Redam Rasa Bersalah Ibu Bekerja

Ada rasa berat untuk melangkahkan kaki saat mama melambaikan tangan kepada anak di pagi hari. Diikuti dengan setumpuk rasa bersalah karena meninggalkannya.

Psikolog Anna Surti Ariani, S.Psi M.Psi mengatakan, “Rasa bersalah adalah salah satu emosi unik yang bisa mengingatkan seseorang bahwa dirinya perlu berbuat lebih baik bagi orang atau hal yang jadi sumber rasa bersalahnya.” Ibarat rem, rasa bersalah perlu ada untuk mengontrol diri kita. Kita tetap perlu mengendalikan rasa bersalah itu agar jangan sampai menghambat performa kerja di kantor, dan tidak membuat pengasuhan kita justru merugikan anak.

Ada kalanya rasa bersalah juga merupakan sinyal peringatan untuk membuat perubahan dalam hidup kita. Apakah Anda kurang puas dengan pengasuh anak? Apakah tuntutan di kantor semakin besar dan membuat Anda sulit menyeimbangkan dengan urusan di rumah? Pertimbangan seperti ini dapat membantu Anda membuar rencana yang lebih baik di masa yang akan datang.

Nah, bila Anda merasakan ada terselip rasa bersalah di dalam hati saat meninggalkan anak ke kantor, beberapa daftar di bawah ini mungkin dapat membantu:

- Tulis alasan Anda memilih untuk bekerja. Setiap orang memiliki alasan yang berbeda-beda. Misalnya, ada mama bekerja karena ia memang mencintai pekerjaannya. Ada pula mama yang ‘harus’ bekerja untuk alasan finansial.

Di sisi lain, ada kelompok mama yang sadar bahwa ia tidak akan menjadi orang yang bahagia jika sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga saja, dan kemudian membuat anak-anak juga tidak bahagia. Tulislah motivasi Anda, Ma. Begitu anda merasa yakin pada pilihan Anda, jauh lebih mudah untuk melepaskan rasa bersalah yang muncul. Percayalah pada diri sendiri dan pilihan yang Anda buat untuk keluarga.

- Hindari orang-orang yang membuat Anda merasa bersalah Saya menghindari mommy war. Bagi saya tujuan mommy war cukup jelas; Mengulik rasa bersalah pihak lawan. Sungguh sayang jika energi yang bisa kita salurkan untuk menemani anak-anak bermain, atau menyelesaikan proyek menantang di kantor, terbuang percuma karena merasa kesal, terpojokkan, atau bahkan merasa bersalah. Sadari bahwa setiap orang membuat pilihan karena alasan yang berbeda, dari situasi yang berbeda-beda pula.

Alasan seorang mama untuk bekerja tidak harus dapat diterapkan juga pada mama yang lain. Ingat juga bahwa skala prioritas setiap orang di setiap waktu berbeda-beda. Suatu ketika Nala sakit, batuk pilek dan sedikit demam. Karena situasinya terkendali, saya tetap berangkat bekerja. Lain waktu, ia diare dan muntah-muntah. Saya memilih untuk cuti dan mengamati perkembangan kondisinya. Jadi, ada kalanya, meski Anda meninggalkan anak sakit di rumah. Anda bukanlah mama yang buruk.

- Ambil cuti. Satu hari off dari tugas kantor untuk menghabiskan waktu bersama anak, dan setelahnya, Anda akan reconnect kembali dengan keseharian, selera makan, dan kepribadian anak-anak. Anak pun akan menghargai waktu istimewa bersama mamanya. Jika anak masih batita, Anda bisa memandikannya sambil memeriksa kebersihan tubuhnya, ikut serta dalam rutinitas makan, tidur siang dan bermain bersamanya.

Jika anak sudah lebih besar, biarkan ia memilih apa yang ingin ia lakukan bersama Anda, mumpung mamanya sedang menjadi miliknya seharian. Anda juga dapat mengambil kesempatan ini untuk menilai, apakah Anda akan lebih bahagia jika bekerja lebih sedikit, atau justru tidak bekerja sama sekali. Kemungkinan besar Anda dapat kembali meyakinkan diri atas pilihan yang sudah Anda buat.

- Ingatlah bahwa semua mama punya tantangan. Pada hari-hari di mana pertunjukan kelas anak dan sebuah rapat penting muncul di hari yang sama dalam agenda, mudah sekali membayangkan hidup yang ideal dan mudah jika Anda adalah ibu rumah tangga penuh waktu. Kenyataannya, mama yang memilih tinggal di rumah juga bisa mengalami stres yang sama besarnya dengan ibu bekerja, atau bahkan lebih, tergantung pada usia anak, jumlah anak, dan temperamen setiap anak.

- Tidak semua ada dalam kendali Anda. Ada rapat yang molor, perjalanan dinas yang tak bisa ditunda, langkah pertama anak yang terlewat oleh Anda. Mama boleh sedih sedikit, namun jangan lupakan bahwa selama seminggu ini Anda selalu sempat sarapan dan ngobrol bersama anak-anak sebelum mereka berangkat sekolah. Intinya, syukuri segala bentuk kebersamaan dengan anak.

- Ingatlah bahwa hidup bisa berubah Pilihan yang mama buat untuk bekerja tampaknya akan terjadi selamanya sekarang, tapi siapa yang tahu masa depan? Barangkali suami akan melanjutkan pendidikannya di luar negeri mengajak keluarga dan mama bisa merasakan jadi stay at home mom.

Tetaplah terbuka pada berbagai kemungkinan dalam dinamika keluarga dan diri Anda sendiri. Merefleksikan keseimbangan antara pekerjaan dan hidup secara berkala akan membuat Anda yakin bahwa pilihan Anda adalah untuk memenuhi kebutuhan keluarga.