Menanti adik baru

Mengajak anak berdiskusi tentang bakal adik baru?  Harus lho, karena hal itu penting untuk menghindarkan dia dari rasa jealous berlebihan yang membuat kehadiran si adik seolah terasa sebagai “musuh”.  Jadi, meskipun di saat mengandung mama mengalami berbagai perubahan fisik atau emosi, jangan lupa untuk tetap memberi perhatian pada si kakak. Begitu pula setelah si adik lahir. Perlu ada upaya khusus agar perasaan si kakak tetap nyaman, walau di rumah sudah hadir anggota keluarga baru.

Hefrida Hanif, ibu dari Erqhan Farrel Raspati (4 tahun) dan Raditya Daryl Raspati (1 tahun 7 bulan), Cideng, Jakarta Barat
“Saat hamil Daryl, anak kedua, reaksi si sulung Farrel biasa saja. Dia hanya sering menanyakan, ‘Kenapa perut Mama kok, makin besar?’ Saya jelaskan bahwa di dalam perut Mama ada adiknya. Kadang-kadang dia suka mencium dan mengusap-usap perut saya. Tapi namanya anak-anak, setelah itu ya dia cuek bermain lagi. Setelah Daryl lahir, Farrel baik-baik saja dan tidak pernah terlihat ingin mengganggu adiknya. Malah kalau adiknya sedang tidur, dia suka ikut menjaga. Kalau adiknya bergerak, dia suka menepuk-nepuk pantat adiknya dengan pelan supaya tertidur lagi.
Sekarang setelah Daryl berumur 1 tahun lebih, mulai deh, sesekali mereka terlibat ‘perang’. Maklum, sama-sama anak laki-laki. Jadi ya senangnya berantem. Mulai dari rebutan mainan, rebutan Mama-Papa, dan lain-lain. Si adik juga terlihat lebih jahil dari kakaknya. Kalau kakaknya sedang nonton TV, adiknya sering mematikan terus kabur, dan terjadilah ‘perang’ seru di antara mereka, haha....”

Evelina Savitri, ibu dari Rafi Renardi Sugiono (4 tahun) dan Raissa Revalina Sugiono (9 bulan), Pangkalan Jati, Jakarta Selatan
“Sebelum saya hamil, jika Rafi ditanya, ‘Mau punya adik atau tidak?’ Jawabannya pasti, ‘Tidak mau’. Ketika saya hamil, awalnya Rafi agak bingung. Namun seiring berjalannya waktu, dan perut terus membesar, Rafi mulai mengerti bahwa di dalam perut saya ada adiknya. Bila orang bertanya dia mau adik laki-laki atau perempuan, jawab Rafi pasti ‘Perempuan, karena kalau laki-laki nanti rebutan mainan’. Hanya kadang-kadang saja selama masa kehamilan Rafi ngambek. Itu terjadi kalau dia mengajak bermain dan saya tolak karena capek. Tapi ketika adiknya, Icha, lahir, dia senang bukan main karena adiknya itu perempuan. Mungkin karena jarak usia antara Rafi dan Icha 4 tahun, Rafi sudah bisa memberi perhatian besar untuk adiknya. Kalau Icha menangis, dia buru-buru mendekati dan bilang, ‘Icha kenapa? Jangan nangis dong, kan ada aku’. Atau, kalau kami pergi ke toko mainan, Rafi akan bilang ‘Ma, belikan Barbie dong, buat Icha, biar Icha senang. Kan anak perempuan mainnya Barbie’.”

Fenny Damayanti, ibu dari Naira Ayu Aulia (6 tahun) dan Shahira Maretti (11 bulan), Bandung “Waktu tahu di perut ambu (mama)-nya ada adik, Naira terlihat senang. Katanya, dia bakal punya teman bermain. Naira selalu bilang dia ingin punya adik laki-laki, dan kalau ditanya kenapa, jawabnya, ‘Biar beda aja’. Ketika tiba saat melahirkan, dan saya harus ke rumah sakit, Naira terlihat sedih dan agak takut. Mungkin dia tak terbiasa tidur sendiri. Tapi setelah dibujuk-bujuk oleh nini (nenek) nya, sedih dan takutnya tampak berkurang. Ketika adiknya ternyata perempuan, saya menelepon ke rumah dan mengabarkan hal itu pada Naira. Dia menjawab spontan, ‘Nggak apa-apa ambu, kan nanti ambu bisa hamil lagi dan melahirkan adik cowok.’ Naira tidak sabar menunggu saat menjemput ambu dan adiknya dari rumah sakit. Dia bilang ingin cepat-cepat melihat wajah adiknya seperti apa. Naira juga selalu berusaha membantu mengurus adiknya mulai dari memandikan, menyuapi, menemani bermain, atau menemani kalau abah dan ambu-nya ada kegiatan lain di rumah atau di luar rumah. ‘Aku suka sekali mengajak adik bermain. Pokoknya, Naira akan jaga dan sayangi adik, deh’.”

Dina Agustin Wulandari, ibu dari Yasmin Kania Fatiha (3 tahun) dan Muhamad Salman Ahady (1 tahun 3 bulan ), Cibinong
“Setelah kelahiran Salman, adiknya, setiap kali ditanya, ‘Kaka senang nggak punya dede?’ Yasmin akan mengangguk pasti, ‘He-eh, dede gotak (botak) lucu.’ Tapi, sejak itu pula Yasmin jadi makin rewel dan manja. Sebentar-sebentar dia minta digendong. Kalau malam dia juga jadi suka ngompol lagi, padahal sebetulnya dia sudah bisa bilang kalau mau pipis. Ampun deh, sepertinya apa yang sudah diajarkan ayah-ibunya dilupakan begitu saja. Dia juga jadi suka ngambek dan marah sama ayah dan ibunya. Seringkali dia teriak-teriak dengan mengeluarkan suara seperti bayi meski sudah bisa bicara. Syukurlah setelah Salman lebih besar (sekarang 12 bulan) dan sudah bisa diajak bermain, Yasmin dan dede-nya menjadi lebih kompak kalau main bersama, walau kadang-kadang masih berantem juga, sih.  Yang pasti, rumah jadi kian gampang berantakan karena ‘penjahat’nya jadi 2 orang. “

Sayidati Alwiyah, ibu dari Bintang Nuralief Sudibyo (3 tahun)  dan Shafiyya Alkhansa Sudibyo (2 bulan), Kalibata, Jakarta Selatan  
“Sewaktu saya hamil Khansa, Bintang terlihat senang dan suka mengelus-elus perut saya. Dia pun sering sekali bertanya tentang “isi” perut mamanya. Waktu dijelaskan bahwa dede bayi akan menjadi adiknya, Bintang terlihat masih agak bingung dan mengangguk-angguk saja. Namun, saat Khansa pulang dari Rumah Sakit dan tiba di rumah, dia terlihat sedih dan bilang, sekarang tak ada yang sayang lagi sama dia. Duh Mas Bintang, semua  sayang kamu, termasuk dede Khansa. Kalian berdua adalah harta yang tak ternilai dalam kehidupan Ibu dan Ayah....”

Dyah Kristiani, ibu dari Ajeng Sula (2 tahun 3 bulan ), Depok
“Saat ini aku tengah hamil muda, dan aku sudah memberi tahu Ajeng bahwa nanti dia akan punya adik. Setelah mulai mengidam, selalu teler dan tak bisa mengajak dia bermain, aku memberi tahu dia, ‘Ibu sakit karena Ajeng mau punya adik’. Untung dia mengerti dan lalu bermain sama bapaknya, meski biasanya dia selalu menempel padaku. Tapi setelah kehamilanku makin besar dan aku sudah tak mengidam lagi, pulang kantor juga sudah nggak teler lagi, kalau aku duduk nonton TV atau bermain sama dia, dia malah menarik-narik aku, menyuruhku ke kamar sambil bilang, ‘Ibu bobo saja, sakit.’ Ajeng juga sering memintaku buka baju untuk melihat calon adiknya dan setelah itu mencium-cium perutku sambil mengelus-elus. Kadang-kadang dia mengelus perutku sambil bicara, ‘Dik, ini Mbak Ajeng’ (tangan yang lain menunjuk ke dadanya). Bila malam sebelum tidur kami berdoa, dan aku lupa belum berdoa untuk adik bayi, dia akan minta agar doa kami diulang. Sepertinya dia sudah sangat paham bakal punya adik dan jadi kakak. Sampai sekarang dia nggak rewel, meski banyak orang bertanya: Ajeng rewel, nggak? Anak biasanya suka rewel kalau mau punya adik. Tapi Ajeng tidak. Entah nanti kalau adiknya sudah lahir, semoga dia juga nggak jealous..."

Wajar saja jika anak punya perasaan sedih atau bahagia ketika menyambut kedatangan adik baru. Yang jelas, tugas mama dan papa serta keluarga terdekatlah untuk memberi pengertian bahwa punya saudara adalah sebuah kebahagiaan. Jelaskan pada si kakak, adik bayi pun akan merasa sangat beruntung karena mempunyai kakak yang hebat seperti dia.

Agar Kakak Tak Iri Hati
Berikut saran Arlene Eisenberg, Heidi E. Murkoff, dan Sandee E. Hathaway, dalam buku mereka What to Expect the Toddler Years, untuk mempersiapkan kakak menyambut kedatangan adik barunya.
Biarkan dia ‘caper’ (cari perhatian), menangis, bermanja-manja di pangkuan Anda, atau mengisap ibu jari sambil bawa-bawa selimut. Bahkan, ijinkan kalau dia mau ngedot lagi atau malah nenen lagi. Kalau Anda bersikap memaklumi, lama-lama pasti dia sendiri yang merasa tak nyaman bertingkah seperti itu.
Puji dia kalau bersikap seperti anak besar. Ingatkan dia keuntungan jadi anak yang sudah besar, seperti bisa memakai baju sendiri, bisa naik ayunan, atau bisa main puzzle. Sesuatu yang tidak/belum bisa dilakukan oleh adik bayi.
Jangan dimarahi kalau dia menunjukkan rasa tak senang pada si bayi.
Dorong dia untuk mengungkapkan perasaannya secara positif. Mungkin Anda bisa memberinya krayon dan kertas agar dia bisa menggambarkan perasaannya kalau memang kata-kata dirasa tak cukup.
Beri perhatian yang dia butuhkan. Biasanya anak bikin ulah karena melihat perhatian ekstra yang Anda berikan pada adiknya. Jadi, usahakan agar Anda tetap melimpahinya dengan perhatian sebelum dia marah atau menangis.     Ingat lho, sebetulnya kebutuhan bayi lebih mudah dipenuhi daripada kebutuhan batita. Sementara orangtua biasanya justru cenderung mengabaikan si kakak ketika sudah ada si adik.
Libatkan dia. Beri dia tugas yang bisa dia lakukan, misalnya mengajak bercanda si bayi, tentunya ketika si bayi tak sedang rewel. Biarkan dia membantu menyodorkan tissu ketika Anda mengganti popok, atau ajak dia mener- jemahkan ocehan adiknya, “Menurutmu, adik bicara apa?”
Minimalkan perubahan dalam keseharian dia. Usahakan agar rutinitas kesehariannya tak terganggu oleh kehadiran adiknya. Kalau Anda biasa menemaninya saat bangun tidur dan memeluknya selama 5 menit, tetap lakukan hal yang sama. Begitu pun kalau Anda yang biasa membacakannya cerita sebelum tidur, jangan sampai dia kehilangan saat-saat tersebut gara-gara Anda terlalu sibuk dengan adiknya.

PAR 0207

 

Follow Us

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia