Berkomunikasi dengan Anak Berkebutuhan Khusus

Seringkali orang tua gelisah ketika anaknya tidak bisa berkomunikasi seperti layaknya anak seusia mereka.

Orang tua lalu mencari segala cara untuk membuat anaknya bisa lancar bicara. Padahal, komunikasi tidak sama dengan bicara. Komunikasi tidak harus dengan verbal, karena tidak semua anak bisa berkomunikas dengan verbal.

Anak-anak yang non verbal bisa diajarkan untuk berkomunikasi dengan banyak cara. PECS atau Picture Exchange Communication sistem adalah salah satu cara berkomunikasi untuk anak non verbal. Mereka berkomunikas dengan cara menunjukkan gambar pada kartu-kartu. Kartu ini dapat dibeli di tempat terapi anak-anak berkebutuhan khusus (ABK).

Andre anak saya juga dulu sangat sulit berkomunikasi. Ketika umurnya 1,5 tahun, setelah kejang pertama, Andre tiba-tiba mulai berhenti memanggil saya “Mama”, dan mulai malas bicara.

Setiap kali ingin sesuatu, dia akan menarik tangan saya, dan mendorong saya ke tempat benda yang dia maksud. Atau, kalau tidak, dia akan menangis dan merengek jika saya tidak mengerti apa yang dia maksud.

Jadinya saya hanya menebak-nebak sambil nanya apa yang dia mau. Saya bertanya, “Yang ini?” Dia menggeleng*. “Yang ini?” menggeleng lagi. Dengan nada pasrah, dan setengah putus asa saya nanya, “Yang Ini!" Dan dia pun menangis mengamuk karena stres dan putus asa.

Andre pun jadi kewalahan karena mamanya tidak mengerti apa yang dia inginkan. Saya juga ikut bingung. Jadilah kami berdua, Mama dan anak yang putus asa dan saling menyalurkan energi negatif satu sama lain.

Kebayang nggak sih, bagaimana jadinya dua orang stres di bawah satu atap? Rumahnya jadi kerasa panas dan tidak nyaman bukan? Untungnya saya dikaruniai segudang sabar. Ketika Andre sudah begitu, saya peluk sambil menenangkan dirinya dengan mengusap-usap punggungnya, dan mendekatkan telinganya ke dada saya.

Usapan pada punggungnya akan memberi rasa nyaman yang bisa menenangkan dan bunyi jantung mamanya akan terasa seperti musik menenangkan, yang sama seperti irama yang sering dia dengar pada saat masih dalam kandungan.

Andre sampai usia 4 tahun tidak bisa bicara seperti layaknya anak normal seusianya. Dari mulutnya hanya keluar bunyi-bunyian yang hanya dia dan Tuhan yang mengerti maksudnya.

Setelah terapi sampai usia empat tahun, dokter menyarankan untuk masuk sekolah biasa supaya bisa belajar berkomunikasi seperti anak normal lainnya.

Akhirnya saya mendaftarkan Andre ke salah satu sekolah di dekat rumah saya, tanpa menceritakan kekurangan Andre karena saya percaya anak saya pasti bisa seperti anak lainnya.

Tak tahunya, baru 4 hari sekolah, saya udah dipanggil kepala sekolah. Saya diinfokan bahwa Andre tidak bisa meneruskan belajar di sekolah tersebut, karena Andre dianggap mengganggu aktivitas belajar mengajar.

Andre sering ngamuk di kelas, dan melempar gurunya dengan sepatu. Saya sempat sedih luar biasa saat itu, kebayang bagaimana SD, SMP, SMA kelak, jika masih TK saja, anak saya udah diusir dari sekolah.

Saat saya sedih dan menangis, saya kembali diingatkan bahwa Tuhan itu Arsitek yang Agung, karyanya tidak pernah salah. Jadi ketika Tuhan menciptakan anak yang punya kekurangan, Tuhan juga tidak lupa menitipkan kelebihan pada anak itu.

Tugas kitalah orangtua untuk mencari apa kelebihan anak kita, dan membantunya memaksimalkan kelebihannya, menjadi bekal buat dia kelak ketika dewasa.

Andre sekarang bisa berkomunikasi, setelah semua bahasa saya ganti ke bahasa Inggris. Bahkan Andre hanya mau berkomunikasi dalam bahasa Inggris, entah kenapa, dan agak sulit belajar bahasa Indonesia.

Ma, jangan memaksakan anak kita untuk harus bisa berkomunikasi secara verbal. Usaha memang tetap harus dilakukan, tetapi “bicara” jangan menjadi target utama yang harus dicapai anak. Komunikasi tidak harus bicara.

Zaman sekarang sudah ada banyak sekali sarana untuk mengajarkan anak berkomunikasi. SMS salah satunya. Ajarkan anak berkomunikasi dengan SMS, akan sangat membantu dia mengungkapkan apa yang dia inginkan. Atau, dengan bahasa isyarat jika sulit menemukan handphone yang bisa membantu anak berkomunikasi.

Jangan putus asa ya, Ma, tetaplah bersuka, because we are the chosen one.

Artikel Blog Mama
Penulis: Just Silly
Mama 3 dari Aurelia Prinisha,  Andre Vivaldi dan Adrian Hroshi Putra ini adalah social activist yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Mama bernama lengkap Valencia Mieke Randa ini punya segudang aktivitas sosial, mulai Blood4Life, 3LittleAngels dan #LittleStep

 

Follow Us

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia