaiknya Dicuci Dulu?
 
 
(LELA LATIFA)
FOTO: UNSPLASH
 
 

 

Follow Us

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia