Tren Implan Vagina, Siapa yang Memerlukan?


Implan vagina biasanya dijalani oleh para perempuan di Eropa dan Amerika Utara. Tujuannya untuk mengatasi kesulitan mengontrol urin pasca melahirkan dan otot-otot di sekitar panggul yang melemah (pelvic organ prolapse).

Prolapse ini menyebabkan organ-organ menyelip keluar dari posisi awalnya sehingga organ rahim, kandung kemih atau dubur menjadi turun. Kondisi seperti ini semakin lama tentu akan menyebabkan gejala yang berbahaya jika tidak diobati pada waktunya.

Perempuan yang mengalami prolapse terkadang tidak bisa mengontrol ketika melakukan buang air kecil, dan juga merasakan nyeri ketika berhubungan seksual. Implan vagina tidak hanya bagi perempuan yang mengalami prolapse saja. Namun perempuan yang menderita sindrom Mayer-Rokitansky-Küster-Hauser (MRKH) atau terlahir tanpa vagina yang tidak berkembang  tentu sangat sulit mengalami pengalaman seksual secara normal, tidak mengalami menstruasi dan tidak dapat bereproduksi secara alami.

Dr. Anthony Atala, Direktur dari the Wake Forest Institute for Regenerative Medicine bersama timnya telah bekerja mengembangkan sel vagina di laboratorium selama 25 tahun. Pada studi ini Dr. Atala bersama tim merekrut 4 perempuan usia remaja yang menderita MRKH untuk operasi penanaman implan vagina.

Studi ini dilakukan antara Juni 2005 sampai Oktober 2008. Selama 8 tahun setelah prosedur implan dilakukan, setiap perempuan dimonitor secara ketat untuk mendeteksi adanya komplikasi dan menjalani berbagai tes untuk memastikan semua berjalan dengan baik. Implan vagina ini merupakan  pertama kalinya yang dikembangkan di luar tubuh dan berhasil diterapkan untuk mengobati kondisi medis langka yang menyedihkan yang dikenal dengan sindrom Mayer-Rokitansky-Küster-Hauser.

Baca juga:
Amankah Perawatan untuk Vagina?
Ancaman Tersembunyi di Balik Implan Payudara

Bagi perempuan yang mengalami sindrom MRKH implan vagina tentu sangat membantu, karena setelah melakukan implan vagina mereka memiliki tingkat hasrat, gairah, lubrikasi, orgasme dan kepuasan yang normal dan dapat berhubungan seksual tanpa rasa sakit.

Namun menurut penelitian yang dipublikasikan di laman The Lancet, perempuan yang baru saja melahirkan dan menjalani implan vagina berpotensi mengalami komplikasi tiga kali lebih tinggi dan berpotensi dua kali lipat mengalami operasi setelah pemasangan implan dibandingkan dengan melakukan operasi tradisional tanpa implan.

Komplikasi yang dialami oleh mereka seperti perasaan ingin buang air terus menerus, infeksi dan rasa sakit berkepanjangan. Dikutip dari laman Guardian, Rachel Wood seorang peneliti dari Badan Kesehatan Skotlandia, tidak merekomendasikan penggunaan implan vagina untuk mengatasi masalah otot panggul yang melemah pasca. (Irma Purnamasari)

 





Follow Us

angket

Most Popular

Instagram Newsfeed

@parentingindonesia