Bahaya Bila Terlalu Sering Mengancam Anak



 

Sudah pernah mendengar fungsi eksekutif, Ma? Fungsi eksekutif terletak di bagian depan lobus frontal yang berfungsi untuk membuat perencanaan, memusatkan konsentrasi, mengingat, menyelesaikan tugas dengan baik, memprioritaskan tugas, menetapkan tujuan, dan menyaring gangguan.

Sebagai orang tua, kita tentu mengharapkan anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, kan? Nah, untuk itu fungsi eksekutif anak sangat perlu dioptimalkan.

Ada berbagai stimulasi yang mampu mengoptimalkan fungsi eksekutif anak, salah satunya adalah dengan memberikan mereka kesempatan yang seluas-luasnya untuk membuat perencanaan sendiri, misalnya membuat jadwal harian, mengatur barang-barang mereka sendiri, atau menyiapkan perlengkapan sekolah. Aktivitas ini dapat mendorong mereka menentukan prioritas dan menetapkan tujuan juga. Di samping itu, ketika mereka sudah memiliki prioritas, mereka akan belajar untuk menyaring dan menghilangkan gangguan yang bisa merusak apa yang telah direncanakan sendiri, misalnya ajakan teman untuk bertanding game online tepat di jam belajar.

Di samping itu, sebagai orang tua, Anda juga perlu membiarkan anak-anak mencari solusi atas masalahnya sendiri. Jangan terlalu mudah untuk turun tangan bila anak-anak memang tidak meminta bantuan.

Pemerhati Pendidikan Anak, Damar Wijayanti, SIP., Dipl. Edu. Montessori, dalam acara peluncuran DANCOW FortiGro Instant baru dengan Omega 6 dan 2x kandungan minyak ikan lebih banyak dari formula sebelumnya, mengatakan bahwa untuk mengoptimalkan fungsi eksekutif anak diperlukan dua hal utama, yakni rasa aman dan nyaman. Oleh karenanya, orang tua harus selalu mampu memberikan dua hal ini pada anak-anak.

Damar menjelaskan bahwa salah satu hal yang dapat merusak fungsi eksekutif anak adalah kebiasaan mengancam mereka. Tanpa disadari, orang tua kerap melakukan ini pada anak-anak, misalnya saja dengan mengatakan, “Kalau kamu nggak belajar, Mama ambil mainan kamu.” Ia mengatakan, “hindari memberikan ancaman pada anak, memberi hukuman pada anak, misal menahan mainan, memburu-buru anak.” Damar mengingatkan, “kita saja yang orang dewasa kalau buru-buru karena terlambat, malah biasanya pasti ada saja yang ketinggalan. Itu karena fungsi eksekutif kita tidak bekerja baik saat terancam.”

Orang tua mungkin berniat memotivasi anak untuk belajar. Namun, cara yang digunakan kurang tepat. Cara tersebut justru bisa merusak kemampuan anak untuk menentukan prioritas, membuat perencanaan, atau menetapkan tujuan.

Damar juga mengatakan bahwa orang tua harus memahami karakteristik dan kebutuhan perkembangan psikososial anak-anak agar mampu memberikan rasa nyaman. Misalnya saja, mungkin ada anak yang karakternya aktif dan memiliki gaya belajar kinestetik, maka ia akan sulit bila dipaksa belajar dengan cara harus duduk terus-menerus. Ia tidak akan merasa nyaman sehingga fungsi eksekutifnya juga tidak berjalan baik.


Baca juga:

Dampak Negatif Mengancam Anak

Cara Hindari Mengancam Anak

Hati-hati mengancam anak

 

(LELA LATIFA)

FOTO: FREEPIK

 





Video

The Power Duo Business + Parenthood


Polling

Bahaya Bila Terlalu Sering Mengancam Anak

Follow Us

angket

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia